Menu
/

www.momsinstitute.com - Pernahkah ketika membeli buku, memegang buku, membaca buku, menatap buku-buku di rak, terbersit keinginan untuk memiliki buku karya sendiri? Minimal satu buku atau maksimalnya unlimited buku yang ingin diterbitkan. Berarti apa saja sih yang harus dibenahi dari niat dan juga tekad agar semua segera terwujud?

Sebelum saya bahas materi di Channel Indonesia Menulis, kita kenalan dahulu ya. Agar terjalin ikatan silaturahmi antara kita.


  • Penulis Buku Anak fiksi dan nonfiksi.
  • Penulis Buku remaja dan umum, fiksi dan nonfiksi. 
  • Penulis  Artikel di majalah dan media online 
  • Resensi buku di koran, majalah dan media online
  • Ghost Writer
  • Mentor Menulis


Achievement  :

  • Juara 1 menulis cerita mini FLP Saudi Arabia
  • Juara 1 lomba Blog Best Moment Indonesia Hijab Blogger
  • Pemenang Utama Giveaway SmartWriter
  • dll



Menulis adalah untuk berbagi kebaikan



Ketika melihat deretan buku, memegang buku dan menatap buku, dalam hati berbisik, "Aku ingin jadi penulis buku dan di buku itu ada namaku!"
Pernah mengalami kejadian seperti di atas?

Setiap aku pegang buku, aku selalu yakin bahwa di buku itu ada namaku. "Ah, senangnya punya buku." 

Ada kekuatan yang mengalir ketika buku yang ditulis itu  banyak dibaca orang. Jadi dorongan untuk menulis buku karya sendiri pun semakin kuat. 

Ekspektasi VS Realita


Kadang yang namanya ekspektasi atau harapan itu selalu indah dan bisa juga terlihat mudah. Namun, ketika kenyataan untuk mewujudkan harapan itu tidaklah mudah. 

Ketika mulai menulis, laptop seperti layar putih, kosong dan pikiran ikut kosong, akhirnya kebanyakan bengong. Tanda-tanda ini sih namanya, tanda harus segera minta tolong. 




Sebenarnya menulis itu kemauan. Seberapa besar keyakinan pada diri untuk tetap menulis hingga naskah itu selesai.

Mau jadi penulis?

Cara simplenya adalah berguru. Ya, dengan memiliki guru menulis kita mendapatkan ilmu bagaimana menyalurkan ide menjadi sebuah tulisan dan bisa dibukukan.

Kedua, diri sendiri. Ya, penulis itu profesi yang tidak memiliki bos, tidak memiliki atasan. Bos dan atasan adalah ia sendiri, mau seberapa cepat ia menulis dan seberapa produktif dalam berkarya. Bukan karena perintah orang lain, jikapun ada yang minta jasa penulisan dengan deadline yang ditentukan, tetap saja penulislah yang mengaturnya kapan ia mampu menyelesaikan target pesanannya.


Jadi, jika kita ingin jadi penulis, tapi masih kekurangan motivasi, cobalah tanyakan ke diri sendiri, benarkah menulis adalah pilihan terbaik?

Kalau sudah menemukan jawabannya, silakan lanjutkan untuk mewujudkan satu buku karya sendiri.


  •  Tentukan tema 
  •  Buatlah outline naskah
  •  Fokus menyelesaikan tulisan 
  •  Bijak menggunakan media sosial. 
  • Bagi penulis yang punya deadline, scroll fb satu jam saja akan mengurangi waktu menulisnya. Walau ada sebagian penulis yang mendapat inspirasi dengan cara scroll down medsos. 
  • Disiplin menulis, inilah bukti para penulis keren selalu produktif melahirkan karya. Di sela kesibukannya, mereka tetap membuat agenda menulis buku. 
  • Naskah selesai tepat waktu, sesuai deadline. 
  • Kirim ke penerbit.
    Quote untuk penulis : "Setiap naskah pasti akan bertemu dengan jodohnya (penerbit)".
  • Promo buku : Ketika buku diterima penerbit, kemudian cetak. Penulis pun ikut bantu promo. Jual buku-buku sampai ke pembaca.



Pengalaman saya waktu dulu, sudah diterima penerbit mayor, ya sudah nggak ikut promo, tinggal tunggu royalti. menurut saya dulu jangan ditiru, karena sudah diiklankan di kompas TV, Radio, koran dan media sosial penerbit berarti sudah selesai promonya.

Jadilah saya penulis 'manja' nggak bisa promo, ketika tahu laporan royalti baru deh ada perasaan menyesal datang, hanya terjual ribuan ternyata. Menyesal itu selalu belakangan. Berikutnya adalah harus ada perubahan.


Berkumpul dengan komunitas penulis banyak membuat pikiran kuno saya berubah.

Yang tadinya fb-an asal punya. Sekarang ditingkatkan lagi pertemanannya.,
Yang tadinya nggak punya instagram, sekarang optimalkan juga instagram. Nggak ada kata terlambat untuk memulai, jadi penulis yang lebih dekat dengan pembaca setia dan juga saling interaksi dengan teman penulis lainnya. Waktu saya posting karya di instagram, justru ternyata banyak yang kursus menulis, jadi ladang lagi berbagi ilmu.

Nggak punya twitter, bikin. Walau hanya 140 karakter tapi bisa bikin trending topic itu sesuatu.


Kalau blog, saya sudah tidak asing lagi. Karena ngeblog sejak 2004. Masih zamannya blog.com, multiply, blogspot, wordpress semua saya coba. Hingga sekarang dengan domain sendiri di :
www.ernawatililys.com
www.momsinstitute.com
dan blog lainnya.

Banyak ya? Ya, inilah dari hobi menulis, hingga lahir aneka blog. Sebelum negara api menyerang alias monetize blog, blog saya murni berbagi informasi dunia kepenulisan, baik puisi, cerpen, artikel, draft novel. Jadi, jangan heran blog bukan hanya penyaluran bakat tetapi juga salah satu profesi yang bisa menghasilkan.

Seperti kisah perjalanan menulis saya selama 10 tahun, sudah saya tulis di buku Ubah Tulisan Jadi Transferan (UTJT)

Bagaimana menghasilkan dari menulis resensi?
Bagaimana menghasilkan dari menulis artikel, puisi, cerpen?
Menulis buku anak, membuat draft novel sederhana, serta membuat outline buku non fiksi .

Printilan menulis dari hal kecil pun saya jabarkan di buku UTJT.

Alhamdulillah, buku UTJT dijadikan referensi dalam ekskul menulis.


Saya mau cerita sedikit tentang perjalanan saya gabung di KMO. 


Dulu, 2014 saya gabung di KMO, bagai oase dikala ibu irt dengan dua anak ini ingin terus belajar menulis. Sekarang sudah 3 anaknya. Menjadi bagian KMO itu tidak bisa dituliskan, banyak ilmu, pengalaman serta dukungan dari Kang Tendi Murti, Kang Dewa Eka Prayoga, dan Tim KMO lainnya yang solid dan kompak berasa keluarga, ada Kang Ade Kurniawan, Teh Han Ahmad, Zashika Nadia, Kang Tiesna, dkk.

Kang Tendi Murti, memberi tugas ikrar menulis. Saya pun yang tadinya mulai lesu semangat menulisnya, seperti punya janji untuk kembali menerbitkan buku kembali. Banyak sekali perubahan pada diri saya, darinya yang pesimis, bisa termotivasi untuk terus berkarya.

2015 saya tidak sama sekali menerbitkan buku solo. Lebih banyak menulis resensi buku, 100 buku dibaca dan kirim ke berbagai media, baik koran, majalah, website-website.

2015 ini juga anggota KMO bikin banyak membuat antologi. Beberapa draft naskah ada di saya. Sudah menawarkan ke penerbit dan ditolak. Bikin lemes. Akhirnya tersusun rapi dalam folder yang tak pernah dibuka-buka kembali.

Baru 2016 terbit dua buku. 2017 ini fokus ngeblog. *mikirin diri sendiri*


2018, laptop kena virus. Banyak naskah hilang. Untuk menyelamatkan naskah teman-teman, saya berdoa. Semoga naskah titipan teman KMO ini terbit, bertemu jodohnya. (doa di bulan Ramadhan)

Entah kebetulan atau doa orang berpuasa itu terkabul, ada penerbit yang sedang cari naskah antologi. Jarang-jarang sekali, biasanya kan yang dicari itu naskah solo. Saya coba revise judul dahulu. Edit naskah teman-teman, menjelang deadline, 23.58 send. Nyaris saja gagal kirim, karena kantuk yang bergelayut. Tapi, alhamdulillah sahur tidak telat bangun, jadi bisa tetap puasa.

Ada kabar bahagia di bulan ramadhan, naskah teman-teman KMO yang saya ajukan diterima. Sujud syukur. Tantangan berikutnya adalah membuat group dengan kontak yang sudah tidak pada aktif. 3 tahun naskah terendap. Saya buat group whatsapp, mulai add satu persatu kontak yang masih aktif. Mencari nama yang ada dibiodata penulis, dari FB sampai instagram. Susah juga ketika semua tidak sama seperti yang tertulis di naskah. Alhamdulillah, semua kontributor hadir di group.
Masalah baru timbul, ketika ada yang bilang ke saya, “Teh, cerpen yang di sana itu sudah saya jual di playbook.”

Saya segera hubungi penerbit dan editor. Dimintalah cerpen yang baru. Si penulis akhirnya mau menulis dengan deadline yang hitungan jam. Saya ketar-ketir menanti naskahnya. Masalah kedua, editor pusing (hehehehe ini saya sudah tahu pasti karena banyak yang di edit). Walaupun sudah saya bantu edit sebagian, memang banyak sekali. Waktu saya dan Bu Rina (waktu masih menjabat sebagai kepsek KMO) memang sudah tahu kekurangan kontributor, karena belajarnya non fiksi tapi nekat bikin tulisan fiksi, jadi sudah bisa dibayangkan, kerutan kami berdua selaku penanggung jawab. Tapi, kami ikhtiar pokoknya harus bantu agar mereka punya karya (dulu tujuannya adalah agar mereka berani berkarya dahulu, urusan babak belur belakangan).

Di bulan puasa, saya pun panen sabar seluas-luasnya, semoga mba editornya juga semakin sabar. Banyak berdoa, akhirnya buku itu terbit juga dan masyaAllah pembacanya anak remaja banyak yang suka. Nah, kan perjalanan di balik naskah.

Allah bayarkan tunai kepada saya. 

Ketika ikhlas membantu teman-teman KMO untuk menerbitkan karya, konsultasi, balas japrian setiap hari, dll. Bukan hanya tanggung jawab sebagai mentor di KMOCLUB.com, ada kebahagiaan saat satu persatu memberi kabar naskah mereka terbit. Tentu membuat saya termotivasi untuk terus berkarya.

Alhamdulillah, penerbit meminang naskah UTJT, kemudian naskah-naskah berikutnya. Benar-benar jodoh yang tak bisa saja duga. Akhirnya, 2018 ini sudah 7 buku yang terbit dihitung sejak bulan ramadhan kemarin. MasyaAllah, saya mana terpikir bahwa 2018 ini akan seproduktif ini. Bahkan  naskah-naskah lainnya pun telah mendapat pinangan, insyaAllah hingga 2019. Mohon doanya dilancarkan semua.



Dalam berkarya jangan cepat merasa puas, teruslah belajar.Dalam berkarya jangan cepat merasa puas, teruslah belajar.

Saya dahulu sering ikut kursus menulis baik berbayar atau gratisan. Baik online sampai harus tersasar karena pulang seminar nggak tahu jalan pulang, pulang kemaleman, pokoknya dahulu nyari ilmu itu horor banget.

Kalau sekarang KMO Indonesia sering sekali mengadakan kursus menulis online, dengan mentor-mentor yang tak diragukan lagi, penulis ternama Indonesia.

Beruntung sekali, semoga kemudahan ini tak membuat kita mudah menyerah.

Saya ingat, sampai rela beli video (iya video aja dibeli) buat belajar menulis.

Ikut pelatihan menulis buku anak, buku fiksi dan non fiksi, bahkan menulis skenario.

Dahulu memang ketika kursus saya terasa buang-buang uang. Namun, setelah menyelami dunia menulis dan tahu marketnya, semua ilmu itu ibarat pelampung yang saya pakai untung berenang.

Jadi, yang saat ini sudah kursus puluhan kali, namun belum ada karya juga, bersabarlah.

Yang sudah ikut seminar ribuan kali, belum berhasil juga, teruslah berusaha mempraktekkan ilmu yang telah dipelajar.

RUMUS SUKSES setiap orang berbeda-beda. Yang terpenting, jangan pernah menyerah sebelum semua impian terwujud.

Ada yang berani praktekkan quote Kang @dewaekaprayoga ini,
"Berjuanglah sampai idolamu menjadi rival terberatmu."

Berat sih, tapi kalau mau coba silakan. :)

Siapa tahu idola bisa jadi sahabat. :)

Sudah satu jam saya berbagi pengalaman yang masih sedikit ini, semoga bisa berbagi inspirasi untuk teman-teman semua.

Oh iya, dari Buku Ubah Tulisan Jadi Transferan inii ada kelas menulisnya, sudah angkatan ke 4.

Bagi teman-teman yang mau ikut bisa whatsapp langsung di
wa.me/6281214007545

Semoga membantu teman-teman yang ingin produktif menulis buku.



Salam Inspirasi 

Powered by Blogger.