Menu
/

www.MomsInstitute.com - Perjalanan Edward van Starkenborgh Stachouwer ke Batavia mempertemukannya dengan Mariam. Seorang gadis Batavia yang sangat membenci penjajah Belanda. Di tengah situasi akhir penjajahan Belanda dan menjelang datangnya tentara Jepang ke Indonesia, Edward maupun Mariam dihadapkan kepada situasi dan pilihan yang sulit. Pertemanan dan cinta yang rumit, karena di antara mereka terhalang tidak saja oleh perbedaan ras dan suku bangsa, tetapi juga agama.

Lelaki Bermata Biru

Batavia, Januari 1940.

Edward van Starkenborgh Stachouwer  turun dari kapal yang telah membawanya dari Calcuta menuju Batavia. Tubuh jangkungnya berbaur di antara hiruk pikuk para pedagang Persia, Arab, Gujarat dan India yang sibuk menurunkan barang dagangan. Keramik, tembikar, kain-kain, logam mulia, dan beberapa perhiasan yang menjadi ciri khas komoditas negara asalnya. 

Pria itu memiliki tubuh jangkung serta rambut keemasan. Iris matanya berwarna biru dengan garis rahang lebar berbentuk segi empat. Kulitnya sedikit cokelat. Berbeda dengan kulit ras Kaukasoid Nordik yang biasanya berwarna putih kemerahan. Ayahnya seorang bangsawan Groningen di Belanda, sementara ibunya berdarah Spanyol. Dari genetik ibunya itulah kulit cokelat itu diwariskan.
Sudah lima tahun ini-sejak kelulusannya dari Nederlandsche Handels Hoogeschool di Rotterdam, ia telah melakukan perjalanan ke beberapa negara. Edward tergila-gila dengan kisah perjalanan Vasco da Gama, Marco Polo, Amerigo Vespucci, Christopher Columbus, juga dengan Ibnu Batutah. Orang-orang itu telah pergi jauh untuk mencari tempat-tempat baru lalu mengabarkan kepada dunia melalui catatannya.

Paru-paru pria itu telah berhasil menghirup udara Eropa, sebagian Afrika, Cina, dan India. Tentang Hindia Belanda, Edward telah lama mendengar nama negeri itu dari kakeknya, Edzard Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Edzard adalah seorang diplomat dan pernah menjabat sebagai Commissaris van de Konongin atau Gubernur di Provinsi Groningen, Belanda. Kakeknya sering menyebut-nyebut negara kepulauan di Hindia Timur itu sangat elok dan kaya raya.

Tak hanya itu, semasa kuliah di Rotterdam, Edward juga memiliki banyak teman dari Hindia Belanda. Para pelajar itu lebih senang menyebut identitas bangsanya sebagai Indonesia karena senang berinteraksi dengan mereka. Ia juga tak segan belajar bahasa Melayu kepada kawan-kawannya.
Nama Muhammad Hatta adalah salah satu pelajar Indonesia yang terkenal di Belanda. Edward tak pernah bertemu, tetapi Pendiri Indische Vereeniging  itu sempat ramai beritanya ketika dipenjara oleh Pemerintah Kerajaan Belanda.  

Ia sangat penasaran dengan negara tersebut. Karena itu, saat mengetahui Pamannya, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1936, dirinya berjanji bahwa suatu saat ia akan datang ke negeri tersebut. 

Sore itu, telah sampailah niatnya untuk berada di Hindia Belanda. Untuk pertama kali, kaki panjangnya menyentuh tanah Batavia. Angin sore pelabuhan Tanjung Priok bertiup kencang mempermainkan anak rambutnya. Sejenak, pria itu berdiri kembali menghadap lautan menikmati senja pertama di Batavia. 


Kapal-kapal uap besar tampak merapat di dermaga. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai, menciptakan aura ketenangan dan kedamaian. Edward meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Berminggu-minggu berada di lautan, telah membuat seluruh badannya terasa pegal. Ia sangat merindukan daratan.

Di antara deretan kapal-kapal besar itu, Raden Harjo sibuk mencari seseorang. Ia sudah berkeliling dari satu kapal ke kapal lainnya. Pasalnya, sang gubernur sudah berpesan agar menjemput keponakannya yang hari ini akan sampai di Batavia.
"Kapten, apa tadi di kapalmu ada seseorang yang bernama Edward van Starkenborgh Stachouwer?"
Kapten kapal Batavia bernama Peter Jackson itu hanya memutar dagunya ke arah pantai.
"Itukah orangnya? Terima kasih." 


Pria itu hanya mengangguk malas tanpa senyum sedikit pun di wajahnya. Raden Harjo segera menghampiri pria yang ditunjuk sang kapten. Dengan penuh hati-hati, ia menyapa pria tersebut.
“Goedemiddag, Meener. Ik ben Raden Harjo. Gezant van de gouverneur .”
Edward mengangguk paham. Ia pun mengulurkan tangan dengan ramah. “Mijn naam is Edward van Starkenborgh Stachouwer.”


Societeit de Harmonie


Batavia, Maret 1940.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, beserta istrinya, Christine Marburg, berkunjung menemui Edward sore itu. Hein ter Poorten, sebagai tuan rumah, menyambut  orang nomor satu di Hindia Belanda itu dengan  jamuan teh sore yang hangat sebagai ucapan selamat datang.

Rumah Hein ter Poorten sangat luas. Bangunan rumah bergaya klasik Eropa, dikelilingi halaman dan kebun tak kalah luasnya. Perwira artileri yang sudah mendapatkan surat izin penerbangan internasional itu, banyak memiliki pekerja dari pribumi yang disebut jongos (laki-laki) dan babu (perempuan) untuk mengurus rumah, peternakan serta kebun-kebunnya.

Ia memiliki puluhan ekor kuda dan mempekerjakan 14 pekatik. Pria itu juga memiliki 5 orang tukang kebun untuk mengurus taman melati. Di kebun sayur ada 9 orang pekerja, dan khusus untuk mengurus rumput, ia mempekerjakan 20 orang. Selain itu, ada pengawas selokan, sarang burung walet, pengangkut pedati, dan 30 orang pembantu di dalam rumah yang kerjanya antara lain mencuci, menyapu, mengepel, memasak, serta pekerjaan domestik lainnya.

Nyonya Poorten mengajak Ivanna Rose dan Nyonya Christine Marburg untuk menikmati keindahan kebun melati. Sementara itu, Gubernur Tjarda, Hein ter Poorten, dan Edward tengah berbincang serius di ruang tengah.

“Hitler semakin gila! Dia sudah menginvasi Polandia. Negara Prancis dan Britania Raya sudah menyatakan perang terhadap Jerman. Dia ingin menguasai Eropa. Bukan tak mungkin mereka juga akan menyerang negara kita.” Mata Gubernur Tjarda berkilat. Ia terus mengikuti berita invasi negara poros yang dimotori Jerman, Jepang, dan Italia terhadap negara-negara sekutu.


Tentang Novel Rembulan di Langit Batavia 

Nama Penulis : Een Suryani
Judul Buku : Rembulan di Langit Batavia
Genre : Roman Sejarah



Rembulan di Langit Batavia' :

Edward van Starkenborgh adalah keponakan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang sering melakukan perjalanan ke banyak negara. Ia juga seorang penulis dan selalu mencatat pengalaman perjalanannya ke berbagai tempat.

Pada tahun 1940, Edward pergi ke Batavia untuk membuat buku Sejarah Batavia. Kedatangannya dijemput di Pelabuhan Tanjung Priok oleh utusan Gubernur Jenderal bernama Raden Harjo. Di rumah Raden Harjo, dia dikenalkan dengan anak gadisnya bernama Mariam. Mariam baru saja lulus dari AMS (SMA) dan pintar berbahasa Belanda. Raden Harjo adalah pribumi kalangan ningrat yang bekerja sebagai pengawas perkebunan milik Pemerintah Hindia Belanda. Mariam mempunyai kakak laki-laki bernama Pramono. Pelajar STOVIA yang kritis dan aktif di organisasi pergerakan bawah tanah berhaluan komunis. Mariam mengajar di Sekolah Rakyat, sekolah untuk kalangan bawah yang hanya mengajar membaca, menulis, dan berhitung.

Selama di Batavia Edward tinggal di rumah pejabat militer Hindia Belanda, Hein ten Porten. Edward sering meminta Mariam menemaninya berkeliling Batavia sebagai guide. Dia juga sering membantu Mariam mengajar. Kedekatan mereka membuatnya jatuh cinta satu sama lain. Namun hubungan ini ditentang oleh Raden Harjo dengan alasan perbedaan ras dan suku bangsa. Raden Harjo takut Mariam hanya akan dijadikan perempuan peliharaan sebagaimana lazimnya yang terjadi di zaman itu.  Perempuan pribumi tidak pernah dinikahi secara sah, karena dianggap aib. Selain itu, Raden Harjo yang mulai mengenal nasionalisme dan islam dari KH. Agus Salim, menentangnya dengan alasan perbedaan agama. Apalagi Edward adalah seorang agnostik. Raden Harjo tidak memperbolehkan Mariam bertemu Edward.  Mariam pun menerima dan memahami alasan ayahnya.

Pada tahun 1942, Jepang masuk ke wilayah Asia Pasifik dan mengancam kedudukan Belanda. Edward diminta meninggalkan Batavia oleh Hein ter Porten dan Gubernur Jenderal. Hein menyuruh Edward menyelamatkan istri dan putrinya yang juga menyukai Edward. Jepang dikenal bengis dan akan membunuh warga Eropa yang tertinggal. Edward dihadapkan pada pilihan sulit. Sehari sebelum rencana meninggalkan Batavia, Edward memaksa menemui Mariam dan memberinya pilihan. Mariam diminta datang ke dermaga esok hari jika masih menginginkannya. Ikut pergi bersamanya atau tetap tinggal di Batavia, Edward tak peduli lagi dengan ancaman Jepang.

Keesokan harinya, sampai kapal siap berangkat, Mariam tidak juga datang. Ia menyembunyikan diri di pelabuhan dan diam-diam melepas kepergian Edward. Hanya sepucuk surat yang menyentuh dan syal wool biru yang diberikan melalui utusannya. Edward pun pergi dari Batavia dengan hati sedih karena menganggap Mariam tidak menginginkannya.

Edward pergi ke Australia lalu terbang menuju Mesir. Wilayah yang steril dari PD 2 dan berada di bawah kedudukan Inggris. Dia dititipkan Hein di rumah seorang perwira Inggris.

Selama di Mesir Edward bekerja di kedutaan Belanda dan mulai bersentuhan dengan islam. Dia sering terlibat diskusi dan kajian islam di kedai kopi bersama Hasan Albanna, pemimpin kharismatik Ikhwanul Muslimin Mesir. Setelah pergulatan panjang, Edward pun masuk islam disaksikan jamaah salat Zuhur di Masjid Al-Azhar. Dia merampungkan kembali tulisan Sejaran Batavia yang sempat terbengkalai dan berencana menerbitkan bukunya di Batavia yang sudah berubah menjadi Jakarta.

Selama di Mesir, Edward menyaksikan dukungan yang luar biasa dari Ikhwanul Muslimin dan masyarkat Mesir untuk pengakuan kedaulan RI yang baru saja merdeka. Edward bertemu KH Agus Salim dan rombongannya yang menemui Pemerintah Mesir untuk mendapatkan dokumen pengakuan kedaulatan.

Pada tahun 1947, Edward  kembali ke Indonesia. Saat itu, Belanda yang membonceng tentara sekutu kembali datang. Jakarta dijaga ketat tentara Belanda. Mereka melancarkan agresi militer dan menguasai Jakarta. Ibu kota Indonesia telah dipindahkan ke Jogjakarta.

Edward menemui seorang temannya untuk menerbitkan bukunya. Selain itu, ia pun kembali mencari Mariam di rumahnya. Mariam ternyata tinggal di Jogja bersama ayahnya. Hanya ada Pramono, kakaknya, yang mengabarkan Mariam akan menikah dengan laki-laki lain.

Mariam didesak oleh Pram untuk menerima pinangan Achmad Hadinata, teman Pram waktu di STOVIA. Sebelum menerima pinangan tersebut, Mariam meminta diizinkan ke Jakarta untuk melihat rumah masa kecilnya dan tempat-tempat yang biasa ia kunjungi bersama Edward. Saat Mariam ingin benar-benar melupakan Edward, justru ia kembali dipertemukan dengan lelaki itu di pantai saat lima tahun lalu melepasnya.

Mariam memutuskan untuk kembali ke Jogja untuk meminta restu ayahnya. Edward menyusul Mariam dan menemui Raden Harjo. Mereka pun diminta menikah saat itu juga. Raden Harjo sangat senang dengan keislaman Edward.

Edward mengabadikan kisah cintanya dalam buku 'Rembulan di Langit Batavia'. Menjadi hadiah terindah untuk Mariam, gadis Batavia berwajah rembulan yang sudah Edward sukai saat pertama kali melihatnya.

Sepuluh tahun kemudian  Edward dan Mariam diceritakan menetap di Cirebon. Saat Jogjakarta diserang Belanda tahun 1948, mereka dititipkan Raden Harjo kepada keluarga kerajaan kasepuhan Cirebon. Raden Harjo sendiri ditangkap bersama Soekarno Hatta dan sejumlah menteri. Ia dikabarkan tewas dalam pengasingan di Pulau Bangka. Edward dan Mariam hidup berbahagia dan dikaruniai empat orang anak.

Bagi yang ingin memesan buku ini bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi

Powered by Blogger.