Menu
/

www.MomsInstitute.com - Anak-anak punya cita-cita yang berbeda, ada yang ingin jadi dokter, tentara, guru, dan lainnya. Seru sekali membaca kisah-kisah penulis cilik di bawah ini. Apa saja kisah mereka tentang sebuah cita-cita yuk kita baca. 


Cita-Citaku 

Pustakawan yang Hafiz Alquran
Oleh: Wardatul Husna


Wardatul Husna nama yang diberikan kakek untukku. Warda panggilanku, tetapi bukan wardah kosmetik, ya. 

Apa cita-cita teman-teman? Beberapa kali ibuku bertanya, “Kelak saat Kakak sudah besar ingin menjadi apa?”

Aku menjawab tidak tahu. Aku masih bingung, tetapi satu yang pasti aku ingin menjadi penghafal Alquran. Aku kelas satu di SDIT Tahfidzul Qur’an Ihsanul Fikri 2. Dulu saat masih di TK ibu bercerita, target hafalan di sekolah tersebut adalah 15 juz atau separuh Alquran. Teman sekelas TK-ku tidak banyak yang bersekolah di sana. 

Ibu benar-benar meyakinkanku lagi. Akan tetapi aku sudah yakin untuk bersekolah di sana. Sekarang aku sudah punya banyak teman baru dan temanku banyak. Aku sekolah di sana.

Aku pernah membaca buku Seri Cinta Alquran, di dalam buku diceritakan siapa yang mampu menghafal Alquran kelak di akhirat aku akan memakaikan mahkota untuk ayah dan ibuku. 

Seperti sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang menghafal Alquran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orangtuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orangtuanya bertanya, ‘Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?’ Lalu disampaikan kepadanya, ‘Disebabkan anakmu yang telah mengamalkan Alquran.’” (HR. Hakim) 

Ibu juga pernah bercerita pada hari kiamat nanti akan datang masa ketika orang tua akan lupa anaknya, dan anaknya akan lupa orang tuanya. Semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Tak ada orang lain yang bisa menolong, tetapi Rasulullah bersabda, “Bacalah Alquran karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para sahabatnya.” (HR. Muslim). Semoga dengan menghafal Alquran aku dan keluargaku bisa masuk surga. 


Model Cilik
Oleh: Carissa Dwi Putri Agustin


Aku Carissa, anak kedua dari tiga bersaudara. Aku pelajar kelas empat  di SDN Cilendek 2 Bogor.

Sehari-hari aku pakai jilbab di sekolah maupun di rumah. Ketika bermain, aku juga memakai jilbab.

Aku senang sekali berdandan. Aku senang pakai baju rapi. Aku sering pakai bedak dan minyak wangi.

Aku senang bergaya di depan kamera. Foto-fotoku banyak sekali. Aku juga sering bikin video sendiri.

Foto dan videoku sering tayang di wa, fb dan ig. Aku senang bila ada yang like atau love fotoku.

Aku juga senang menari dan bergaya di panggung pada acara 17 Agustus-an. Aku ingin sekali bisa menjadi ahli dandan, bisa bikin cantik orang lain.



GURU CILIK
Oleh: Aisha rahmani zulkarnaen


Caca nama panggilaku.sehari-hari aku kelas lima SDIT Aliya. Papah adalah seorang pegawai swasta, mamaku adalah seorang dosen. Aku ingin menjadi guru seperti mamaku. Walaupun mamahku dosen aku guru, tetapi aku sama mamah sama-sama pejuang ilmu untuk genarasi selanjutnya.

Mamahku berkata, kalau Caca mau menjadi guru maka harus belajar dengan sunggu-sunguh dan tekun. Aku pun harus bisa belajar sungguh-sunguh dan tekun. Awalnya saat aku bercita-cita menjadi polisi karena polisi itu hebat bisa menangkap orang-orang yang jahat, pemakai narkoba dan menilang yang melanggar aturan. Tetapi itu cita-citaku saat kecil saat aku masih TK. 

Saat kelas satu dan dua SD aku ingin mejadi pemain biola, karena saat itu aku ekstra kurikuler biola. Saat kelas tiga aku ingin menjadi guru biola. Saat kelas empat SD aku tidak yakin ingin menjadi pemain dan guru biola. 

Aku berpikir aku bisa mengejar cita-cita  semua yang aku inginkan dengan satu cita-cita yaitu guru. Aku menjadi guru terinspirasi dari  mamah yang seorang dosen. Guru dan dosen kan sama-sama pejuang ilmu. 

Mengapa aku bilang guru adalah semua cita-cita, karena guru bisa melahirkan semua cita-cita dengan cara mendidik anak-anak generasi selanjutnya. Aku yakin pasti nanti anak-anak generasi selanjutnya cita-citanya beragam ada yang menjadi dokter, polisi, tentara, pemain biola,  arsitek, koki, pengusaha, professor, insinyur, dosen, pelukis, desainer, musisi, pemain piano atau keyboard, penyanyi, drum band dan guru bahkan ibu rumah tangga, dan lain-lain. 


Cita-Citaku
Oleh: Azzam Ats Tsaqib


Namaku Ivan Veloz. Usiaku 11 tahun duduk di bangku kelas VI SD.  Aku punya banyak sahabat baik dan sering bermain bersama. Kami tinggal di daerah pesisir Utara Jawa. Kami juga masing-masing memiliki keluarga yang berbeda dari suku daerah dan pekerjaan orang tua. Tapi kami punya komitmen yang besar untuk tetap bersahabat hingga dewasa nanti. Kami pun sering berbeda pendapat mengenai cita-cita atau selera makanan. Namun meskipun berbeda tapi kami selalu saling membantu dalam semua hal. Kami selalu bermain dan belajar bersama.

Teeeet! Bunyi bel sekolah. Tanda pelajaran berakhir. Saatnya kami pulang ke rumah masing-masing. Namun seperti biasanya aku, Harianto, Ikhsan, Dafa, dan Anto pulang bersama-sama jalan kaki menyusuri jalan raya. Rumah kami cukup dekat dari sekolah berjarak 1 km.  Setiap hari kami pulang naik kendaraan umum (elf). 

Ayah Harianto adalah sopir elf.  Karena itu tidak mengherankan jika  Harianto punya  keinginan yang sama yaitu memiliki banyak bus dan mobil. Dafa ingin pengusaha travel agar bisa kerjasama dengan Harianto. Ikhsan lebih tertarik untuk menjadi pengusaha properti membangun rumah karena Ikhsan selama ini hidupnya sering pindah rumah karena masih mengontrak. Anto tertarik untuk mengolah sampah plastik menjadi barang yang lebih bermanfaat. Ayah Anto adalah pemulung sampah di kampung kami. Kalau aku ingin menjadi dokter.


Joni, Si Koki Cilik
Oleh: Gregorius Randi Heryudanto


Ada seorang anak bernama Joni. Dia siswa kelas IV. Joni bercita-cita menjadi koki. Tokoh idolanya adalah Chef Rudi. Dia suka menonton tayangan memasak oleh Chef Rudi. Kesenangannya itu membuat Joni sering membantu ibunya memasak di dapur. Bahkan, Joni memasak sarapan sendiri. Meski masakannya masih harus selalu diperbaiki lagi rasanya oleh sang ibu. Setiap Joni memasak, tak bosan-bosan ibunya memberi masukan tentang rasa masakannya. 

“Jon, masakanmu ini kurang asin, ya. Ibu tambahkan garam sedikit biar lebih sedap. Bagaimana?” tanya ibu sambil menunggu persetujuan Joni. 
“Ya, Bu. Boleh. Joni senang, kok, kalau Ibu mau menilai masakan Joni.” 
Dengan suka cita, ibu memperbaiki cita rasa masakan Joni. 
“Hmmm ... yummi ... rasakan ini, Nak! Sekarang terasa lebih sedap!” seru ibu kepada Joni. Joni segera menghampiri ibu dan mencicipi masakan tersebut. 
  “Nyam ... nyam ... nyam ... benar, Bu. Cap cay kuah ini sekarang terasa lebih sedap. Besok Joni ingin berusaha lebih baik lagi, ya, Bu!” kata Joni sambil memandang ibu penuh keyakinan. Ibu mengangguk mantap dan memeluk anak semata wayangnya itu. Semangat Joni untuk menjadi chef semakin membara, hingga suatu saat …
***


Ardelia’s Adventure
Oleh: Dzakiyah Afifatunnisa Muthohhar


Hai, Guys … Namaku Ardelia putri Shafira. Panggil aku Ardelia. Aku lahir di Surabaya, 12 Juni 2003. Hari ini di sekolahku ada “Student Exchange Program”. Menurut banyak orang, itu pertukaran pelajar. Bukan maksudnya kita tinggal di negara yang pertukaran pelajar dengan negara kita. Tapi itu adalah jalan-jalan keluar negeri sekaligus belajar banyak pengetahuan. Kata pengurus kegiatan ini, kita mau ke negara Singapura. 

Itu adalah negara favoritku dan belum pernah kukunjungi. Mau tahu bagaimana keseruanku? Yuk, ikut kisah petualangan aku di buku ini. Jangan sampai terlewat ya, hihihi ... 
Hari yang ditunggu.
“Bunda ... sampai sini saja ya, mengantarnya ... di sana sudah ada banyak teman-temanku yang sudah lama menunggu. Assalamu’alaikum.” ucap Ardelia.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ya, Nak.” ucap bunda Ardelia. 
“Iya, Bu ...” jawab Ardelia.
“Ardelia, hari ini kamu terlihat sangat cantik. Rambutmu yang panjang digerai dan memakai baju kodok dan rok. Tidak sabar, ya menunggu pesawatnya berangkat?” goda teman Ardelia yang benama Eca. 

“Iya, nih, hihihi. Aku tidak sabar menunggu keberangkatan pesawat. Oh, iya ...  kamu juga cantik kok hari ini, kamu mengikat rambutmu yang panjang, memakai baju berlengan pendek dan memakai celana jeans berwarna biru. Kamu terlihat sedikit tomboy, kok. Walaupun begitu kamu masih tetap lebih cantik dariku,” goda Ardelia balik. 


Aku Ingin jadi Tentara
Oleh: Al Fatih


Namaku Al Fatih, umurku tujuh tahun. Aku  kelas satu Sekolah Dasar.   Aku bangun pagi setiap hari lalu salat subuh dan sarapan pagi. Aku berangkat ke sekolah pagi-pagi agar bisa salat duha di sekolah. Kegiatan ini rutin dilakukan di sekolahku. Aku akan ditanya bu guru, “Sudah salat belum?” tanya Bu Nur.
Aku mulai belajar, buku pelajaran dibuka dan dibaca bersama. Sahabatku dan duduk di sebelahku bernama Fairuz. Fairuz anak yang  lucu, dia selalu membuatku tertawa. Aku dan Fairuz berteman baik. Fairuz mau jadi Kapiten, aku mau jadi tentara agar bisa lihat tank, pesawat, bikin robot, belajar menembak, belajar naik mobil tentara. 

Kata mama aku kalau mau jadi tentara harus rajin belajar supaya pintar, juga rajin olahraga supaya kuat. Aku harus membantu orang tua agar jadi anak berbakti. Selain itu, kalau selesai main maka semua mainan dirapikan kembali. Makan harus  sendiri agar mandiri.

Kata  bu guru harus jadi anak yang baik. Tidak boleh bertengkar dengan teman. Harus saling menolong dan menghormati. Tidak boleh berkata kasar, dan jangan bercanda yang berlebihan. 


Aku Ingin jadi Guru
Oleh: Nelfi Maulida


Namaku Nelfi Maulida. Umurku enam tahun, sudah besar ya. Suka hitungan dan bisa baca. Aku punya adik namanya Halwa, umur sepuluh bulan. Halwa sudah bisa jalan, sudah tumbuh gigi ada tiga.  Halwa gigi bawahnya ada dua. Halwa nama lengkapnya Halwa Mufidah.
Cita-citaku mau jadi guru, agar bisa ngajarin adikku Halwa. Halwa jadi dokter supaya bisa main dokter-dokteran. 
Aku suka baca buku dan gambar. Kata ibu gambar aku sudah bagus dan rapi, tidak kena garis. 

Aku sering menggambar setiap hari, jadi bisa rapi. Sekarang aku sekolah di Bimba Permata AIUEO. Setiap hari Senin sampai Jumat. Temanku namanya Nay, Keke, Mput. Bu guru namanya Bu Anita, guru yang baik hatinya. Aku senang sekolah dan bertemu guru dan teman-temanku. Aku mau jadi guru agar bisa mengajari banyak orang.



Dokter
Oleh: Bunga Meilani 


Dokter adalah pekerjaan yang bertugas mengobati orang  sakit. Dokter adalah pekerjaan yang mulia, sebab itu aku memilih dokter sebagai cita-citaku.
Sejak kecil aku sangat menyukai permainan dokter-dokteran.  Pensil aku jadikan sebagai suntikan dan boneka aku jadikan sebagai pasien yang sakit. Kadang-kadang aku bermain bersama adik.

Menjadi seorang dokter memang tidak mudah, tapi bukan mustahil untukku. Menjadi seorang dokter harus memiliki pendidikan tinggi atau bersekolah khusus kedokteran yang biayanya cukup mahal. 

Ada kalanya aku berpikir, apakah orang tuaku bisa membiayaiku? Apakah aku merepotkan akan mereka? Tetapi orang tuaku berkata, "Kejarlah cita-citamu setinggi mungkin, masalah biaya nomor dua," 

Setelah orang tuaku berkata seperti itu aku langsung bersemangat dan selalu mencari celah atau peluang untuk mengejar cita-citaku. Apa gunanya aku menyerah dan putus asa, sedangkan orang tuaku sudah memercayaiku dan siap berjuang untuk menyekolahkanku.

Namun teman-teman, cita-citaku bertolak belakang dengan hobiku. Cita-citaku ingin menjadi dokter, sedangkan hobiku adalah menggambar. Setelah kupikir hobi menggambar akan aku selingi pada waktu luang dan cita-cita kujadikan tujuan untuk masa depan dan kebahagian orang tuaku.

Jadi teman-teman, apakah kalian juga punya cita-cita yang sama? Ayo perjuangkan cita-cita kalian! Gunakan waktu sebaik mungkin! Karena waktu adalah emas, janganlah kamu menyia-nyiakan waktu. Kejarlah jangan putus asa dan jangan menyerah, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.



Review Buku Cita-Citaku 


Teman-teman, apa cita-citamu ?
Ivan sangat ingin menjadi dokter, bisa memiliki rumah sakit dan bisa memberikan pengobatan gratis untuk orang tidak mampu. Mulia sekali, ya …
Carisa ingin menjadi model dan hobinya berfoto. Seru banget!!

Caca ingin menjadi guru. Karena guru melahirkan semua cita - cita. Yes, siapa pun itu, polisi, tentara, pilot, dokter akan belajar bersama  guru.
Joni bercita-cita menjdi chef handal. Selalu berlatih. Tetapi saat ada yang mencibir masakannya tak enak, apa Joni putus asa ?

Warda bercita – cita menjadi pustakawan. Peradaban besar negara yang berjaya bisa dilihat dari perpustakaannya, lho.
Kalau Ardelia dengan kemampuan bahasa Inggrisnya yang fasih kira-kira mau jadi apa, ya? Masih ada Al Fatih yang ingin jadi tentara. Juga Nelfi dan Bunga dengan cita-cita mereka masing-masing. Penasaran, kan?

Yuk, ikuti cerita petualangan seru mereka meraih cita-cita! Karena Cita-cita harus diperjuangkan. Kita harus belajar yang rajin agar cita-cita kita tercapai.


Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi




Powered by Blogger.