Menu
/

www.MomsInstitute.com - Jika bertanya tentang cinta, setiap manusia punya rasa yang berbeda dan punya kisah yang berbeda pula. Cinta yang memberi warna pada kehidupan dua hati. Berikut ini kisah yang perjalanan cinta yang penuh kebahagiaan dan juga ada genangan hangat di sudut mata. Ada satu hal yang selalu diingat bahwa cinta itu menguatkan. Simak goresan cinta dari para penulis buku Perjalanan Cinta 

PERJALANAN CINTA 


Dongeng First Love
Oleh: Nisa Yustisia

Kata Nisa:
Cinta itu sederhana, yang rumit itu kamu …
Sepanjang perjalanan mudik kemarin, lagu dari Langit Sore itu berulang diputar di mobil. Entah sengaja atau memang disengaja banget, saat lirik itu terdengar sesekali tangan kiri suami membelai kepalaku yang dibalut jilbab. Sementara tangan kanannya tetap mengemudi. Aku hanya cengar-cengir diperlakukan seperti itu.

Hatiku geli jika teringat saat aku sedang marah dengan suamiku. Entah karena lelah mengasuh anak-anak seorang diri, kangen pada dirinya saat tidak pulang, ingin jalan-jalan atau sekadar ingin dipeluk saja. Hihi. Biasanya dia akan diam, saat dirasa aku sudah tenang, dia baru kembali menyapaku. Terkadang jika suasana hatinya sedang tak bersahabat, dia pun membalasku dengan kemarahan pula. Sedih sekali rasanya jika seperti itu. 

“Cita-citanya Nisa dari dulu itu, nikah sama Hafidz!” ucap teman sebangkuku saat SMP yang kusambut dengan tawa. Walaupun dalam hati aku tak mengingkarinya. Memang hanya dia yang mengisi pikiranku sejak SMP hingga kuliah. 


My Human Diary
Oleh: Reni Rakhmawati


Cukup menyapamu tanpa drama, dan hanya butuh canda sebentar. Tak perlu berpikir panjang. Kala itu kau bilang, “Kuselesaikan urusan pendidikanku, kemudian fokus ke masa depan kita.”

Sungguh ajaib! Setelah itu, tiba-tiba saja dalam hitungan minggu kamu berhasil menyelesaikan skripsi dan printilan-printilannya. Aku tahu bukan hal mudah bolak-balik Depok – Jakarta – Cilegon demi toga di awal Februari kala itu. 
Kupikir chatting awal tahun masih sebatas canda. Ternyata takdir tak sebercanda itu. Kamu benar-benar datang sebagai belahan jiwaku.

Kami memang berteman sejak tahun 2003. Bersekolah di SMP, SMA, sampai bangku kuliah yang sama. Karena itulah semua terjalin begitu saja dan memiliki jutaan cerita.

Masih teringat jelas dalam ingatan. Tiba-tiba kami dipanggil ke ruang guru Geografi. Guru menyuruh kami untuk ikut lomba. Saat itu, entah kenapa aku merasa deg-degan. Bukan karena dipanggil guru, tapi karena harus berjalan berdua saja dengannya lewat koridor kelas :) 


SECRET MARRIAGE
Oleh: Nimas Rahmawati


Pilihanku saat itu adalah, menikah dengan status dirahasiakan atau tidak menikah sama dia. Yak, dia yang biasa kusebut dengan Mas Ratno. Pria yang kukenal selama di bangku perkuliahan jarang melakukan kesalahan. Bolos kuliah takut, selalu ngumpulin tugas di awal waktu, nggak pernah telat masuk jam kuliah. Pakain rapi, kemeja dimasukkan dalam celana, sepatu berpantofel, dan rambut selalu cepak, gondrong dikit udah merasa kaya melakukan kesalahan besaaaaaar sekali. Hahaha.

“Jadi gimana Mas Ratno, bisa kan menikahi anak saya segera? Kalo harus menanti tahun depan, bapak keberatan. Terlalu lama, nggak bagus hubungan tanpa nikah terlalu lama itu,” tanya Bapak ke Mas Ratno.
“InshaAllah saya segera menikahi Nimas Pak, tapi mohon maaf sekali, apabila selama pendidikan nanti saya jarang jenguk Nimas di Jogja. Pertama, karena aturan dari pihak kampus mahasiswa tidak boleh menikah selama pendidikan, yang kedua jarak antara Jogja dan Jakarta itu jauh, kalau saya pulang sewaktu-waktu sulit, sementara kegiatan di asrama full dari Senin sampai Sabtu,” jawab Mas Ratno.


Terbaik!
Oleh: Athina


Tahun 2019 ini, pernikahan kedua orang tuaku genap berusia tiga puluh tahun. Bukan waktu yang singkat untuk hidup bersama mengarungi samudera rumah tangga. Bagiku, cukup banyak hikmah yang bisa dipetik di dalamnya.

Aku, pada usia yang lebih dari seperempat abad ini ingin menuliskan apa yang kurasakan —juga kupikirkan— mengenai perjalanan cinta kedua orang tuaku, orang pertama yang ada dalam hidupku. Tentu saja, yang kutulis berasal dari sudut pandangku. Sudut pandang seorang anak sulung dan anak perempuan semata wayang mereka, yang minim pengalaman cinta tapi belajar banyak dari kedua orang tuanya.

Ma, Pa, kalau tulisan ini sampai padamu, aku harap tulisan ini menjadi salah satu kado pernikahan tiga puluh tahun kalian. Teruslah bersama-sama, teruslah mesra dan berbagi cinta hingga di surga. Aamiin.


Kesempatan Kedua
Oleh: Dwi Arda


Bukan hal yang mudah bagiku menghabiskan sebelas tahun bersama suamiku, Mas Angga. Banyak kerikil-kerikil tajam yang menghadang di setiap langkah dalam menapaki maghligai rumah tangga.

Kalau teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika pernikahanku memasuki tahun ketiga. Aku masih tidak percaya, sampai saat ini kami masih bersama dan merasakan kebahagiaan bersama dua jagoan kami. 

Flash back
Dengan menggendong si bungsu, aku melangkah sekuat tenaga ke rumah orang tuaku. Air mata sudah tidak bisa kubendung lagi.
“Buk, aku sudah tidak tahan dengan kelakuan Mas Angga,” ucapku dengan beruraian air mata.
Dengan keheranan ibuku bertanya, “Ada apa? Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”


Nyaris Sempurna
Oleh Misdayani 


“Kamu masih muda, tidakkah ada keinginan untuk mencari pengganti Arby?” 
Sudah berkali-kali kalimat itu sampai ke telingaku. Dari teman dekat, rekan di tempat kerja bahkan keluarga sendiri. Berkali-kali juga aku mempertimbangkan kata-kata mereka. Namun hingga saat ini tak jua ada yang menggantikan posisinya di hatiku. Status single parent tetap menjadi pilihan. 

Selain persoalan anak-anak, semua kenangan bersama Bang Arby tak pernah mati, bahkan hanya untuk terlupa sedikit saja, tidak. Semua kenangan dengannya selalu segar dan kekal dalam ingatanku. Sosok yang sederhana, tak pernah mengeluh, selalu memperlakukanku dengan lembut dan sangat penyanyang, pun penuh perhatian. Kelebihannya yang sangat pantas untuk aku syukuri sebagai istrinya. Bahkan selama lebih kurang tujuh tahun hidup bersamanya, hanya satu yang tidak aku suka darinya bahwa Bang Arby adalah tipe introvert. 

Nikah Ekspres
Oleh: Arn Fyd


Di suatu sudut kamar sempitku ukuran 3x4 aku selalu memohon pada-Nya menghadirkan imam yang bisa menuntunku ke surga.

Dimulai dari mana? Dimulai dari mereka. Yah kita mengawali hubungan pertemanan ini, dilanjutkan dengan sebuah persahabatan yang intens. Tidak lain dan tidak bukan, hal utama dan pertama dari segala hal yang mendekatkan kita adalah kata.

Kamu, CPNS yang masih gabut kerjaannya belum jelas betul. Belum  banyak betul, aku? Tenaga lulusan D3 yang baru saja selesai kata orang fresh graduated untuk kemudian melanjutkan kuliah sambil kerja.

Siapa mereka? Mereka orang yang kita suka. 
You like her. And I like him. Ini bukan tentang aku kamu, tapi aku, kamu, si A, dan si B. Kamu benar-benar galau tentang dia yang kamu sukai sedari dulu namun setelah didekati dan sangat mungkin dinikahi, banyak hal yang membuatmu kecewa dan berpikir berulang-ulang. 


Cintaku Bersemi di Langit Pesantren
Oleh: Raudhatul Jannah


Namaku Rara. Ini kisah perjalanan cintaku. Beberapa tahun yang lalu saat baru kuliah semester satu, aku bertemu seorang laki-laki bernama Muhammad di salah satu Pondok Pesantren di kotaku. Pertama kali aku ketemu dia aku benar-benar nggak suka melihat dia. Kayak gimana gitu, menurutku dia orang yang sombong, sok ganteng, sok kaya, sok populer, iih nggak banget deh pokoknya.
Namun berjalannya waktu mengubah segalanya, entah kenapa aku jadi sering kepikiran dia, bawaannya pengen ngeliat dia, pengen ketemu sama dia, sampai aku pernah mikir “Ya Allah dia itu manusia atau hantu sih, kok dia menghantui pikiran dan hati aku terus sih”. 


Make You Mine
Oleh: Shny 


Deru mesin pembuat kopi di pagi hari membangunkanku, aromanya menyerbak ke seluruh penjuru ruangan. Masih dalam keadaan mengantuk, aku memutuskan bangkit. 

Seseorang yang sangat kukenal tengah sibuk di dapur, aku menghampirinya dan duduk di bar. Kelv menoleh, tersenyum. 

"Morning," sapanya hangat. 
Membicarakan pagi selalu menyenangkan. Sepanjang hari aku ingin waktu selalu pagi. Karena hanya saat pagi aku bisa melihatnya. 

Kelv melepaskan celemeknya lalu ikut duduk bersamaku setelah meletakkan dua slice roti bakar dan segelas susu. Mungkin bagi para istri lain dibuatkan sarapan oleh suami adalah hal yang sangat langka. Tapi bagiku itu adalah sebuah keharusan. Karena setelah ini, dia akan pergi lagi. Pagi baru kembali. 


My Life in 1997
Si Kumbang Kecil



“Terkadang kamu tidak menyadari bahwa jodohmu teramat dekat dengan dirimu. Semuanya akan jelas tatkala Tuhan menyatukan kalian melalui janji suci. Sungguh tiada yang mampu menebak takdir Yang Kuasa.”
~Ayesha Faiha, 1997

***
Kandangan, 1996
Perkenalkan, namaku Ayesha Faiha. Mereka memanggilku Yesha. Aku hanyalah seorang gadis kelas tiga SMA yang berasal dari keluarga sederhana. Usia masih tujuh belas. Ibuku seorang pedagang yang memiliki warung sendiri sebagai penghasilan harian. Ayah, seorang petani sekaligus peternak sapi. 
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, kuusahakan mengantarkan kue-kue olahan Ibu ke warung-warung yang ada di wilayah kami sekaligus mengambil uang hasil penjualan kemarin.
Begitulah kilas kehidupan aku dan keluargaku. 
***


Meraih Rida Suami
Oleh Ummu Auliya


Sebagai seorang perempuan yang terbiasa bekerja, hari-hari pertamanya menghabiskan waktu di rumah bukanlah hal yang begitu mudah bagi Meida. Wanita berdarah sunda yang lahir di bulan Mei ini merupakan wanita yang sangat dinamis dan cekatan. Di tempatnya dulu bekerja, ia selalu mendapatkan perhatian lebih dari atasannya karena hasil kerjanya sangat baik dan mampu mengerjakan pekerjaan melebihi apa yang diminta.

Sejak kuliah pun ia sering ditawari beberapa proyek oleh dosennya, Meida sebagai orang yang detail dan mudah fokus memang memiliki semangat yang tinggi mendalami dunia penelitian. Berkutat dengan banyak data bukanlah hal yang terlalu rumit baginya. Justru kesibukannya tersebut sering menguras waktunya tanpa ia sadari, tidak lain karena ia sangat menyenangi dunia tersebut.




Hobiku, Memahami Kesibukanmu
Oleh: Vicky Yunita



Kita mungkin menganggap segalanya baik-baik saja. Toh, kita bekerja demi masa depan bersama, itu yang tadinya sibuk kujadikan pegangan. Namun,  tahukah kau, Sayang? Terlalu lama berjeda, tanpa disadari kita menggali lubang menganga. Membuat jalinannya tak lagi nyaman, karena kita semakin jauh tertelan kesibukan dan tak sanggup lagi menghirup udara di permukaan. 
(i)
Suara radio di mobil saat itu terdengar sayup-sayup di tengah kemacetan. Suamiku cuma bisa mengeluh, “Kapan Jakarta nggak macet kayak gini? Udah yuk, apa kita pindah saja nih ke Lampung? Enak, lega dan nggak ada macet.” 


Menggapai Rida-Nya Bersamamu
Oleh: Ninin Suryani


Sebagai seorang perempuan yang beranjak dewasa ketika kuliah harus dimulai pada masa yang cukup mencekam di tahun 1998 dengan adanya gejolak ekonomi secara global. Semuanya terasa mahal dan eksklusif. Perekonomian orang tua menurun karena imbas krisis moneter yang melanda Indonesia, bisa lanjut kuliah bersyukurnya luar biasa.

Enggak ada pemikiran lain. Hanya ada kebersyukuran akan rahmat Allah, masih bisa mengenyam pendidikan. Kecintaan pada ilmu menjadikan ini adalah momen yang sangat mulia dan berharga. Kebaikan hati pak rektor untuk memberikan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Ternyata di semester lima tetap harus berhenti, keadaan begitu sulit untukku dan keluarga. Kemudahan yang diberikan berupa beasiswa masih menjadi kendala bagiku. Pada akhirnya tetap berbesar hati untuk menerima kenyataan bahwa ini saatnya meninggalkan bangku kuliah dan saatnya terjun di masyarakat untuk menyambung hidup.


I Finally Found You
Oleh: Adelia Oktavani


Menikah adalah ibadah terlama yang akan kita jalankan bersama pasangan, tentu saja kita tidak ingin salah dalam memilih pasangan hidup bukan? Jadi sebelum memutuskan untuk menikah ada baiknya pikirkan baik-baik, luruskan niat untuk ibadah dan kenali karakteristik pasangan yang akan menjadi pasangan hidup kita.
Sebagai anak milenial keinginan menikah itu terkadang hanya berlandaskan “ingin” karena melihat teman-teman sebaya sudah menikah, ada juga beberapa yang sudah didesak orang tua atau bahkan menikah kepingin karena melihat pernikahan artis-artis/selebgram yang pestanya glamour dan alur ceritanya goals banget jadi bikin iri, sehingga membuat rasa “ingin” itu lantas menggebu didalam hati kita karena kita juga ingin seperti mereka kalo anak-anak jaman now bilang sih “LIFE GOALS BANGET”  *sambilmantengininstgram*

Cinta Bersemi di Tiga Kota
Oleh: Sri Efriyanti Harahap


Perjalanan cintaku di mulai di kota yang paling romantis di negeri ini, di kota hujan, Bogor tentunya. Saat itu aku kuliah di kampus pertanian terbaik di tanah pertiwi ini. Sewaktu kuliah aku benar-benar disibukkan dengan aktivitas akademik. Orientasiku benar-benar untuk belajar dan menuntut ilmu. Hampir tiap hari perjalananku hanya kos, kampus, dan perpustakaan. Aku menghabiskan waktu di tempat-tempat itu. Hingga di akhir studi perjalanan akademik Magister Sainsku, aku baru berpikir tentang jodoh. Saat itu usiaku sudah menginjak 27 tahun, sudah memasuki usia yang matang untuk menikah bagi seorang gadis. Tampaknya orang tuaku juga menginginkanku untuk segera menikah saat itu.


Bukan Jodohku
Oleh: Maryam Masyitoh Lubis


Aku hanya dapat melihat sekilas wajah dan tubuh kaku yang sedang terbaring itu, tak mampu kutegakkan kepalaku untuk lama menatapnya. Wajah dan tubuh itu ditutupi kain panjang berwarna putih, diletakkan di atas ujung kepalanya beberapa Alquran yang ditumpukkan pada beberapa bantal dengan ukuran sedang. 

Aku melirik ibu dari pemilik tubuh kaku itu, dia sedang tertunduk lemah. Punggung dan kepalanya bersandar pada dinding yang telah ditutupi kain hijau besar berumbai kuning yang bertuliskan “Serikat Kemalangan Simpang Empat”. Dia duduk berseberangan dengan posisi dudukku, kami dipisahkan tubuh kekar yang sedang terbaring ini. Kemudian mataku beralih menatap orang-orang sekelilingnya, tiga empat orang beradu mata dengan ku, dan beberapa sedang membisikkan sesuatu sambil menatapku. Ah, aku sudah tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Pemilik tubuh kaku itu pernah menjadi bagian cerita perjalanan cintaku yang tak sampai. Drama sedih dari kisah cinta yang tidak memiliki kisah bahagia untuknya, namun tidak untukku akhirnya.  


Skenario Allah Untukku
Oleh: Munifah Bagis (@mamahaneen_bagis)


Hari itu menjadi hari yang mungkin takkan kulupa sepanjang hidupku. Hari dimana ibuku memanggilku untuk suatu pembicaraan serius. Hari itu ibuku mengajakku untuk berbicara empat mata. Aku sungguh dibuat gugup dan bertanya-tanya, ada apa gerangan, hal penting apa yang ingin disampaikan oleh ibu.

Ternyata ibuku menyampaikan satu hal yang menjadi titik awal terjadinya perubahan di hidupku.  Ibuku berkata bahwa ada seorang laki-laki yang berniat ingin meminangku. Laki-laki yang hari ini menjadi suami dan ayah dari anak-anakku.


Cinta Tanpa Restu
Oleh: Yanti Yulianti


Panggil aku Dila. Aku anak perempuan satu-satunya yang terlahir dari 9 bersaudara. Sangat banyak bukan saudaraku? Kami keluarga besar. 

Aku terlahir dari keluarga religius. Ayahku seorang ustaz kondang, punya pesantren dan sekolah berbasis Islam. Tentunya, keluargaku ingin aku menikah dengan orang yang tak jauh-jauh dari mereka, baik level ibadahnya atau pun profesinya. Minimal orang biasa tapi alim. 

Tapi, apalah daya. Ketentuan Allah itu memang lain. Aku tertarik dengan seorang pria gaul, Mas Reno namanya, ia secara agama biasa saja. Bahkan mungkin lebih rendah lagi dari biasa, karena salatnya jarang-jarang. 


Engkaulah Nakhodaku
Oleh: DeNi_R


"Apa!!! Beneran kamu mau nikah, Nis?” seru sepupu Nisa saat dikabari kabar rencana pernikahannya.
"Biasa wae atuh Kang, mani dugi ka rewas kitu?" jawab Nisa meyakinkan.
"Tapi kamu beneran tidak apa-apa kan?"
"Maksud Akang?" sahut Nisa yang balik bertanya
"Ya kamu tidak kecelakaan kan?" Tanya Kang Firman masih tidak percaya.
"Astaghfirullah Kang, seperti tidak kenal Nisa aja!" jawab Nisa dengan nada sedikit kesal.
"Ya maaf Nis, bukannya Akang suudzan, habisnya kamu mendadak ngabarinya."


Romantika Cinta Sederhana
Oleh: Siti Nurlelasari


Untuk pertama kalinya aku mengenal sosok malaikat yang Tuhan utus ke dunia. Mereka memang tak bersayap layaknya tokoh kartun yang digambarkan para animator bertangan lihai. Tapi mereka memiliki hati yang lembut, tulus mencintai buah hatinya. Mereka adalah orang yang sudah berjuang merawatku dengan penuh kasih sayang sejak masih di dalam kandungan. Ibu sangat memperhatikan asupan yang aku terima selama berada dalam perutnya. Sementara ayah bekerja keras mencari nafkah demi kesejahteraan hidupku di masa kini dan masa depan. Beban ayah bertambah dengan kehadiranku di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Perhatian dan kasih sayang mereka selalu melesat tepat padaku. Ah, senangnya selalu diperhatikan.


Istanbul Saksi Pertemuan
Oleh: Tia Yusnita


Ayah selalu berpesan, jangan pernah sandarkan harapan kita pada manusia, karena akan mudah sekali kecewa. Berharaplah hanya pada Dia yang Maha memberi segala. Pesan itu selalu aku ingat ketika sebuah nama melintas di kepalaku. Seseorang yang datang sesaat sebelum keberangkatanku ke Negeri Dua Benua. Aku masih berstatus sebagai mahasiswi Universitas Istanbul dan dia masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Islam Madinah.

Pertemuan di ruang tamu saat itu adalah komunikasi terakhir kami. Walaupun sebenarnya kami tak pernah berkomunikasi secara langsung, hanya mendengarkan percakapan antara dua keluarga besar. Aku hanya mengangguk malu sebagai tanda menerima lamarannya waktu itu.


Kekuatan Cinta
Oleh: Fithriyah Abubakar


Kisah ini terjadi saat aku duduk di kelas dua SMA. Ketika itu abi sudah dirawat sembilan bulan di RSUD Surabaya. Luka di jari kaki kanannya tak kunjung sembuh, karena gula darahnya sangat tinggi. Dokter yang rencananya mengoperasi pun tak berani bertindak sebelum gula darahnya stabil di tingkat normal, karena gula darah yang tinggi akan sangat berbahaya dan menghambat proses penyembuhan pasca operasi.

Selama sembilan bulan itu, aku dan adik bungsuku (pria, kelas tiga SMP) bergantian menemani ummi, yang setiap dua hari sekali pulang-pergi dengan colt/angkutan umum Mojokerto – Surabaya, untuk mengantarkan makanan dan baju bersih, serta mengambil baju kotor abi dari RS. Abi memilih untuk dirawat di bangsal penyakit dalam bersama sekitar  19 pasien lainnya, karena masa perawatannya yang tidak jelas hingga kapan. Di samping itu, kondisi ekonomi kami saat itu sangat terpuruk. Banyaknya pelanggan toko furnitur dan material Abi yang tak juga membayar hutangnya, bahkan ada yang kabur/pindah dari tempat tinggalnya, membuat perusahaan yang dirintis Abi dari nol itu menjadi pailit. 

Akhir Janji Hati
Oleh: Yusnelli, S.Pd


Hujan turun begitu derasnya. Membasahi semua jalan di kotaku. Suasana begitu dingin. Hanya beberapa mobil saja yang tampak melaju saat itu. Aku masih berteduh di sebuah toko bersama pengendara motor yang lainnya. Jarum jam terus saja berputar tak hentinya. Hampir dua jam aku menghentikan perjalanan. Tujuanku hendak ke kampus jadi tertunda. Hati ini jadi gelisah. Hujan saat ini hampir melumpuhkan aktivitas kami.

Saat itu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Hanya satu jam lagi aku harus sudah sampai di kampus. Hari ini adalah waktu konsultasi terakhir aku dengan dosen pembimbing. Dengan perasaan cemas aku mulai menstarter motorku. Alhamdulillah satu demi satu kami mulai meninggalkan tempat berteduh. Hujan masih tersisa namun sudah bisa untuk dilewati.

Aku pun tergesa-gesa melepaskan helm dan sarung tangan. Pikiranku berkecamuk, karena jam sudah menunjukkan pukul 10.05 WIB. Langkahku langsung menuju ruang dosen. Tanpa disadari, aku sudah sampai di depan pintu yang dituju. Aku beranikan untuk membuka pintu sambil mengucap salam.


Istikharah Cinta
Oleh: Erlina Ika Andarista


Di Indonesia saat bulan Ramadhan tiba, pastinya sudah tak asing lagi dengan istilah bukber (Buka Bersama). Saya pun juga begitu, Ramadhan tahun ini mengikuti buka bersama alumni SMPN 1 Leces angkatan 2010-2011. Dengan adanya acara buka bersama kita bisa menyambung silaturahim kembali dan temu kangen dengan kawan lama. 
Alhamdulillah setelah sekitar tujuh tahun tak jumpa, acara buka bersama pun dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2018 ini. Kebetulan tempatnya pun diadakan di rumahku, karena halaman rumahku agak luas sehingga cukup untuk menampung kawan-kawan.

Keesokan harinya, setelah diadakan acara buka bersama saya secara tidak sengaja bertemu dengan kawan SMP. Nama panggilannya Ari, kita pun saling tegur sapa dan senyum ketika berpapasan. Nah, herannya dari senyuman ini ada yang aneh. Yaa bisa dibilang senyuman yang penuh berkah...Mengapa demikian? Karena dari senyuman itu kita dipersatukan oleh Allah menjadi pasangan, hmmmm.... Saya pun juga tak menduga kenapa bisa yaa? Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Jodoh itu Rahasia Allah.


Ketika Aku Jatuh Cinta
Oleh: Arif Hartanti


Hari itu, hatiku sangat terluka. Cerita dari seorang teman seperti duri yang nyeri menusuk. Dalam perjalanan pulang dari tempat mengajar aku berusaha menahan air mata hingga tangisku pecah ketika sampai di rumah. Ibu terkejut melihat keadaanku. Dia bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dengan air mata berderai, kuceritakan pada ibu bahwa aku difitnah. Seorang teman memberitahu bahwa ada seorang lelaki yang berkata padanya kalau aku adalah perempuan yang sering menolak pinangan. Itu disebabkan karena aku patah hati. Katanya, aku belum bisa melupakan lelaki yang kini telah menjadi suami orang. Aku sungguh tak habis pikir, bagaimana ada orang yang berkesimpulan seperti itu.


Tiga Puluh Enam Purnama Bersamamu
Oleh : Mardhatillah Umagapi


Azan subuh di masjid membangunkanku, tubuhku bergeliat ke samping dan  sesaat netra terpaku menatap sosok yang terbaring nyenyak di sisi. Kusapu lembut wajah itu agar segera bangun memenuhi panggilan Ilahi. Hari ini tepat tiga tahun kami tinggal serumah, tidur seranjang dan jalan-jalan selalu berdua. Sudah banyak drama hidup yang kami lewati bersama sejauh ini. Terbayang peristiwa tiga tahun silam yang menjadi langkah awal kebersamaan kami.
Waktu itu kuingat tepatnya tanggal 22 Januari 2016 , entah kenapa hari itu ummi memintaku untuk datang ke rumahnya setelah isya. Sepertinya ada yang penting untuk disampaikan karena biasanya jika ingin menyampaikan sesuatu ia akan menelpon dan bercerita atau menunggu hingga waktu melingkar kami tiba.

Jodoh Pasti Bertemu
Oleh: Sofia Fikriani


“Terima kasih Umi sudah membesarkan anak kita, Fariz, sampai sekarang sudah berumur 3 tahun,” kata suamiku sambil mengecup pelan keningku. Hari ini adalah hari lahirnya anak kami. Karena tidak ingin membiasakan Fariz merayakan ulang tahun, aku memutuskan hanya membelikannya kue black forest sepotong di toserba dekat rumah. Itu pun karena Fariz merengek-rengek memintanya, saat ia menemaniku berbelanja bulanan kemarin.

“Ini Abi belikan martabak telur kesukaan Umi,” kata suamiku membuyarkan lamunanku sejenak dan meletakkan bungkusan putih di meja makan. Aroma harum martabak memenuhi ruang makan kami, membuatku tergerak ingin mencomot satu potong martabak. 

“Makasih ya Abi, tumben nih bawa martabak buat Umi. Tapi jangan sering-sering ya, nanti Umi gagal diet terus.” 

Cinta Di Ujung Landasan Pacu
Oleh: Anisa Wijayanti


     Siang hari sepulang kerja aku merebahkan badan di kamarku sambil membuka album foto di telepon genggam. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi menandakan ada chat masuk di blackberry messenger. Kubuka chat itu yang ternyata chat dari Ravi teman SMP yang sudah lama sekali tidak saling bertanya kabar. Isi chat yang membuatku bingung harus kujawab apa. "Assalamualaikum Nindia maaf kalo boleh tanya sudah punya cowok kah? Aku mau kenalin ke kamu teman baikku."
     Aku tahan untuk membalas chat temanku untuk berpikir apakah aku ingin mengiyakan atau menolak tawaran dari temanku itu. Kali ini harus aku pikirkan betul karena aku tidak ingin pengalaman yang lalu terulang lagi. Kemudian Ravi menanyakan lagi "Bagaimana mau tidak, Nin?"

Saling Menemukan Di 0 Mdpl
Oleh: Qheiza Wiranda Edelwise


Sesekali engkau boleh bersedih, ketika sedang bersedih. 
Sesekali engkau boleh marah, ketika sedang marah. 
Dan sesekali engkau boleh membenci ketika sedang dilukai. 
Namun pastikan bahwa itu hanya sesekali. Karena setelahnya, engkau harus berbahagia lebih lama, bersyukur lebih banyak, dan berbenah untuk lebih baik.
Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi, setiap manusia siap atau tidak itu sudah harus terima. Allah pertemukan kita dengan orang-orang yang Ia gariskan di Lauhul Mahfuz-Nya yang datang silih berganti, ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas keras. Ada yang telah lama berjalan beriringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada juga yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati. Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada.

Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan. Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan. Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya, dan sebuah perpisahan,  ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru…  well, that’s life must be, life must go on, hidup harus tetap move on ke depan. Kita harus tetap bergerak, menatap dan meraih masa depan.


Frekuensi Cinta
Oleh: Titik Yuliana 


Sikap tertutup dan cenderung pendiam membuatku tidak mudah akrab dengan siapa saja. Kurang percaya diri sempat melandaku ketika remaja. Di saat teman-teman seusiaku sibuk dengan kehidupan remajanya, aku malah berkutat dengan belajar dan membantu orang tua. Alhamdulillah, usahaku menorehkan prestasi dan mendapatkan beasiswa untuk sekolah. Karena pendiam dan tertutup itu bukan berarti aku tidak punya teman, ada beberapa orang sahabat yang tentunya punya kebiasaan yang sama denganku yaitu belajar.

Ketika tamat SMA, aku diterima di sebuah Universitas Negeri di kotaku. Ketika surat kabar yang memuat pengumuman hasil UMPTN itu aku baca, ada kesedihan yang mendalam ketika itu. Antara haru, bahagia dan kecewa. Karena orang tuaku tidak punya biaya untuk pendaftaran ulang. Ayahku hanya seorang buruh bangunan. Setelah menjalani operasi hernia beliau tidak lagi bisa bekerja sehingga untuk biaya hidup kami berharap dari usaha ibu yang berjualan di sebuah kantin sekolah. Selain itu juga dibantu oleh saudaraku yang sudah bekerja, walau tidak banyak tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk biaya kuliah, aku sangat pesimis bisa melanjutkannya.


Meruntuhkan Sekat
Oleh: Hikmahnisa


Namaku Asma dan suamiku Surya. Ini adalah kisahku meruntuhkan tembok yang menyekat komunikasi rumah tangga kami selama  15 tahun. 
“Mas, aku mau ngomong.” Aku memberanikan diri berbicara lantang, suamiku tak bergeming, hanya melihat ke arahku. 
“Banyak sekali foto Lisa di galeri hp mu, bahkan ada yang sengaja di crop berdua, tolong jelaskan.” Aku menatap Surya, walau hati ini gemetar takut dengan responnya.
Lisa adalah teman sekantor Surya, Surya sering bercerita tentang Lisa kepadaku. 
Mata Surya berputar, tanda ia berpikir untuk menjawab pertanyaanku. Satu demi koleksi foto Lisa di galeri hp Surya aku tanyakan dengan detail, namun sayang semua jawaban Surya tidak aku percaya. Surya seperti mengada-ngada, mencari-cari alasan. Terlihat juga dari kata demi kata yang ia katakan, terbata-bata dan tak berani menatapku. 


Terlambat Sewindu
Oleh: Hakim Ratih


“Bunda… kenapa ayah kemarin baik banget sama aku, tapi kok hari ini ayah marah-marah terus, ya?” Si sulung bertanya padaku mengkritisi sikap ayahnya.
“Ya gitu deh Bang, Ayah sayangnya plin-plan nih suka enggak ikhlas!” jawabku sambil bercanda. Tepat sekali ketika yang sedang dibicarakan lewat di hadapan kami dan menjawab,“Kamu kali tuh yang sayangnya enggak ikhlas!” 

Degh! Jantungku seakan sesaat berhenti berdetak. Kulihat ekspresi wajah suamiku, datar seperti biasanya. Entah serius atau bercanda tak ada beda raut wajahnya. Suamiku memang tipe orang yang cenderung dingin dan tidak pandai mengekspresikan emosinya.

Baju yang sedang kulipat tiba-tiba terasa berat. Tanganku membatu dan hatiku terusik. Kata-kata suamiku barusan terasa bagai bususr panah yang tepat mengenai sasaran. “Masa sih aku yang enggak ikhlas?!” hati kecilku mulai bertanya-tanya. Getaran rasa tak tenang mulai menjalar ke dalam tubuhku. Bertahun-tahun menikah hingga beranak empat, apa betul aku yang tak ikhlas? 

Cintaku Berlabuh di Garuda Wisnu Kencana
Oleh: Tyas Wirasti


"Bedugul!!" teriak Jojo.
"Iiiissshhh ... ndeso! Biasa aja kali!" aku masih bete dengan semua gangguan Jojo di bus, berkali-kali menepuk pundakku yang sedang berusaha tertidur di bus.
Rombongan kami pun sampai ke Bedugul, pulau keramat penuh mistis dengan pemandangan super indah dan berhawa dingin.

Danau kembar, Beratan dan Buyan yang apabila kita mau melihat semua pemandangan itu harus dengan kapal boat.
"Yuuuh ... sewa kapal ramai-ramai ke Pura Ulun Danu," ajak Yani.
"Aku mau dayung sampan kapal nelayan aja ah, ayo berempat siapa yang mau?" Zena mengusulkan.
"Aku Zen, sama Reta siapa lagi nih? Cowo dong yang dua," kata Cinta.
“Didi sama aku boleh deh, Cint,” seru Jojo yang menyanggupi satu sampan berempat.
"Naek Paralayang, ah!" kata Zul cowo tinggi berdarah Aceh.
Akhirnya kita dengan pilihan masing-masing menikmati keindahan pulau Bedugul menuju Pura Ulun Danu. Tempat pemujaan Sang Hyang Dewi Danu, untuk para Brata bersemedi mencari ketenangan berkomunikasi dengan Yang Ghoib.


A Big Mistake
Karya :Yuanitada


"Besok aku kenalkan kamu sama orang tuaku, ya?" itulah kalimat pertama yang membuat Fira yakin dengan kesungguhan Andra tentang hubungan yang baru saja akan mereka bina.

Ya mereka memang belum lama berkenalan. Hanya sekadar saling tatap dan melihat, atau sekilas berbincang karena keperluan pekerjaan.
Fira yang merupakan sekretaris Bu Dini, dan Andra rekanan baru mereka yang sedang mengerjakan sebuah proyek IT bersama dengan atasannya membuat keduanya sering bersua.

Bukannya Fira tidak tahu kalau akhir-akhir ini Andra sepertinya berusaha untuk menarik perhatiannya. Tapi sebagai perempuan, apalagi yang kerap kali gagal dalam urusan hati, Fira tidak mau gegabah dan terlihat gampangan.

Jadi ketika sore itu Andra mulai bertingkah aneh dengan mengekori kemana pun Fira melangkah dengan alasan hendak meminta nomor ponselnya, gadis berkerudung hitam itu pun menolak dengan halus. Walaupun akhirnya dia kalah juga akhirnya bermain kucing-kucingan dengan Andra yang sepertinya memang sudah bertekad untuk melakukan apa pun, termasuk menunggui Fira bekerja di depan banyak orang demi mendapatkan sebaris nomor impian.




Tentang Buku Perjalanan Cinta 


Judul Buku : Perjalanan Cinta 
Penulis : Nisa Yustisia, dkk 
Penerbit : Mandiri Jaya 
ISBN :  978-623-7277-67-5
Tahun : 2019


Every love story is beautiful, but ours is my favorite. Kisah perjalanan cinta menjadi tema yang tak akan usang ditelan zaman. Sedih, bahagia, kecewa, dan beragam perasaan lainnya terangkum dalam kisah cinta.
Nimas telah resmi menikah dengan Mas Ratno. Bayangan tentang indahnya masa pernikahan ada di hadapan. Namun harapan tinggal harapan. Mas Ratno, yang merupakan sosok laki-laki baik dan bertanggung jawab justru menorehkan luka menganga bagi Nimas di awal pernikahan mereka.
Bahkan Mas Ratno pun meminta agar kehamilan Nimas benar-benar dirahasiakan. Ia tak ingin teman-temannya tahu jika dirinya telah menikah. Apakah yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan mereka?
Bagaimana kisah Nimas dan Mas Ratno? Juga kisah indah lainnya? Yuk, simak kisah nyata perjalanan cinta yang sangat inspiratif dan terangkum apik dalam buku ini!


Bagi yang ingin memesan buku ini bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi 

Powered by Blogger.