Menu
/


www.momsinstitute.com - 21 Alasan Jangan Jadi Penulis Jika Masalah Masih Ada Pada Dirimu. Menjadi penulis menjadi impian semua orang. Walau semua orang itu bisa jadi penulis namun tidak semua orang juga yang dapat mewujudkannya. Kenapa? Karena setelah belajar atau menyelami dunia tulis menulis mereka tidak mampu membuang segala masalah yang menempel pada dirinya. Coba saja pikirkan, ketika kita ingin sesuatu tanpa mau usaha dan berkorban maka hasilnya bisa tidak maksimal atau juga bisa hilang kesempatan.



Moms, ada yang sudah ikut kursus nulis A,B,C, D,E? Baik kursus online atau offline namun hasilnya tidak ada satu karya pun yang diterbitkan. Ada juga yang mulai mengetik naskah namun hanya jadi naskah yang berdebu dalam folder-folder yang tak lagi disentuh. Coba tanyakan kenapa? Jika karena kesibukan? Waktu 24 jam terasa kurang? Semua pasti juga sama. Namun, hanya ketekunan dan setia pada naskahlah yang akhirnya membuat seseorang bisa menyelesaikan naskah impiannya. Setuju?


21 Alasan Jangan Jadi Penulis Jika Masalah Masih Ada Pada Dirimu: 



  1. Orang Paling Sibuk

    Kalau pernah lihat seorang yang punya jam terbang tinggi,satu di negara A, lima jam berikutnya di negara B. Ada juga orang yang menghabiskan waktu 5 jam hanya tiduran saja. Ada juga yang 5jam ini dipakai kerja, dibuat waktu belajar, dan lainnya. Sesibuk apapun usahakanlah menulis jika itu adalah pilihan.
  2. Pusing dengan teknik kepenulisan

    Mau nulis nggak maju-maju. Di depan laptop hanya layar putih yang tak pernah terisi huruf-huruf. Nulis dibuku kok jari tak bergerak-gerak. Memang teknik menulis supaya cepat dan lancar bisa dipelajari. Caranya bisa dengan beli buku tentang kepenulisan,baca artikel atau ikutan kelas pelatihan.

    Baca juga : Belajar Menulis Online 
  3. Tak punya smartphone canggih

    Jika harus punya smartphone canggih baru ngetik, cobalah lihat Indah Tinumbia yang berjuang menulis dari handphone jadulnya. Search saja ya, cari namanya dan temukan inspirasi dari penulisnya.

  4. Tak punya laptop

    Kalau tak punya laptop bagaimana? Inilah yang langsung ingin hidup dengan semua fasilitas enak. Nggak ada laptop  ya berarti nulis dibuku. Nggak ada juga ya, ke warnet. Fokusnya bukan di laptop,tetapi ingin menulis dan ingin membuktikan karya tersebut sampai terbit.


    by pixabay

    1. Urus anak 1, 2,3,4, 5, dst

      Anak satu itu  repot nempel terus, anak dua itu repot nggak mau ngalah dua-duanya ingin diperhatikan, anak tiga itu repot juga capek jagain mereka seharian. Ditambah lagi urusan domestik yang nggak rapi-rapi. Inilah management waktu yang belum bisa kita atasi sendiri. Penulis yang punya anak 1, ada. Penulis yang punya anak dua, ada. Penulis yang punya anak 3, juga ada. Bagaimana management waktu mereka? Ya, mereka punya waktu khusus sekalipun sehari lima menit untuk menulis. Cobalah tanyakan kepada mereka koentji Soekses mereka.

      Baca juga : Bikin Jadwal Menulis
    2. Pekerjaan yang menyita

      Yang kerja, lembur terus. Yang mahasiswa tugas menumpuk. Yang ibu rumahtangga sibuk. Artinya memang  orang-orang yang punya pekerjaan. Coba bayangkan jika seharian tidak ada aktivitas, tiduran saja, hidup tidak punya kesibukan, hidup tidak punya tujuan, akan santaaai. Mana ada ketemu deadline? Apalagi icip gaji lemburan. Yuk,syukuri pekerjaan yang super sibuk  dan menyita. Sempatkan baca buku selembar dan nulis sebaris.
    3. Tidak punya buku referensi 

      Nulis macet, nggak punya buku referensi untuk cari inspirasi. Akhirnya naskah nggak kelar-kelar deh! Ada yang seperti ini? Kalau ada coba kenalan sama book playstore yang bisa pinjam buku secara gratisan, walau bentuknya ebook tapi bisa untuk baca-baca.
    4. Pasangan/keluarga yang tidak mendukung

      Suami saya kalau saya buka laptop, wajahnya cemberut. Istri saya kalau saya mau ngetik mukanya ditekuk. Anak saya baru mau ngetik sudah teriak-teriak, belum juga ngetik sudah disabotase. Laptop sudah diambil. Apapun dramanya, coba cari jam ngetik yang bersembunyi-sembunyi. Mau malam hari, dini hari, waktu yang nyaman tanpa ada gangguan. Kalau perlu bikin kesepakatan sama pasangan kalau lagi ngetik jaga anak gantian :).
    5. Mau ngetik mata langsung ngantuk

      Ada yang sudah semua siap, listrik on,laptop nyala, anak-anak tidur, suami lembur, istri arisan, rumah sepi, mau ngetik tetapi mata langsung minta jatahnya istirahat. Istirahatlah, jangan sampai ngetik sambil nahan  ngantuk-ngantuk. Pasang alarm jika takut kebablasan.
    6. Mau ngetik tenaga langsung hilang, capek.

      Biasanya mama-mama anak banyak,baru selesai pekerjaan. Mau ngetik badan terasa lemas. Ini bisa istirahat dahulu, makan dahulu agar bertenaga.
    7. Hidup di desa atau kota 

      Ada yang merasa jadi penulisberkasta, merasa hidup di desa susah signal, susah akses apapun. Susah ini itu,susah perpus, susah informasi,dll. Menulislah terus jangan merasa malu karena ada orang kota, Semua manusia itu sama.
    8. Nggak bisa nulis yang bagus

      Ini penyakit penulis pemula. Kalau penulis profesional pastinya tulisannya sudah bagus-bagus,kan. Jadi nulis itu butuh proses,butuh kegigihan agar semakin hari tulisan semakin cantik juga. Nggak ada bayi yang lahir langsung jago nulis, sekalipun ibu bapaknya penulis. Ada tahapannya, belajar kenal huruf dahulu, lalu belajar baca dan menulis cerita.
    9. Bingung kapan waktu nulisnya

      Kok si anu nulis terus? Nggak sibuk kayaknya ya? Memang bagun tidur langsung nulis, sampai mau tidur juga masih nulis. Hmmmm.... ini mungkin satu sampai 3 orang saja. Sisanya adalah penulis yang punya kesibukan lain. Jika semua hidup penulis itu enak nggak pakai ribet dan hanya menulis saja, kemudian uang datang sendiri. Sepertinya penulis menjadi profesi yang diminati banyak orang.
    10. Cari ide susah

      Ide memang susah dicari, tetapi mudah bagi siapa saja yang dapat inspirasi. Asal terus mengasah kreativitas menulis, semua ide akan datang dengan cara tersendiri dan unik.

      Baca juga : Cari 101 Ide Menulis 
    11. Bikin Judul Sulit

      Iya, nggak masalah bikin judul itu sulit. Terkadang penerbit mengganti judul yang dari penulisnya. Karena judul buku itu juga untuk terbit butuh riset pasar agar menarik dan best seller. Jadi mari kita kerja tim dengan penerbit.
    12. Nulis  sebarispun sulit

      Nulis sebarispun sulit, ini bagi yang setiap kata dipikirkan. Padahal menulis itu bisa juga dibawa ringan, seperti menulis semudah curhat. Yuk,curhat.
    13. Nulis satu pragraf, encok kumat

      Ada yang seperti ini? Encok cekot-cekot, pinggang, tangan, tak apalah namanya juga perjuangan. Disarankan hubungi dokter mungkin saatnya periksa kesehatan.
    14. Nulis satu halaman keringat dingin

      Nulis satu halaman keringat dingin? Ada, ya pasti ada. Telapak tangannya basah juga ada. Mungkin setiap naskahnya memang perlu pemikiran yang berat.
    15. Nulis 10 halaman pingsan 

      Nulis 10 halaman pingsan, ada. Ya, kalau nggak terbiasa pasti kayak gini. Dulu pernah dapat tugas dari guru SMA untuk tugas akhir yaitu menulis ulang buku cacatan selama setahun ke buku baru agar rapi dan fresh. Nyatanya,nggak semua siswa mampu. Nah, yang pingsanpun dibawa ke UKS.
    16. Nulis 20 halaman migrain

      Ada yang nulis 20 halaman migran, bisa jadi ini para mahasiswa yang ngejar skripsi. Semoga saja bukan penulis pemula ya.
    17. Atau menulis memang bukan passion saya.


      Menulis bukan passion saya, jadi mau satu,dua, tiga kalimat pun tidak bisa disulamnya. Jangan dipaksakan jika memang berat. Biar Dilan aja yang nanggung. 
    Coba renungkan dari 21 alasan di atas mungkin ada yang pas dengan keadaan diri sendiri. Jika sudah seperti ini sebaiknya tanya baik-baik dalam hati, 

    "Apakah memang menulis itu gairah hidup saya?" 
    "Apakah menulis itu bikin rindu?"
    "Apakah menulis itu selalu membuat candu?"
    "Apakah menulis itu membuat rileks?"
    "Apakah menulis itu membuat hati tenang?"
    "Apakah dengan menulis pikiran pun jadi senang?"
    "Apakah dengan menulis menambah kecantikan dan kegantengan?"
    "Apakah dengan menulis membuat diri ini bahagia?"


    Ya, menulis untuk bahagia. Menulis bukanlah beban, bikin Anda keringetan, kesemutan, migrain apalagi pingsan. Menulis untuk bahagia, karena sejatinya Anda akan berbagi dengan pembaca, berbagi ilmu, membangun jembatan ilmu, dan mengikat ilmu.


    21 Alasan Jangan Jadi Penulis Jika Masalah Masih Ada Pada Dirimu untuk bahan perenungan. Semoga memantapkan pilihan menjadi penulis. Share yuk apa saja alasan yang menghambat dalam menulis, mau menulis blog atau menulis naskah karena setiap orang kecepatan menulisnya berbeda-beda, namun kecintaan pada dunia menulis haruslah tetap ada setiap harinya.


    Salam Menulis

    8 comments

    Semua masalah pada diri sendiri maka penyelesaiannya pun harus dari diri sendiri ya.

    Reply

    Duh, ada di sana semua alasannya, laptop, management waktu dan ternyata nulis itu juga susah.

    Reply

    Semoga bisa manage waktu karena dari sanalah jadwal menulis itu dimulai.

    Reply

    Mama-mama selalu repot,rumah, anak-anak, serta me time yang akhirnya tak pernah terwujud.

    Reply

    Setuju, semoga bisa membuat yang terbaik ya untuk diri sendiri dan keluarga.

    Reply

    Semoga ada jalan mudah menggapai segala cita.

    Reply

    Setuju sekali, manage waktu yang hebat bisa optimalkan aktivitas.

    Reply

    Semoga me timenya terwujud ya, agar bisa membuat rancangan impian.

    Reply

    Powered by Blogger.