Menu
/

www.MomsInstitute.com - Hidup memiliki sejuta jalan cerita yang indah dan menyentuh. Lautan duka yang menguatkan, serta sulaman ketegaran yang membuat semakin banyak rasa syukur. Buku Goresan Aksara membuat Anda semakin menyelami sisi lain kehidupan dan juga banyak petikan hikmah yang tersaji. 


Review Buku Goresan Aksara 


Nuzulul Quran
Oleh: Fithriyah Abubakar


Chiba, 17 Ramadan 1429 H/17 September 2008 
Pagi ini, aku berangkat ke kampus dengan perasaan bahagia yang membuncah. Siang nanti, ada wisuda di kampus. Jumlah sahabatku yang diwisuda kali ini jauh lebih banyak daripada biasanya. Dari program S-2 ada sekitar 30 orang mahasiswa asal Indonesia dan beberapa dari negara lainnya, sedangkan dari program S-3 ada seorang sahabat merangkap kakak kelasku dari Filipina dan sahabat sekelasku dari Vietnam. 

Acara berlangsung di auditorium lantai 1, mulai pukul 14.30 JST . Berhubung ruang auditorium ini didesain sedemikian rupa sehingga tidak ada sinyal ponsel, maka ponsel kutinggalkan di ruang belajar, study room lantai 6.

Acara berakhir pukul 17.30 JST dan selesai berfoto ria dengan para wisudawan, aku kembali ke ruangan untuk salat Magrib. Saat mengecek ponsel, ternyata ada sepuluh SMS dan satu panggilan tak terjawab. Dengan perasaan berdebar-debar, aku langsung menyusuri daftar SMS, ada dua SMS berturut-turut dari Arbi, adik bungsuku. Dia adalah satu-satunya di keluargaku yang menelepon dan SMS pada saat penting saja, apalagi untuk SLI  ke ponsel begini.


Have a Nice Day
Oleh: Wawat Srinawati, S.Pd, M.Pd 


Bermula dari sebuah gambar yang dilihat Syafira tentang London, Inggris. Dia memendam impian untuk pergi ke sana suatu hari nanti. Dia sangat yakin akan pergi ke tempat itu. Bukankah banyak orang yang sukses sebelumnya memiliki impian terlebih dahulu? 
Syafira bukanlah seorang anak yang berasal dari keluarga berada. Ayahnya seorang pedagang sayur keliling, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai usaha warung kecil-kecilan di rumah. Baginya, impian ke London memang mustahil. Jangankan untuk pergi ke tempat itu, untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang orang tuanya kewalahan. Namun, Syafira tak sekalipun mengeluh dengan keadaannya. Dia selalu semangat dalam belajar, mengaji, berdoa serta tak lupa untuk bersyukur setiap hari. 

Sore itu, Syafira sedang bermain di depan rumahnya. Syafira dan Nurul baru saja pulang mengaji, ibu terlihat sedang melayani pembeli yang datang ke warungnya. Di sana, ayah masih sibuk membersihkan roda gerobak yang dipakai untuk berdagang sayur. Alhamdulillah, hari ini dagangan ayah habis. 
“Doakan aku, ya. Semoga namaku lolos dalam daftar pemenang yang bisa pergi ke London,” kata Syafira penuh berharap.
“Aku pasti akan selalu mendoakanmu, asalkan kamu juga harus yakin.” Nurul memeluk Syafira.


When I Met You
Oleh: Rosalina Fiantini


“Ayo … ayo lari!”
“Ayo dipercepat larinya, ayo!”
“Aduuh, lambat banget sih, lebih cepat lagi!”
Itulah yang selalu kudengar saat menjalani orientasi mahasiswa atau ospek lapangan selama tiga hari di daerah perkemahan Gunung Puntang, Jawa Barat. Ya Allah, rasanya aku menjadi orang yang paling menderita di dunia. Sebagai kaum minoritas di Jurusan Teknik Mesin, aku merasa berat sekali menjalani orientasi ini. 

Bagaimana tidak, kegiatan ospek lapangan ini lebih banyak menyasar kekuatan fisik dan mental. Terasa lebih berat lagi mengingat postur tubuhku yang kecil, jauh dari kategori tinggi semampai dan ideal bagi seorang wanita. Belum lagi aku memang jarang sekali berolahraga. Jika dikompetisikan dengan kaum mayoritas alias kaum pria di kalangan mahasiswa baru ini, aku jelas tertinggal. 
“Pssst, pssst ... hei, kamu!” 

Aku mendengar ada yang berbisik keras, lalu menoleh ke belakang. Kami sedang bergiliran menjalankan ibadah salat Magrib di musala dan inilah giliranku.
“Iya, kamu. Sini, sini!” Kulihat ada seorang pria duduk di pinggiran tembok pembatas antara musala dan lapangan area perkemahan. Aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi, dari jaket himpunan yang dikenakannya, aku bisa pastikan dia adalah kakak tingkat. 


Saat Bulan Bertemu Purnama
 Oleh: Yopi Sartika


Malam itu, Bulan duduk termangu sambil memegang hadiah dari Kak Aisah. Bulan menatap anak-anak panti lainnya tanpa semangat. Matanya layu, badannya seolah terpaku di sebuah kursi rotan di pojok ruangan itu. Berbeda dengan anak panti lainnya yang riang gembira karena bertepatan dengan malam takbiran. Anak-anak mendapat baju lebaran dari donatur panti. Kak Aisah-lah yang bertugas membagikan ke anak-anak lainnya.

“Hai, Bulan. Ayo sini, lihat bajumu,” sapa Lintang sambil memamerkan baju putihnya. 
Seolah-olah bak peragawati, Lintang jalan mondar-mandir sambil mengibas-ngibaskan baju gamis putih panjangnya. Bulan hanya tersenyum tipis melihat tingkah teman satu kamarnya itu. 
“Adik-adik, mari rapikan semuanya. Setelah itu kembali ke kamar, ya,” ajak Kak Aisah. 
Tampak anak-anak merapikan hadiah mereka masing-masing. Mereka juga merapikan ruangan. Dirasa semuanya sudah selesai, satu per satu anak-anak masuk ke kamar masing-masing.


Jejak Dua Bulan
Oleh: Primandani Dewi


Kututup pintu kamar mandi. Butuh sedikit tenaga untuk menutupnya karena pintu agak “sengkleh”. Aku harus sedikit menarik pintu ke atas supaya tertutup rapat.  

Pikiranku melayang beberapa bulan yang lalu, saat bapak sakit karena terjatuh di kamar mandi. Waktu itu, bapak sedang kesulitan buang air besar. Bapak berjuang ke kamar mandi sendiri untuk buang air besar. Kondisi fisik bapak memang tidak seperti dulu. Sekarang, bapak kesulitan menggerakkan tubuh dan membuat beliau sering terjatuh. Bersyukur kali ini, saat akan jatuh langsung berpegangan pada pintu sehingga tidak terjadi cedera. Pintu kamar mandi yang terbuat dari PVC tidak mampu menahan berat tubuh bapak yang berisi. 

Kami keluarga yang tinggal di sebuah desa pinggiran kota dengan kesederhanaan. Dalam bahasa Jawa, kami keluarga gotong mayit, yaitu keluarga dengan satu ayah, satu ibu, dan tiga anak perempuan. Bapak menyibukkan diri dengan kambing dan sawah semenjak pensiun. Sosoknya yang memang seorang pekerja keras, membuat bapak tidak betah duduk diam di rumah. Kami sering mengingatkannya supaya tidak terlalu ngoyo dalam bekerja. Ada aku dan kakak yang sudah bekerja membantu ekonomi keluarga, apalagi beberapa tahun terakhir bapak berjalan agak pincang. 


Mozaik Hidupku dalam Binar Mata Anak-anakku
Oleh: Martika Sandra


“Karena menemani dan mengamati setiap perkembangan kalian adalah hal terindah dan berharga dalam hidup ibu, Nak.”

Petualang Cilik
Aku benci jadi perempuan! Ya, itu adalah kalimat terdalam dari sisi pemberontak yang kumiliki semasa gadis. Menjadi kakak perempuan, anak tertua, dan gadis satu-satunya di keluarga, menyebabkan bapak memperlakukanku ibarat gelas-gelas kaca kayak judul lagu. Saking hati-hati, tanpa disadari apa yang dilakukan bapak justru membuat gelas kaca yang dimilikinya mudah pecah. Seperti terpapar dengan sederet tekanan bunyi yang merambat sangat kuat berkali-kali yang akhirnya membuat gelas kaca pecah.

Saat kecil, bapaklah yang lebih banyak meluangkan waktu kepadaku. Ketika aku lahir, bapak masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah kami, sekaligus mengajar. Ibu berstatus sebagai buruh pemerintah di kepolisian daerah Sulawesi Utara saat itu. Pagi hari aku diasuh bapak dan ketika siang bergantian dengan ibu yang sudah pulang kantor. Bapak lalu berangkat ke kampus seusai mengasuhku. 


Menikmati Hidup dengan Rencana-Nya
Oleh : Prihatini Wahyuningsih


Setiap manusia mempunyai jalan takdirnya masing-masing. Kita tidak bisa memberikan penilaian sepihak pada manusia lainnya menurut kacamata diri sendiri. Susah, senang, kaya miskin, status sosial ekonomi tinggi atau rendah, dan lain sebagainya merupakan jalan hidup yang ditakdirkan Allah. Tentu Allah mempunyai rencana terbaik bagi setiap orang. Hanya manusia yang mempunyai petunjuk Ilahi yang mampu menggunakan akal pikiran untuk mengambil pelajaran atas setiap peristiwa yang terjadi.

Demikian halnya dengan diriku, kehidupanku tidaklah sama dengan orang lain. Takdirku berbeda dengan teman-teman, bahkan dengan saudara kandung sendiri. Inilah salah satu bukti keimanan kepada Allah, yaitu percaya pada qada dan qadar, percaya pada takdir yang Allah telah tentukan. Hal ini menjadi penguat batinku dalam menjalani takdir. Ikhlas menerima dan menjalani kehidupan sesuai rencana Allah.

Merasa Istimewa
Oleh : Kurnia Widianti


Menjadi ibu tak pernah menjadi impianku
Menjadi ibu tak pernah menjadi cita-citaku
Menjadi ibu tak pernah kumasukkan dalam rencana hidupku
Padahal aku seorang wanita

Aku berpikir, walau takdirnya sebagai wanita, belum ada kesadaran dan persiapan untuk menjadi seorang ibu. Saat memiliki anak, seorang wanita sudah pasti menjadi ibu dan tentunya akan mengalami begitu banyak perubahan dalam kehidupan. Bagiku, ketika masa itu tiba, ternyata menjadi ibu adalah hal yang menakjubkan.


Hukuman Terindah
Oleh : Vitasari


Bel masuk pertama berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Murid-murid berlarian masuk kelas. Sebagian mengenakan baju olahraga dan bersiap di lapangan. Murid-murid kelas III IPA I baru saja akan memulai pelajaran Agama ketika kepala sekolah dengan jilbab bunga-bunga memasuki ruangan. Kepala sekolah mengingatkan guru agama dan murid perempuan untuk mengenakan jilbab. Sekolah ini baru saja menerapkan aturan baru untuk para siswa yang akan mengikuti pelajaran Agama. Murid perempuan harus mengenakan jilbab, sedangkan murid laki-laki mengenakan peci selama pelajaran Agama berlangsung. Di sudut kelas, duduk seorang gadis yang sibuk membetulkan jilbabnya.

“Sudah rapi jilbabku ini, Ran?” tanya gadis itu kepada teman di sebelahnya, Rani.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Rani menggangguk dan mengalihkan pandangan ke arah buku. Gadis itu bernama Nayyara yang masih sibuk dengan jilbabnya. Sesuai dengan namanya, Nayyara memiliki kulit kuning langsat selembut kulit bayi, bibir tipis, dan hidung tinggi. Dia selalu antusias mengikuti pelajaran Agama, bahkan rela membongkar celengan ayam kesayangannya untuk membeli beberapa jilbab.



Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi




Powered by Blogger.