Menu
/

www.MomsInstitute.com - “Menjadi ibu itu adalah panggilan hidup, maka perlu proses menerima panggilan tersebut dengan sepenuh hati, dan meningkatkan kemuliaan peran yang diemban.”-Septi Peni Wulandari, Founder Institut Ibu Profesional- Irma Tazkiyya menuliskan buku yang bukan hanya membuat seorang ibu belajar namun juga papa, menghidupkan peran menjadi orang tua. Seperti apa buku "Menjadi Mama dan Papa yang Asyik" Karya Irma Tazkiyya?


Sering anak melihat orangtuanya berbeda sudut pandang dalam mengambil keputusan. Terkadang membuat anak ikut bingung. "Oh Mama ini enak,apa saja diperbolehkan, oh Papa itu ketat, nggak asyik" pikir anak-anak. Maka mereka pun memulai drama-drama agar mendapat perhatian dan orangtua luluh dalam rengekan. Perbedaan sudut pandang dan hasil keputusan bisa membuat Mama dan Papa pun jadi ribut kecil hingga ribut besar, akhirnya lepas kontrol, marah-marah dan saling menyalahkan. 

Dalam buku "Menjadi Mama dan Papa yang Asyik, ada pembahasan tentang mengelola emosi, berikut ulasannya :



Dari Ibnu Abbas Ra, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” Posisi kita pun sangat memengaruhi, bila sedang emosi atau marah, sebaiknya kita mengambil posisi yang lebih rendah. Maksudnya adalah jika sedang berdiri, maka duduklah. Jika sedang duduk, maka berbaringlah. Sebagai seorang istri dan ibu muda, saya banyak belajar ilmu parenting, salah satunya ilmu komunikasi di dalam rumah. Ada beberapa kaidah yang saya pelajari dan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi kita:


1. Kaidah 2C: Clear and Clarify


Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time


Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan.


3. Kaidah 7-38-55


Kaidah ini yang paling saya ingat. Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%). Contohnya, bila pasangan kita mengatakan “Aku jujur. Sumpah berani mati!” Namun, matanya ke sana-kemari, tak berani menatap lawan bicara serta nada bicaranya mengambang, maka pesan apa yang kita percayai? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi? 

4. Intensity of Eye Contact


Ini dia, trik berkomunikasi dengan pasangan yang bisa melekatkan hati dan tambah romantis. Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa kita terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi.

5. Kaidah: I'm responsible for my communication results


Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan. Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan dia. Cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Ini adalah tips yang sangat baik untuk kita praktikkan, agar komunikasi dengan pasangan terbangun secara efektif. Ingat ya, komunikasi yang baik itu bisa terjadi jika kita memiliki kesadaran bahwa perbedaan itu selalu ada dalam rumah tangga. Hasilnya, kita dan pasangan akan lebih empati sekaligus saling memahami satu sama lain.

  Selanjutnya, bagaimana komunikasi dengan anak-anak? Mungkin anak-anak kita tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah untuk meng-copy. Jadi, kalau kita ingin tahu gaya komunikasi diri sendiri, lihatlah anak kita. Maka dari itu, sebagai orang tua harus belajar cara berkomunikasi yang efektif dan produktif. Jangan pernah menuntut anak–anak untuk memahami gaya komunikasi kita sebagai orang tuanya. 


Lantas, bagaimana caranya?


1. Keep Information Short & Simple (KISS)


a.Kalimat tidak produktif, “Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.”
b.Kalimat produktif, “Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur, ya.” (Biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru Anda berikan informasi yang lain).


2. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah


a.Kalimat tidak produktif, “Ambilkan buku itu!” (Tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
b.Kalimat produktif, “Nak, tolong ambilkan buku itu, ya” (Suara lembut, tersenyum, menatap wajahnya). 
Hasil perintah pada poin a dengan b akan berbeda. Pada poin a, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin b, anak akan mengambilkan buku dengan senang hati.

  • Daftar Isi
  • Testimoni buku
  • Persembahan cinta
  • Hakikat menjadi orang tua
  • Panggilan Hati Menjadi Ibu
  • Kita Berbeda, Namun Satu dengan Komunikasi Produktif
  • Ajak Anak Mandiri, Yuk!
  • Mama dan Papa yang Asyik
  • Family Project “Liburan ke Laut”
  • Memahami Gaya Belajar Anak, Mendampingi dengan Benar
  • Anak yang Suka Membaca
  • Menstimulus Matematika Logis pada Anak
  • Menjadi Bintang
  • Membangun Karakter Anak dengan Mendongeng
  • Belajar sambil Bermain
  • Bermain dengan Bayi
  • Bermain dengan Anak Usia 1-2 Tahun
  • Bermain dengan Anak Usia 2-3 Tahun
  • Bermain dengan Anak Usia 3-4 Tahun
  • Bermain dengan Anak Usia 4-5 Tahun
  • Cheklist Indikator Perkembangan Anak
  • Cheklist Indikator Perkembangan Anak Usia 0-1 Tahun
  • Cheklist Indikator Perkembangan Anak Usia 1-2 Tahun
  • Cheklist Indikator Perkembangan Anak Usia 2-3 Tahun
  • Cheklist Indikator Perkembangan Anak Usia 3-4 Tahun
  • Cheklist Indikator Perkembangan Anak Usia 4-5 Tahun
  • Epilog
  • Sumber Bacaan
  • Tentang Penulis



Testimoni buku “Menjadi Mama dan Papa yang Asyik”


“Menjadi Mama dan Papa yang Asyik” ini merupakan dambaan bagi semua orang tua. Yang perlu kita pahami, asyik menurut anak belum tentu asyik menurut orang tua. Buku ini memberikan panduan bagaimana kita sebagai orang tua bisa memahami hal-hal asyik yang disukai oleh anak-anak. Akhirnya kita akan melibatkan diri kita berdua (mama dan papa) dalam kehidupan anak-anak dengan bahagia.” 
-Septi Peni Wulandari, Owner and Founder Institut Ibu Profesional-




“Memiliki buah hati, bukan hanya menjadikan rumah tangga lengkap. Namun juga ada tanggung jawab bersama menjaga titipan Ilahi, bagaimana menjadikan anak-anak menjadi generasi Rabbani. Tugas utama orang tua mendidik anak bukan hanya pada mamanya saja, tetapi juga para ayah. Menjadi orang tua akan belajar sepanjang masa, membersamai buah hati tercinta. Baca buku ini akan menambah referensi untuk belajar “Menjadi Mama dan Papa yang Asyik.”
-Ernawati Lilys Penulis, blogger, founder MomsInstitute (www.momsinstitute.com)-



”Setiap anak memiliki karakter yang unik, betapa pentingnya orang tua untuk mengenal dan memahami karakter anak. Masa depan anak tergantung dari pola asah, asih dan asuh orang tua. Buku ini bisa menjadi panduan para orang tua muda khususnya untuk memahami dan mengatasi permasalahan pada proses tumbuh kembang anak. Dengan gaya penulisan yang ringan dan menarik ditambah juga contoh aktivitas yang mudah diterapkan. Buku yang dinantikan kehadirannya oleh para orang tua. Semoga berkah dan bermanfaat, Aamiin.”

-Eky Muryadi, S.Pd, Manager Program Lembaga Kemanusiaan ESQ, Pegiat kemanusiaan, pendidik, pembelajar-



”Menjadi Mama dan Papa yang asyik.”  Dari awal melihat judulnya yang “eye catching”, bikin penasaran  ingin  membacanya.  Buku ini berisikan panduan bagaimana mendampingi anak anak kita dirumah dan mengevaluasi tumbuh kembang anak secara asik. Yang tidak kalah menariknya ada beberapa contoh permainan yang bisa mama dan papa lakukan di rumah bersama buah hati, karena bermain adalah metode yang paling tepat untuk pembelajaran anak serta merupakan cara anak dalam meniru kehidupan orang dewasa di sekeliling mereka. (Froebel 1782-1852).

-Angie Hana Sya'bani Kamalia, M.Ed, dosen pendidikan dan seorang ibu pembelajar. Aktif di Institut Ibu Profesional Asia-


Tentang penulis 



Irma Tazkiyya, lahir di Jakarta 19 April 1989. Anak yang mempunyai darah betawi dan sunda ini menyelesaikan pendidikan S1 Nursing dilanjutkan dengan Profesi Ners. Pernah bekerja di salah satu rumah sakit swasta yang sudah terakreditasi JCI (Joint Commission International). Setelah menikah, mengikuti hijrah suaminya dari Indonesia ke Jeddah, KSA. Di Jeddah memutuskan untuk melepaskan kariernya sebagai nurse. Saat ini menjadi seorang ibu rumah tangga seutuhnya sekaligus ibu pembelajar. Sebagai partner suami, Mas Afnan Firdaus menjalani kisah hidup dan membersamai kedua buah hati ‘Tsaqifah Fahimmah Firdaus' dan ‘Mamduh Afnan Firdaus.’
Sebagai ibu pembelajar, Irma Tazkiyya mengikuti kelas-kelas online maupun offline untuk meng-upgrade dirinya. Salah satunya belajar di Institute Ibu Profesional dan di Rumah Belajar Literasi IP Asia. Sebagai seorang yang menjadi madrasah pertama untuk anak-anaknya, saya belajar online di Islamic Center Jeddah. Saat kuliah aktif di berbagai organisasi, tulisan opini dan puisi nya pernah menghiasi buletin kampus.

Buku : Menjadi Mama dan Papa yang Asyik
Penulis : Irma Tazkiyya
Penerbit : Mandiri Jaya
Halaman : 194 Halaman
Tahun Terbit : 2019
ISBN : 978-602-0799-66-7



Bagi yang ingin memesan buku ini bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB


Salam Inspirasi 

3 comments:

Powered by Blogger.