Menu
/

www.MomsInstitute.com - Buku ini merupakan karya antologi dari @komunitasperempuanmenulis dengan beragam latar belakang. Kesamaan minat dalam dunia menulislah yang akhirnya mampu menyatukan. Semua yang tertulis di dalamnya adalah apa-apa yang bersumber dari hati, dengan harapan akan sampai pula ke dalam hati pembaca. Semoga setiap aksara yang disusun ini mampu menggugah hati para pembaca.  

PEREMPUAN MENULIS #2


Menulis dan Misi Penciptaan di Bumi
Oleh: Nisa Yustisia


“I want to be a writer,” kurang lebih begitulah perkenalan saya kala pelajaran Bahasa Inggris di kelas 1 SMP. Saya lupa, entah kenapa saat itu saya berpikir untuk menjadi seorang penulis. Berawal dari kebiasaan membaca saat SD, hobi untuk menulis pun berlanjut. Majalah Bobo, novel  Lupus, Harry Potter, Detective Conan, dan banyak buku lainnya menjadi teman saya ketika kecil dan remaja. 

Pekerjaan bapak yang berpindah-pindah kota membuat saya juga harus pindah sekolah. Untuk mengobati rasa rindu dengan teman-teman di sekolah lama, saya pun mulai berkirim surat kepada mereka. Ya, saat itu sekitar tahun 1999, belum marak handphone seperti sekarang. Kami menulis via Pos. Menunggu balasan surat dari teman-teman menjadi hal yang menyenangkan. Banyak hal yang saya tuliskan dalam surat. Saya tidak menyadari bahwa dari kebiasaan itulah hobi menulis saya berawal.

Masa SMP dan SMA saya jalani layaknya siswi biasa lainnya. Namun, ketertarikan pada tulis menulis mungkin sudah melekat dalam diri. Akibatnya, ekstrakurikuler yang saya pilih ketika itu adalah ekskul majalah dinding dan jurnalistik.

Di bangku kuliah, hobi menulis saya mulai berkembang. Seperti yang sudah-sudah, saya memilih UKM jurnalistik. Setiap pekan, kami berdiskusi dengan Pak Hendra Sugiantoro (yang saat ini karyanya bertebaran di berbagai media massa). 
Tidak banyak personel dalam forum tersebut. Kadang berlima, berempat, bahkan bertiga. Walau kadang kebosanan menyergap, saya memaksakan diri untuk tetap bergabung dalam diskusi kepenulisan di salah satu gazebo kampus itu. 

Kenali Bahasa Cinta Pasanganmu
Oleh: Dina Harika


Hai Sista/Mas Bro .... Sudah berapa lamakah dirimu menjalin cinta halal? Tiga tahun, lima  tahun, atau mungkin sudah lebih dari 10 tahun. Sudah kenalkah dirimu sifat luar dan dalamnya pasanganmu? Pastinya sudah, ya ... tapi apakah dirimu sudah sangat mengenal bahasa cinta pasanganmu. Oopsss, apa ini, ya?

Pernahkah dirimu mengungkapkan cinta dengan kata-kata, lalu pasanganmu mengganggapnya lebay atau sudah bertahun-tahun menikah pasangan jarang mengatakan cinta atau sayang? Biasa saja, mungkin bahasa cinta pasanganmu bukan verbal. Atau pernahkah dirimu memberikan perhatian lebih dengan mengerjakan segala tugas rumah dan pasanganmu terlihat bahagia atau telaten mengurus dirimu di saat sakit? Mungkin bahasa cinta pasanganmu adalah pelayanan.

Pernahkah dimarahi atau si dianya jengkel saat dirimu sibuk dengan ponsel saat sedang menghabiskan waktu bersama?Mungkin bahasa cintanya adalah waktu berkualitas.

Saat istrimu ngomel karena keteledoranmu lalu kau sentuh pipiya atau kau peluk dia, dan dia diam.Bisa jadi bahasa cintanya adalah sentuhan.

Jadi sudah taukah dirimu apa itu bahasa cinta dan ada berapa jenis bahasa cinta? Yaps, bahasa cinta adalah cara mengungkapkan cinta kepada seseorang. Bisa jadi anak, orang tua, siswa, dan pasangan kita..


Penaku Curhatanku
Oleh: Ni Kadek Indradewi


Lembar demi lembar kutuliskan
Dalam buku harianku ini
Berjuta kenangan tercipta indah
Yang tak mungkin kulupa
Hanya namamu terukir indah
Kugoreskan dengan tinta emas
Bagaikan lembayung di ufuk barat
Yang menyinari hidupku

Mengalun merdu lagu lama yang dinyanyikan seorang artis yang jaya pada zamannya, terusik kembali hati untuk mengingatkan akan masa kecil yang penuh kenangan. Selalu terkisahkan dalam goresan pena, setiap kejadian tertata apik menuliskan kisah pada buku harian baik dalam keadaan sedih baik, gembira, bahagia, selalu tertulis di dalam buku harian.

Saat beranjak remaja pun tak luput dari goresan pena dan kertas putih. Kenangan, kejadian yang penuh kisah perjalanan dari study, bergaul dan kisah-kasih cinta selalu tertuliskan dalam buku harian. Pemahaman untuk menulis buku harian saat itu pun kurang mengerti, apa karena ikut-ikutan atau bagaimana. Hal yang penting asal dapat menulis dalam buku harian untuk mencurahkan isi hati sudah senangnya luar biasa, namun lambat laun umur semakin dewasa apalagi sudah berkeluarga. 

Pertanyaannya di sini, apakah menulis buku harian sudah tidak menjadi kebiasaan lagi disaat kita sudah berkeluarga? Namun apakah yang menjadi alasan? Apa disebabkan semakin banyaknya tugas-tugas, pekerjaan-pekerjaan yang menuntut untuk mengisi perut dan memenuhi kebutuhan keluarga? 


Bangkitlah, Setidaknya Melalui Tulisan
Oleh: Noerma Heni


Aku tahu air tidak selamanya jernih, kadang air tersebut menjadi keruh atau berwarna karena banyak limbah. Roda juga selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Jalanan pun  tidak selalu lurus, tetapi ada saatnya berbelok, menanjak atau menurun. Ya, that’s the real life tidak selamanya mulus, tidak seromantis drama korea, tidak sepuitis barisan diksi dalam novel dan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Aku tahu bagaimana capeknya melawan kegundahan hati, aku hafal banget bagaimana rasanya hampir putus sekolah, aku tahu pengkhiatan itu teramat sangat menyakitkan. Aku juga paham sesaknya menahan amarah ketika difitnah dan dicaci. Aku juga mengerti kegagalan terasa sangat menyedihkan dan meruntuhkan semangat yang sudah tertanam. 

Aku juga tahu betapa masalah itu begitu rumit, aku juga tahu bagaimana kesepiannya di saat tidak ada orang yang menyemangati, di saat semua orang mengganggap rendah kehidupan kita. Kesedihan yang menyayat hati, kekecewaan, kemurkaan, ya aku mengalami itu semua bahkan sahabat semua pun pasti pernah mengalaminya. Hei, kalian tidak sendirian, sadarlah!

Ada kisah yang menggetarkan hati dan mengoyak naluri kewanitaanku.
Sebutlah namanya Risna. Ia adalah seorang ibu muda dengan satu anak. Usia pernikahannya sudah delapan tahun, kala itu dia menikah di usia delapan belas tahun ketika sebelumnya sudah berpacaran cukup lama dengan suaminya tersebut. Ketika masih berpacaran, ia sudah tahu kalau kekasihnya ini bukan tipe pekerja keras dan pergaulannya kurang baik. Tetapi, tautan cinta di antara mereka mengalahkan ego dan logikanya. 

Kedua orang tuanya menikahkan tepat di tahun ketiga usia pacaran mereka. Dari pernikahannya itu dikarunia seorang anak laki-laki. Tahun demi tahun mengarungi kehidupan rumah tangga tetapi perangai suaminya tersebut tidak berubah. Masih kurang rajin mencari nafkah dan sering main judi serta menenggak minuman keras. Ketika berada di puncak pertikaiannya, seisi rumah beterbangan tersapu tsunami amarah si suami. 


Aku Akan Menulis Sampai Waktuku Habis
Oleh: Sovie Yustiar Briyandini


Gambarnya Fido Dido dan warnanya putih. Itu adalah buku diary pertamaku saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku menuliskan semua kejadian yang aku alami. Bercerita  tentang kegiatanku di sekolah, bermain apa, bertemu siapa, pokoknya apa saja yang terjadi aku tulis di buku diary-ku.

Kebiasaan menulisku ternyata bukan hanya kesenangan sesaat. Sampai aku beranjak dewasa, aku masih suka menuangkan banyak hal dalam bentuk tulisan. Rasa senang, rasa marah, pengalaman baru, semuanya aku representasikan dalam bentuk tulisan.

Bahkan ketika Allah memberiku rezeki berupa sakit kanker tulang, menulis merupakan salah satu media terapi yang aku pilih untuk mengobati diriku sendiri. Aku berusaha mengubah rasa sedih, rasa takut, segala kegalauan hati, percikan semangat dan rasa optimis menjadi sebuah cerita dengan energi yang positif.

Menulis seperti "me time" yang menenangkan untukku. Menggoreskan pena di atas kertas. Bercerita sedikit demi sedikit, mencurahkan rasa demi rasa sampai akhirnya aku selalu ingin menulis setiap saat. Menulis menjadi sebuah kebutuhan yang harus aku lakukan. Rasanya, sayang sekali membiarkan cerita kehidupan ini berlalu begitu saja. 

Lambat laun, ternyata aku tidak hanya sekadar menulis. Tulisanku bukan hanya sebuah luapan perasaan saja tapi aku punya harapan dari setiap kata yang tertuang. Aku ingin tulisanku membawa manfaat untuk banyak orang. Aku ingin ceritaku terangkum dalam goresan-goresan pena yang terbingkai rapi. Meskipun sudah tiada, tulisanku akan tetap ada.

Aku mulai menantang konsistensiku sendiri. Harus bisa menulis setiap hari tanpa tapi. Mencoba mengikuti challenge menulis 30 hari, berlatih menulis dengan clue yang sudah ditentukan, sampai pada tahap mulai berani ikut menulis dalam project buku antologi. Alhamdulillah sampai saat ini tulisanku sudah mendapat tempat pada empat buku antologi, satu kumpulan mini fiksi dan satu kumpulan tulisan nonfiksi. Tapi aku bukanlah orang yang cepat puas. Aku masih punya mimpi yang harus diwujudkan yaitu menorehkan karya tulisanku pada sebuah buku solo. 


Perempuan Menulis? Kenapa Tidak?
Oleh: Renitasari Oktaviastuti


Sebuah studi mengatakan bahwa seorang wanita itu harus mengeluarkan setidaknya 20.000 kata per hari. Jumlah yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan kaum pria yang hanya membutuhkan sekitar 7.000 kata. Dalam sebuah artikel kesehatan, saya pernah membaca bahwa di dalam otak wanita terdapat semacam protein yang dinamakan “protein berbahasa”. Semakin banyak jumlah protein tersebut, maka semakin cerewetlah seorang wanita. 
Benarkah demikian?

Kenyataannya, ada sebagian wanita yang tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Mereka cenderung memilih memendam semua. Alih-alih membuat perasaan lega, mereka justru terbebani dengan ketidakmampuan mengekspresikan diri. Akibatnya, kesehatan mental seorang wanita pun dipertaruhkan.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?
Menulislah.

Sebagian orang menganggap bahwa menulis itu hanya untuk mereka yang memang memiliki bakat kepenulisan. Padahal sejatinya, kita semua terlahir sebagai seorang penulis. Bedanya, para penulis berbakat yang sekarang kita kenal, telah mengasah kemampuan mereka dengan sangat baik. Ada pun kita ... ya, anggap saja kita belum terlalu dalam menggali apa yang tersembunyi di diri ini.

Tahukah kalian? Ternyata menulis itu bisa membawa keuntungan tersendiri, lho. Apa saja ya manfaat menulis?
Menulis sebagai jampi-jampi penyembuh patah hati

Semua orang pasti pernah merasa patah hati dan berbagai macam penderitaan yang menyelimuti. Patah hati, boleh saja. Namun, terlalu larut dalam kesedihan, sungguh keterlaluan.

Menulis bisa menjadi salah satu ikhtiar kita untuk menyembuhkan diri sendiri. Ya, writing can be a self-healing therapy. Kenapa? Karena ketika menulis, kita akan sedalam mungkin mengeksplorasi pikiran dan perasaan kita. Kita tumpahkan semuanya dalam bentuk tulisan. Di sinilah ruh menulis sebagai bagian dari terapi. 

Menulislah. Jadikan kata-kata sebagai mantra. Kemaslah kesedihan menjadi sebuah karya. Mungkin tidak seberapa, tetapi ia sanggup menyembuhkan luka menganga. Bonusnya, siapa tahu banyak yang menyukai tulisan kita.
Menulis bisa meredakan ‘kegaduhan’ di dalam otak
Pernah merasa otak terasa ‘gaduh’? Pernah? Kita sama. Ada kalanya ketika semua terasa sesak, otak pun ‘gaduh’. ‘Kegaduhan’ dalam pikiran akan sangat berbahaya jika tidak diekspresikan. Saat mengekspresikannya pun, tidak serta merta berprinsip asal tersalur saja. Kalau kita salah mengekspresikan, akibatnya justru kita menyakiti orang lain. Tidak mengherankan jika sebagian orang memilih olahraga ekstrim untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih sehat.

Di Balik Catatan Perempuan
Oleh: Yulia Dwi Ernwati


Perempuan menulis? Banyak yang ragu dan mempertanyakannya. Apa bisa? Apa masih sempat? Pertanyaan ini sering dilontarkan karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan perempuan. 

Apalagi bagi perempuan yang sudah menikah dan bekerja. Kesulitan utama untuk menulis adalah mengatur dan membagi waktu untuk keluarga, bekerja, dan menulis. Seperti kisah saya berikut ini.

“Mas, boleh nggak aku gabung komunitas menulis?” tanyaku sore itu pada Mas Arya, suamiku.
Mas Arya cukup kaget mendengarnya. Selama ini, aku memang jarang menunjukkan ketertarikan pada kegiatan menulis. Meskipun dia tahu betul bahwa aku suka sekali membaca buku. Mas Arya menyeruput kopi yang kuhidangkan.

“Asal Adik bisa bagi waktu dan tidak mengganggu pekerjaan utama, Mas izinkan,” jawabnya.
Mataku berbinar mendengar jawaban suamiku itu. Izin sudah kukantongi. 
“Alhamdulillah, terima kasih, Mas,” kataku pelan sambil mengecup lembut pipinya.
Aku ingat sekali hari itu, awal tahun 2018 yang lalu. Saat itu, aku diajak rekan kerjaku di kantor untuk bergabung dengan komunitas menulis guru-guru di kota tempat tinggalku. 

Segera kuajukan izin pada suamiku. Apa pun yang akan kulakukan harus atas izinnya agar menjadi berkah dan diridai Allah. Suamiku pun tak pernah mengekang kegiatanku. Ia selalu mendukung apa pun yang kulakukan selama itu positif dan bermanfaat serta tak membuatku kelelahan.


Saya Tidak Suka Menulis
Oleh: Qyshav



There is no activity that has nothing to do with “writing”. Even for daydreaming, we will write in our minds. (Qyshav)

Saya manusia, dengan keanehan yang mutlak. Saya tidak menyukai sesuatu, meski sesuatu itu selalu saya lakukan setiap hari. Seharusnya, tresno jalaran saka kulina. Cinta ada karena terbiasa. Namun, kenapa sampai detik ini, saya tidak bisa mencintai sesuatu itu. Suka saja tidak, apalagi cinta. 

Saya tidak suka menulis. Jika tidak percaya, tidak apa-apa. Karena saya hanya ingin menguji seberapa terbukanya diri saya. Saya tetap tidak suka menulis. Uniknya, banyak aktivitas di keseharian saya, yang erat kaitannya dengan menulis. Sayangnya, tidak satu pun dari aktivitas tersebut yang mampu mengubah passion dalam diri saya. Aktivitas apa saja itu?
1.  Kuliah
Sebelum memulai tulisan ini, saya sempat meracau. Mau menulis apa lagi? I have no idea. Namun, tidak ada pilihan lain. Hanya ini yang bisa saya lakukan demi menjawab deadline naskah. Menulis.

Di luar deadline yang membabi buta, saya biasanya disibukan dengan aktivitas yang tidak kalah seru. Pekerjaan ibu rumah tangga itu seperti mencuci baju, memasak nasi, bersih-bersih kulkas, menyapu dan mengepel. Biasanya, pada saat mengepel lantai, sesekali tongkat pel tanpa sadar membentur rak buku. 

Rak buku tersebut sebenarnya di dominasi oleh buku-buku psikologi. Selama berkuliah di psikologi, saya memang sudah terbiasa menulis. Tugas-tugas membuat makalah dengan topik beragam terkait mata kuliah psikologi selalu saya terima. Sehingga, menulis menjadi hal yang lumrah. Jika tidak menulis, apa jadinya nilai IPK saya.  Namun, sekarang saya berakhir di sini. Sedih, memandangi buku-buku kuliah yang sudah berdebu. Kapan bisa kembali berkuliah kembali? Kapan bisa kembali merasakan sensasi menulis makalah, atau thesis? Kapan kesempatan menjadi psikolog menghampiri saya? 



Malu Saya (sebagai Guru Bahasa Indonesia) Bila Tidak Menulis
Oleh: Diana Nababan


Malu saya (sebagai guru bahasa Indonesia) bila tidak menulis. Ya, kalimat ini adalah pelecut bagi saya untuk terus berlatih menulis. Mengapa guru (bahasa Indonesia) harus bisa menulis? Pertama, karena guru bahasa Indonesia mengajarkan keterampilan menulis bagi siswanya. Bagaimana mungkin guru mengajarkan menulis kepada siswa bila guru tidak menulis terlebih dahulu.

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah meliputi empat keterampilan dasar yaitu, keterampilan berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Dari empat ranah tersebut, menulis adalah kompetensi yang sulit bagi guru. Padahal secara teori, guru kaya akan pengetahuan dasar-dasar menulis. Mulai dari syarat penulisan judul yaitu setiap unsur kata kapital kecuali kata depan dan kata sambung atau huruf kapital seluruhnya untuk judul karya ilmiah. Judul harus menggambarkan isi tulisan. Judul harus menarik perhatian pembaca. Judul juga tidak memakai tanda baca apa pun, dan seterusnya, dan seterusnya. Ini baru syarat penulisan judul, belum lagi isi sampai kepada daftar pustaka dan lampiran. 

Menulis Bukan Bakatku
Oleh: Yuliarti


Menulis bukanlah bakatku, tapi dengan menulis bisa menghilangkan kepenatanku. Sebagai seorang yang setiap hari harus bangun awal untuk melaksanakan rutinitas pekerjaan. Pekerjaan dengan segala aturan yang melekat di dalamnya. Aturan jam kedatangan, segala administrasi yang harus dipersiapkan, kepulangan, serta tuntutan proses dan hasil yang harus memuaskan dari berbagai pihak. Ditambah dengan tugas inti di rumah sebagai seorang istri dan ibu dari tiga orang anak. Hal tersebut kadang menjadi bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu. Ada kalanya kita membutuhkan tempat untuk menceritakan apa yang dirasakan. Namun tidak semua orang siap mendengarkan keluh kesah kita. Sehingga dengan menulis membuat beban yang kurasakan berkurang dan perlahan menghilang.

Menulis bukan bakatku, tapi menulis membuatku merasa lebih bersyukur. Ada hasrat untuk menuliskan segala yang dirasakan saat melihat sekitar. Aku terlahir dari keluarga yang cukup sederhana. Berbeda dengan teman lain saat di bangku sekolah yang hidupnya terpenuhi dengan segala fasilitas dari orang tua mereka. Ada kalanya terbersit keinginan untuk menjadi seperti mereka. Aku berusaha melihat dan menuliskan apa yang tampak di sekitarku. Aku memiliki kedua orang tua yang menyayangi dan berjuang sepenuh hati demi kesuksesan keenam anaknya. Sementara di luar sana banyak anak yang tidak memiliki orang tua. Mereka harus berada di jalanan untuk bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. 


Tulisan,  Senjata Muslimah Abad Milenia
Oleh:  Ridha Zinnirah


Bila aksara telah tertata,  biarkan ia dicicipi oleh pembaca. Tidak usah risau pada cibir dan puja. Yakinkan diri bahwa Allah yang akan membalasnya jua. 
Menulis kini menjadi bagian hidup. Meskipun mungkin ilmunya masih sedikit.  Namun,  setiap waktu berproses agar menghasilkan kualitas tulisan yang lebih baik.  

Menjadi penulis awalnya bukan menjadi impian saya.  Bahkan tidak pernah terucap kala guru-guru saat SD dulu menanyakan cita-cita.  Hanya saja hobi menulis sudah ada sejak awal SMP. Kala itu,  hampir setiap hari membuat tulisan dan diary.  Apa saja kejadian yang saya alami dituliskan.  Ala bisa karena biasa.  Seiring waktu berjalan.  Buku diary tergantikan dengan layar laptop.  Curhatan pun berganti dengan tulisan yang lebih bisa dinikmati oleh banyak orang. Dari opini singkat hingga tulisan artikel yang bisa dikirim ke media. 

Menulis Untuk Kebaikan
Karena waktu jua hobi ini berujung pada tuntutan.  Tuntutan karena menyadari bahwa sebagai muslimah,  ada kewajiban melakukan amar ma'ruf nahi munkar.  Selain itu ada keinginan kuat untuk terus menebarkan kebaikan.  Maka tulisan menjadi wasilahnya.  Karena di sana saya merasakan enjoy. Melakukannya tanpa beban.  Ada sejuta bahagia jika satu tulisan bisa dinikmati oleh banyak orang.  Terkenal,  ataupun mendapat fee dari tulisan itu adalah bonus.  

Salah satu prinsip yang saya pegang, "Jika kejahatan dan kemaksiatan bisa disebar luas dengan tulisan.,  mengapa tidak kita menggunakan tulisan untuk melawannya?" 


Menjadi Single Parent Bahagia
Oleh: Misdayani 


Menjadi single parent karena pasangan meninggal dunia bukanlah suatu pilihan, melainkan sebuah kondisi yang harus dijalani dengan ikhlas.  Bagaimanapun itu terjadi awalnya adalah sesuatu yang teramat berat dan sulit. Bagaimana tidak? Hal yang tidak pernah terbayangkan dan terpikirkan sebelumnya oleh kita, namun kini nyata terjadi. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Menjalaninya dengan keikhlasan dan bahkan bahagia menjadi tugas dan keharusan kita ke depan. 

Mendekati tiga tahun telah kulalui tanpa pendamping hidup. Tertatih untuk memulai dan menata kembali kehidupan seorang diri. Belajar serba bisa untuk menyelesaikan pekerjaan apa pun dalam  rumah tangga. Memutuskan sendiri segala persoalan. Hal yang paling sulit dan berat di antaranya adalah menghadapi anak-anak dalam tumbuh kembangnya.

Menjadi satu-satunya orang tua. Satu-satunya tumpuan untuk mengadu, berkeluh kesah, bermanja, meminta,  serta memberikan cinta dan kasih sayang sebagai ayah sekaligus bagi buah hati. Berat? Teramat. lelah? Pasti. Merasa tidak mampu? Ya. Terpuruk? Galau? Tentu saja. Manusiawi sekali jika rasa itu menyelimuti keseharian kita. bahkan kata-kata tak akan cukup untuk mewakili semua rasa itu. Tidak mudah berada di awal kondisi itu. Teramat berat dan sulit. 
Air mata mengambang mendapati rumah yang kosong saat pulang dari suatu tempat, sekosong hati yang hampa. Tiada lagi seseorang yang menunggu kepulanganku. Menyambut kedatanganku dengan suka cita. Di saat yang sama anak-anak meminta perhatian lebih, meminta kekuatan dariku bahwa mereka akan tetap aman tanpa ayah di sisinya. Memastikan bahwa semua akan baik-baik saja. 


Meraih Mimpi Melalui Menulis
Oleh: Ina Pergiyati


Zaman terus berubah, era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital. Berkembangnya zaman menuju modernisasi dan penggunaan teknologi yang semakin canggih memberikan dampak buruk terhadap merosotnya akhlak generasi muda Indonesia. Akhir-akhir ini semakin marak kasus-kasus aborsi, pencurian, perampokan, tawuran pelajar, narkoba, pembunuhan, dan masih banyak lagi yang dilakukan oleh orang dewasa hingga anak-anak. Kurangnya pengetahuan dan dangkalnya ilmu akhirnya kebodohan diri diperturutkan, tanpa sadar membawa petaka besar. 

Sejalan dengan merosotnya minat baca juga mengakibatkan buruknya motivasi menulis. Membaca adalah bekalnya seorang penulis. Dengan banyak membaca maka seorang penulis mampu berimajinasi secara bebas sehingga mampu berkarya melalui tulisan. Mengikat ide-ide untuk dipahat dalam aksara menjadi sebuah rangkaian kata penuh makna sehingga mampu mencerahkan diri sendiri dan juga mengubah kehidupan banyak orang.

Membaca dan menulis adalah budaya luhur yang harus terus dipupuk subur, jika ingin melihat negara ini makmur. Beberapa negara maju seperti Jepang, Jerman, Amerika, Finlandia, bahkan negara Malaysia telah mewajibkan warganya untuk senantiasa membaca. Jadi tidak heran jika negara mereka bisa maju, informasi terus update dan teknologinya bisa menguasai dunia.

Bahkan perintah untuk membaca juga sudah Allah SWT tuliskan dalam Al Qur’an surat Al-’Alaq: 1 – 5  yang artinya “Bacalah dengan menyebut Tuhanmu yang menciptakanmu. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling mulia. Yang telah mengajarkanmu melalui perantara qalam.”

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri dan Mengetuk Pintu Surga melalui Menulis
Oleh: Ummu Fathiyya


"Ngomong sama kamu itu sering gak nyambung! Saya kalo diskusi sama Mbak A, enak banget, karena pengetahuannya luas," ungkap suami saya dalam sebuah obrolan. Saat itu terasa ada ribuan jarum menusuk hati. Tajam dan menyakitkan.
**
Awalnya saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang setiap harinya bergelut dengan urusan sumur, dapur dan kasur. Bertahun-tahun saya menjalani rutinitas tersebut, membuat saya terlena sehingga saya lalai untuk meng-upgrade potensi diri. 
Akibatnya saya menjadi minder karena merasa menjadi perempuan yang bodoh dan tidak berdaya. Jangankan untuk tampil di depan umum, berbincang dengan suami pun seringkali membuat saya tidak percaya diri. Terlebih lagi ketika dia menunjukan ketidaknyamanannya saat berdiskusi dengan saya. Dibilang tidak nyambung, lalu membandingkan saya dengan perempuan lain. Hiks.

Bayangkan saja, semakin hari wawasan dan penampilan suami saya semakin cemerlang. Pengetahuan dan pengalamannya kerapkali diasah dengan mengikuti banyak pelatihan dan seminar bisnis. Sementara saya hanya mampu menghafal nama bumbu-bumbu dapur dan beberapa resep makanan saja. Selain itu, tidak sedikit dari rekan bisnis suami saya merupakan perempuan-perempuan cantik, modis, usianya masih muda dan tentunya tampak lebih cerdas. Sebagai seorang perempuan saya sering merasa cemburu. "Siapalah saya jika dibandingkan dengan mereka?" 



Pemuja Deadline
Oleh: Fee Hastuti


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” - Pramoedya Ananta Toer, House of Glass
Kutipan ini membuatku terpaku. Merenung. Membangkitkan semangat menulisku yang mulai redup. Menggelorakan cita-citaku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang menebarkan manfaat untuk orang banyak. Rasa lelah mengejar deadline pengumpulan tugas kelas menulis online seakan lenyap.
Entah kapan persisnya aku memiliki cita-cita sebagai penulis. Aku memang suka menulis. Tapi hanya sebatas menulis buku harian demi mengutarakan isi hati. Jika ada sesuatu yang mengganjal, suasana hati sedang kesal, aku lebih memilih menuliskan dari pada menceritakan. Ketika berbicara, ada kata yang membuat lawan bicara tersinggung atau sakit hati, aku tidak bisa menarik kata-kata itu kembali. Tapi dengan menulis, jika ada kesalahan dalam kata-kata, aku bisa langsung mengubahnya. Selesai menulis, biasanya aku merasa lebih lega dan tenang.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, pelajaran bahasa Indonesia menjadi yang paling dinantikan. Terlebih ketika guru meminta kami membuat karangan bebas. Pada saat teman-teman merasa bosan dengan tugas ini, Aku justru senang sekali. Karena dengan mengarang, aku bebas mengekspresikan apa yang aku rasa. Menjadi siapa pun yang aku suka. Membuat jalan cerita sekehendak hati. 


Kesepian yang Bermanfaat
Oleh: Titik Yuliana


Tetesan hujan tidak menyurutkan langkahku untuk terus melanjutkan perjalanan ini. Sudah tanggung. Jaraknya pun sudah tidak terlalu jauh. Sudah tidak aku hiraukan lagi jilbab dan lengan baju yang basah, karena jas hujan yang terlupa. Motor biruku dengan lihai memecah derasnya hujan.
Sampai di sekolah, jilbab yang sudah basah kuyup aku ganti dengan mukena. Sementara baju tidak terlalu basah aku biarkan karena tertutup mukena. Karena tergesa-gesa, telepon genggam pun tertinggal. Hmmm, biar sajalah hari ini sepuluh jam tanpa dia. Semoga tidak ada berita penting, batinku penuh harap.
Di sela aktivitas mengajar, keseharian ini aku mencoba dekat dengan laptop. Mengedit tulisan yang kurasa penulisannya kurang tepat. Serta mencoba menulis kisah baru yang menari-nari di pikiranku. Walau terputus oleh jam istirahat. Imajinasiku lumayan untuk menambah perbendaharaan diksi hari ini. Terngiang pesan dari coach, "Menulislah, walaupun cuma kita sebagai pembacanya."
Akhirnya waktu sepuluh jam itu pun berlalu. Tidak banyak yang bisa kutuliskan, Terkadang mengalir bagai air dan tidak jarang pikiran mentok pada pemilihan diksi yang pas dan menarik. Begitulah sekelumit keseharianku. Mencoba menuangkan ide dalam bentuk tulisan sederhana dan terkadang hanya tersimpan dalam file.


Selaksa Kata Menjadi Karya
Oleh: Fitri Ane Lestari


“Ketika seorang penulis hanya menunggu,
maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri”
(Stephen King)

Setiap orang memiliki peran masing-masing dalam hidupnya. Allah sudah membekali kita dengan segala kekurangan dan kelebihan. Tinggal bagaimana cara kita menemukan, lalu mengasah potensi yang kita miliki. Bagiku, menulis adalah jalan yang Allah berikan sebagai peranku terlahir di dunia ini.

Sedikit mengenang kembali ke masa-masa aku mulai mencintai menulis. Menulis bukan hanya sekadar bakat atau turunan. Nyatanya aku terlahir bukan dari keluarga yang menggeluti dunia literasi. Meski begitu, kecintaanku dengan menulis tidak terbentuk begitu saja. Berawal dari hobi membaca buku itulah yang pada akhirnya membawaku menjadi suka menulis. Saat masih sekolah menulis hanya sebatas di diary, dan ternyata menulis diary pun ada gunanya juga membentuk kebiasaan.

Sampai akhirnya saat kuliah aku menemukan tempat untuk melampiaskan kesukaanku dalam menulis. Waktu itu awal-awal booming menulis blog dan platform pertama yang aku tahu adalah Blogspot. Aku membuat blog yang isinya hanya puisi-puisi saja. Beralih ke Wordpress menemukan kecocokan di sini bahkan aku membuat tiga akun blog sekaligus, pertama blog yang isi tulisannya campur aduk, kedua blog khusus menulis fiksi, ketiga blog khusus tentang buku. 
Bukan maruk, tapi aku sedang semangat semangatnya kala itu. Sampai akhirnya bisa ikut berkontributor dalam proyek menulis dan menghasilkan tiga buku antologi cerpen bersama teman-teman sesama blogger. Sering juga ikut lomba menulis sana sini, kadang menang sering juga kalah. Impianku waktu itu adalah menjadi penulis dan terkenal. Iya, itu impian besarku dulu.


Sebuah Catatan Nestapa
Oleh: Arn Fyd


“Brak!” Sebuah meja tamu di hentakan keras.
Perempuan berjilbab itu pias. Pucat. Di depannya, seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar, berjaket gelap memelototi sang peremuan dari balik kacamata hitam legam yang dikenakannya.
“Jadi maksud Anda apa? Tidak tahu menau mengenai tagihan sebanyak ini? Tunggakan cicilan mobil selama 3 bulan tidak dibayar. Dan kini mobilnya tidak ada. Suami Anda juga?”

“Sayac... saya tidak tahu, Pak, bahkan ... saya ...”
Belum selesai menyelesaikan perkataannya, lelaki itu bersama gerombolannya meninggalkan sang perempuan.

Sembari mengelus-ngelus perutnya yang kian membesar, sang perempuan membujuk anaknya untuk keluar. Gadis kecilnya yang sedari tadi terdiam terduduk di pojok di balik gorden. Ah anak ini, mendengar semua adegan tadi. 
“Kita cari ayah, Bunda? Ayah di mana, Bunda?” sang anak bertanya tergagap sambil menatap sang ibu dengan ketakutan.

“Kita cara ayah, Nak. Kita pulang ke rumah mbah di Jawa, ya!”
Ibu anak itu kemudian pergi meninggalkan rumah besar bertype 90 dengan tulisan besar. RUMAH INI DALAM PENGAWASAN BANK.
Ya, akulah perempuan itu. Kini akan kutuliskan kisahku.

MENULIS, CARA AJAIB MENULARKAN ILMU
Oleh: Defathimah


Sebelum menikah, saya adalah seorang guru. Meskipun hanya seorang guru honorer, tetapi profesi itu sudah cukup membuat sibuk. Kesibukan yang bagi saya menyenangkan karena saya memang suka mengajar. Mengajar adalah cara saya berbagi atau menularkan ilmu. Ilmu apa pun. Karena pada saat seorang guru mengajar, ia bisa menularkan ilmu sosial, ilmu agama, juga moral. Apalagi, menjadi guru adalah cita-cita saya sejak masih di bangku sekolah menengah atas. Alasan saya simpel, jengah dengan kemerosotan moral anak-anak muda. Saya berpikir, menjadi guru adalah salah satu cara ikut serta memperbaiki bangsa ini.
Tahun 2014 saya menikah dengan seorang laki-laki yang baru diterima sebagai ASN (Aparatur Sipil Negara) di sebuah lembaga pemerintahan pusat. Adalah sebuah konsekuensi pernikahan, seorang istri harus taat pada suami. Bukan karena suami tidak mendukung istrinya berkarir. Bukan. Melainkan beliau ingin didampingi oleh istrinya di mana pun beliau melaksanakan tugas. 


Sepenggal Kisah Menjadi Istri Prajurit
Oleh: Istarocha Khoirurrokhmani


Suamiku, awalnya aku tersipu. Sungguh gagah kau dibalik seragam loreng itu. Derap langkah suara kaki dan tubuh tegap sempurna. Siapa wanita yang tak jatuh hati padamu? Sang abdi negara. Oh... pujaan hati. 
Tapi ternyata aku tertipu. Bersamamu tak semudah itu. Ada banyak rintangan yang tak pernah diceritakan. Ada banyak kenangan yang terpaksa dilewatkan. Awalnya aku kecewa, marah, sedih. 

Coba bayangkan. Saat suami lain sedia mendampingi istrinya saat melahirkan. Kau apa? Kau lebih sedia bertempur di medan perang. Saat suami lain membagi waktu menemani putrinya ulang tahun. Kau apa? Kau lebih sedia membagi waktu mengamankan kericuhan. 
Saat suami lain bisa merencanakan cuti jauh hari untuk liburan. Kau apa? Kau lebih merencanakan waktu berlatih di lapangan. Saat suami lain dengan mudah izin menemani keluarga yang sedang sakit. Kau apa? Kau lebih mudah izin tugas di perbatasan. 


Menulis: Kembali ke Fitrah
Oleh: Arifiani Amalia


Cara mengetahui impian terpendam seseorang adalah menengok masa lalunya. Kok?  Bukan berarti menengok pakai mesin waktu milik Doraemon, ya. Tidak seperti itu juga. Coba sesekali main ke kamar kawan dekatmu, di dalam kamar biasanya hal-hal pribadi disimpan.  

Suatu ketika seorang kawan bertandang ke rumah. Karena mau curhat, dia membutuhkan privasi. Masuklah ke kamar saya yang berantakan. Sambil menunggu saya selesai mandi, dia izin untuk mencari buku bacaan di kamar. Si kawan ini hobi membaca. Tak beberapa lama doi sudah menemukan bahan bacaan yang membuat wajahnya dari muram durja menjadi penuh tawa. Beberapa buku usang di sudut rak kamar paling bawah,  adalah amunisi yang cukup untuk merundung saya. Ya, onggokan buku diary berpuluh tahun lalu.


Perempuan Pemuja Kata
Oleh: Prastuti Kartika Sari


Perempuan. sejatinya semua dilahirkan cantik. Sayangnya, kebanyakan manusia hanya melihat dari kulit luarnya. Perempuan dikatakan cantik jika diukur dari raut wajahnya, warna kulitnya, serta busana yang dikenakan. Cantik, seperti tak ada cela. Padahal entah apa yang ada di baliknya.

Aku, perempuan biasa yang jauh dari kata sempurna. Jika ditilik dari raut wajah dan busana, hanya berada di skala tiga sampai lima. Pekerjaan rumah tangga tak ada yang bisa. Aku tak seperti perempuan lainnya. Di usiaku yang sudah kepala tiga, aku belum juga berkeluarga.

Saat perempuan lain sudah sibuk menjalankan peran mereka sebagai ibu sekaligus pendamping suami, aku masih berkutat dengan urusanku sendiri. Ketika mereka menghabiskan waktu bercengkerama dengan keluarga kecil mereka, aku larut meresapi rasa sepi.


Aku Cemburu Pada Guru Putriku
Oleh: Fieza Anugerah


"Assalaamu'alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullaahi wabarakatuh, assalaamu'alaina wa 'alaa 'ibaadillaahis shoolihiin, Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa Asyhadu anna muhammadar rosuulullaah.” 
“Deg”. Hatiku berdegup mendengar samar-samar doa tahiyat yang ia lantunan. 
"Mbak diajari di sekolah, ya?" tanyaku pada putri sulungku, namun jawabannya hanyalah sipuan malu yang tersirat dari raut wajahnya. Ia tidak sedang dalam salat. Tangannya sibuk dengan mainan, sementara mulutnya melafadzkan. Belum pernah aku mengajarinya. 

“Allaahumma, Rabbij'alni muqiimas sholaati wa min dzurriyyati, Robbanaa wa taqabbal du'aa”. 
Seringkali doa itu kupanjatkan dengan harapan besar Allah menganugerahi hamba putra putri yang senantiasa mendirikan salat. Sebagaimana doa nabi Ibrahim yang kisahnya termaktub abadi dalam Al Qur-an. Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku (QS Ibrahim: 40)


Merekam Waktu Melalui Tulisan
Oleh: Storia dellaVita


Kenangan terukir dalam tiap detik yang berlalu. Seiring waktu berlalu, ukiran kenangan kadang kian pudar, lalu tak lagi terlihat jelas. Harus mengorek ingatan kala ingin menghadirkan kenangan masa lalu. Itu makanya aku memutuskan menulis, agar kenangan, rasa, dan aneka hal yang dipikirkan terekam dengan baik.

Sejak kecil aku memang suka menulis. Semua hal kutulis, dari perkataan guru, hingga perkataan hatiku. Rasa dan pikir yang menggelegak kutumpahkan dalam baris-baris tulisan di buku diary. Entah sudah berapa banyak buku diary yang menjadi saksi kegalauan, kekecewaan, maupun semburat malu-malu cinta pertama.

Suatu kali, bertahun-tahun kemudian, kubaca lagi diary masa lalu. Aih, ternyata aku pernah alay juga. Meski begitu, jajaran kata di tumpukan diary itu merupakan terapi dari hal-hal negatif yang kurasakan. Di sisi lain, aku belajar mengolah rasa, melihat dari berbagai sudut pandang, dan menulis dengan lebih sistematis. 

Dari menulis diary, imajinasiku berkembang. Hal-hal yang kuinginkan dalam hidup berusaha kuwujudkan melalui cerita pendek. Ya, dari kisahku atau kisah teman-temanku, kubuat fiksi, lalu kutuliskan di lembaran-lembaran buku. Ternyata ada cukup banyak kumpulan cerita pendekku.


Menulislah, Kamu akan Bahagia
Oleh: Novi Zakiah


Saya tipe seorang insting, bisa di bilang pertengahan antara introvert dan ekstrovert. Mudah beradaptasi, namun sedikit berbicara. Kalaupun bicara hanya seperlunya. Kalau bisa di bilang lebih mudah mengungkapkan lewat tulisan dibandingkan lewat perkataan. Pertama kali ikut lomba menulis, rasanya tidak menyangka karena atas izin Allah SWT mendapat juara 1 antar kecamatan. Padahal sebelumnya tidak pernah menulis sekali pun, hanya otodidak saja. Rasanya senang dan bahagia. Setelah itu pun, saya mengikuti event lomba menulis yang ada di blogger dan media sosial lainnya. 

Bagi saya menulis itu membuat hati lega. Ketika sesuatu yang sulit kita sampaikan kepada orang lain, hanya bisa di sampaikan melalui tulisan. Tidak peduli tulisan itu bagus atau tidak, karena ketika kita bisa meluapkan semua kekesalan lewat tulisan tidak ada yang tersakiti. 

Ada suatu quote yang selalu teringat : “Kalau kamu bukan anak raja dan bukan anak ulama besar, maka menulislah.” (Imam Ghozali). 


Bersama Karena Cinta
Oleh: Siti Nurlelasari


Berulang mataku menyaksikan adegan-adegan yang membuatku berkaca tentang kealpaan  dan ketidakberdayaan diri dalam berjuang untuk terus berkumpul bersama sahabat taatku. Mereka anak-anak berhati bersih, bermata bening yang selalu menemani hari-hariku. Bola matanya seakan mengisyaratkan bahwa kami saling mencintai satu sama lain dan ukhuwah ini akan kami jaga sampai jannah nanti, insyaa Allah. 

Kebersamaan mereka tak pernah alpa dari yang namanya canda tawa, tangis air mata. Namun yang aku suka dari mereka meskipun awalnya terkesan saling menyakiti, tak butuh waktu lama kebahagiaan di wajah mereka merekah kembali. Canda tawa mereka ibarat topping pada tiap cake kehidupan yang aku miliki. Mereka pemanis dari setiap episode hidupku. Entah bagaimana lagi aku mendeskripsikan betapa spesialnya mereka untukku. 

Mereka bukan sosok yang penuh dengan kesempurnaan. Mereka pun kadang sering menjengkelkan tapi itu tak sebanding dengan kebahagiaan yang selalu ditularkan tiap detiknya. Cerita-cerita manis tertulis rapi di setiap episode hidupku. Entah aku harus mengawali dari mana yang jelas aku bersyukur dan beruntung pernah mengenal anak-anak bermata bening itu.


Masih Belum Berakhir
Oleh: Yulia Nady


Dua puluh lima atau 26 tahun lalu saat saya masih berseragam putih biru, saya sangat ingin jadi penulis. Alih-alih hanya sekadar berangan-angan, saya nekat menulis sebuah cerpen. Pada saat itu, bermodal kenekatan yang sama saya kirimkan naskah cerpen amatir saya ke sebuah redaksi majalah anak muda yang cukup popular saat itu. Majalah Hai menjadi pilihan saya. 

Kenapa bukan Aneka atau Anita? Karena dalam hitung hitungan saya, cerpen yang  masuk ke kedua majalah remaja itu cukup banyak. Tentu peluang naskah saya dimuat makin kecil. Itulah mengapa majalah Hai menjadi pilihan saya dan memiliki peluang dimuat makin besar. Walau amatir sebenarnya itu bukan cerpen pertama saya. 

Kebetulan saya hobi menulis dan ingin jadi penulis. Maka saya punya koleksi tulisan yang dengan rajin saya tulis tangan. Karena saat itu, menulis masih menggunakan mesin ketik. Walaupun akhirnya saya kehilangan koleksi tulisan saya. Setelah naskah cerpen saya kirim, ternyata tulisan saya kembali pulang. Tentu dengan beberapa koreksi dan catatan. Redaksi meminta saya mengirimkan kembali naskah saya bila sudah saya perbaiki.

Aku dan TeBy (TuBerculosis)
Oleh: Deway


Banyak orang yang tidak menyangka aku bisa terkena penyakit ini, ya termasuk aku.
"Diagnosis sementara, kamu kena TB paru.”
“TB itu apa, Dok?”
“Tuberkolosis atau TBC, kamu bisa nggak ngajar kalau begini, kita cek lengkap dulu, ya.”
Astaghfirullaah ...
Aku syok, apalagi ketika dokter bilang kalau ini adalah penyakit menular.

Awal Mula Terindikasi TB Paru
Kamis, 27 Juni 2019, aku merasa sehat seperti biasanya. Sore hari saat aku sedang merebahkan diri di kasur, tiba-tiba rasanya ingin batuk. Ada dahak di tenggorokan yang memaksa keluar dan ternyata yang keluar adalah darah dalam jumlah banyak. 

Berkali-kali, seperti ada yang memompa dari dada. Darah juga keluar dari hidung. Aku panik, takut, kesakitan, tidak bisa berpikir jernih saat itu, hanya berteriak memanggil mamaku. 
Setelah mereda, mama membawaku ke RSUD dekat dengan rumah. Aku tampak seperti biasa, aku merasa sehat dan baik-baik saja. Walaupun dalam hati kalut, karena aku tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuhku. Petugas IGD memeriksa kondisiku, mungkin mereka tidak percaya, karena kondisiku yang sudah 'bersih' saat itu. 


Emas Surga
Oleh: Puji Nuryati


Terdengar suara batuk dari seorang perempuan, sebut saja dia Ana. Ana seorang wanita yang kalem. Ana sudah menikah dengan seorang laki-laki yang tak jauh dari rumahnya, bernama Fatih. Mereka tinggal di dekat rumah ibunya Fatih. Fatih bekerja di sebuah perusahaan ternama, namun dia belum diangkat menjadi karyawan tetap. Ana pun sama, dia juga bekerja di sebuah instansi ternama, namun juga masih menjadi karyawan  tidak tetap. 

Berjalannya waktu Ana diberikan amanah. Ana mengandung anak pertamanya. Mereka sangat bahagia karena sudah menanti selama setengah tahun. Hari demi hari kandungan Ana semakin membesar. Ana dan Fatih berdoa supaya kelak kelahiran anak pertamanya diberikan kemudahan dan kesehatan.

Sembilan bulan lebih Ana mengandung. Lahirlah seorang perempuan cantik ke dunia. Tangis bahagia seorang Fatih dan Ana dalam ruang persalinan. Diangkatlah si mungil yang menangis dengan keras. Bayi mungil mendengarkan suara adzan di telinganya dari Fatih hingga tangisannya terhenti. “Ya Allah, jadikan putri kami anak yang salehah,” terdengar suara lirih dari mulut Ana.


Tidak Akan Terlupakan (Lagi) - Cerita Menulisku
Oleh: Hikmah Nisa


Assalamualaikum, bagaimana hari-harimu? Semoga selalu ternikmati dengan rasa syukur dan sabar, ya. Menjalankan hari-hari penuh suka tentu lebih ternikmati dibandingkan hari-hari ketika duka, namun sadar tidak? Jika hari-hari yang diisi suka/duka hanya berlalu begitu saja, terhapus dengan waktu. Hanya momen-momen tertentu saja yang masuk dalam memori, biasanya momen yang sangat bermakna dan mendalam bagi kita. Memori tidak mampu merekam semua sendiri, bantulah dengan menulisnya. Ini adalah ceritaku masuk dalam dunia menulis. 

Aku suka sekali menulis diary dari semenjak Sekolah Menengah Pertama, setiap hari selalu aku ceritakan kegiatan dan perasaanku tanpa terlewat. Kesibukan di Sekolah Menengah Atas membuatku perlahan melupakan diary. 

Suatu saat ada lomba menulis cerpen dan aku mengikutinya, alhamdulillah aku menang peringkat ke II se-kota Bandung tahun 2008. Saat itu aku tidak menyadari bahwa aku bisa menulis karena kebiasaanku menulis diary. Sekarang baru tersadar bahwa menulis adalah skill sehingga perlu dilatih, dan latihan tanpa sadarku dulu adalah menulis diary

Keterkaitan Keterikatan Menulis
Oleh: Merri Sri Hartati


Entah kenapa aku sudah mulai menjadi tipe yang tidak suka menyimpulkan. Belajar memberikan ruang dan pemaknaan, belajar untuk memposisikan diri menjadi mereka, iya menjadi mereka.

Aku menulis semuanya, menuliskanya di dalam ingatanku, hingga seringkali tulisan-tulisan itu berlari saling mendahului untuk melompat dari ingatanku. Pergi meninggalkan fisikku yang telah kelelahan menampung semua kisah itu.
Tulisan-tulisan yang berkumpul di dalam ingatanku, tulisan itu tidak hadir begitu saja, mereka hadir setelah proses membaca yang aku lakukan. Membaca membuatku menjadi memahami sesuatu dari sudut yang berbeda, membuat aku sampai pada titik kesimpulan bahwa, untuk bisa menulis tentulah harus membaca, membaca dalam makna yang luas.

Iqro’, membaca yang alam tuliskan dengan segala keindahanya, membaca setiap bencana yang menghantui, membaca yang langit lukiskan dengan segala warna biru kelabu hingga pelanginya. Ada banyak lembaran bernoda tinta, bervariasi warna yang memberikan inspirasi dan motivasi.

Aku berada pada titik nol ketika segala hal memenuhi ubun-ubunku, menyesakkan dada, menyeruak hingga membuatku inggin berteriak dan mengempaskan semua benda yang tersapu oleh indera penglihatanku.

Tidak berhenti di sana, terbersit di dalam diriku untuk menghabisi semua rambut yang memenuhi kepalaku, seolah-olah rambut di kepala ini adalah akar dari segala persoalan yang terjadi dalam diriku saat ini.

Aku menyapu seluruh ruangan di tempatku terpuruk, mencoba menyusuri semua benda dan kenangan yang memenuhi ruangan tak terkecuali ruang hatiku. Terdiam aku tak mampu aku menggerakkan bibirku, jatuh dan tiba di satu titik aku tidak mampu melakukan penerimaan terhadap diriku sendiri.


Si Introvert yang Suka Menulis
Oleh: Sri Efriyanti Harahap


Mungkin bagi seorang introvert seperti saya susah sekali rasanya berbicara di depan umum. Untuk tampil di depan kelas saja rasanya “menggigil” tak karuan. Namun ketika berhadapan dengan tulisan rasanya mengalir begitu saja, hingga akhirnya ketika saya ingin menyuarakan suatu hal, saya menuliskannya.

Saya mengikuti beberapa organisasi dari SMA. Ketika di forum, saya lebih banyak diam. Saya lebih banyak memperhatikan orang-orang yang berdebat, mengikuti alur diskusi, saya lebih suka menjadi notulen rapat saja, sebab menjadi notulen tak harus banyak bicara. Tetapi di satu sisi jika saya sudah “klik” dengan seseorang, saya tidaklah lagi menjadi si introvert. Saya bahkan lebih banyak mengeluarkan uneg-uneg yang ada di kepala. Tak tahu apakah si pendengar sering bosan dengan uneg-uneg saya. 

Di kasus lain, ketika presentasi, saya juga sering merasa terlalu susah untuk tampil di depan umum. Terkadang apa yang saya pikirkan, tidak sinkron dengan apa yang saya katakan. Sering juga ketika berbicara saya berhenti sejenak dengan mengatakan “Hmmm … hmmmm,” pertanda saya kehabisan kosa kata untuk dikeluarkan. Saya selalu kagum kepada orang-orang yang begitu mudahnya mengalirkan kata demi kata secara langsung, tanpa harus menuliskannya seperti saya.

Menjadi seorang introvert membuat saya berpikir bagaimana mengembangkan diri tanpa merasa bahwa itu adalah sebuah kekurangan. Lalu akhirnya saya sering menyuarakan isi hati saya dalam sebuah blog, yang dulu namanya Pengeja Langit. Blog ini saya buat sejak tahun 2008, di awal masa kuliah S1 saya. Di blog ini saya menceritakan aktivitas-aktivitas harian saya. Beberapa pengunjung terkadang meninggalkan jejak di blog saya dan beberapa yang lainnya ada yang memuji hasil tulisan saya. Dalam beberapa tahun blog saya pun ramai pengunjung, karena saya mengikuti sebuah komunitas blogger yang bernama Blog of Friendship.


Ibu Bahagia dengan Menulis, Bisa! Oleh: Ingrid Maisaroh


“Kamu udah resign, ya?”
“Wah, enaknya nggak kerja lagi, cuma di rumah aja.”
“Eh, istrinya mah nggak kerja, cuma ngurusin anak aja di rumah.”
Kira-kira kalimat seperti itu dari mereka tentang saya, seorang IRT alias ibu rumah tangga. Masih ada saja orang beranggapan bahwa ibu bekerja hanya mereka yang pergi pagi ke kantor  lalu pulang sore atau malam hari. Sementara ibu seperti saya yang di rumah saja, dianggap tidak bekerja. Apa, tidak bekerja? Hello ...?

Dunia Ibu Rumah Tangga
Jujur, hingga kini perasaan saya masih suka terusik kala kalimat-kalimat semacam itu menghampiri telinga. Bagaimana mungkin saya yang bangun sejak Subuh untuk memastikan suami dan anak-anak salat, lalu lanjut memisahkan pakaian kotor, menyiapkan makanan mereka, memasak air panas dan memandikan dua balita sambil menemani si sulung bersiap-siap ke sekolah, dibilang tidak bekerja? Itu baru aktivitas di awal hari, belum siang, sore hingga malam hari.

Meski dibantu seorang ART (asisten rumah tangga) dalam pekerjaan domestik seperti mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel dan beres-beres rumah, namun saya tetap bertanggung jawab atas makanan keluarga dan kerapihan isi rumah. Sebisa mungkin saya memasak sendiri, itu pun tidak selalu mulus jalannya. Tak jarang ritual memasak terjeda iklan dari anak-anak. Arsya (4 tahun) sering iseng kepada Aisyah (6 bulan) dan membuat suasana menjadi riweuh. Bahkan tidak jarang saya memasak sambil menggendong keduanya secara bergantian, saking tanggung masakan sudah naik kompor (please  yang ini jangan ditiru, ya!).

Selepas Mpok (sebutan untuk ART di rumah) pulang, rumah memang terlihat rapi. Semua mainan dan buku berjejer rapi di tempatnya. Namun itu bukan jaminan akan awet seharian, oh tidak. Allah menitipkan anak-anak pintar dan sehat yang senang bereksplorasi, konsekuensinya ialah kondisi rumah yang selalu berantakan oleh buku, pensil, krayon, lego, serta mainan lainnya. Membuat pusing melihatnya dan berulang kali saya membereskannya. 


Wanita Mengeja Makna Lewat Aksara
Oleh: Umbara Al Mafaaza


Menulis adalah caraku
Membuang sampah dari otakku
Ketika menulis aku merasa ada
Ketika jemariku mengeja makna lewat aksara
Hidup terasa indah dan berwarna
Usia terasa kembali belia

Tidak alasan penting ketika aku mulai menulis. Hal yang aku lakukan hanya membuang energi negatif yang bersemayam dalam diri. Sebuah amarah yang menyesakkan dada. Ya, tentang hidup yang rasanya tak adil hingga suatu ketika aku bisa berpikir bukannya hidup yang tak adil tapi pola pikirku yang harus diubah. Dari susah menjadi mudah ketika mudah jangan dibuat susah. Hidup itu simple tidak usah dipersulit. Jadi, berbuatlah yang terbaik dan terus menjadi baik.

Goresan tintaku yang pertama kali bukanlah di sebuah buku. Tapi, di kulit buku berupa puisi-puisi curahan hati. Itu semua bermula ketika aku mulai gemar membaca pada usia 11 tahun. Ya, sudah kelas V. Aku tidak terlalu bisa pelajaran eksak tapi aku berusaha untuk bisa dan belajar sekeras mungkin. Hingga aku dapatkan nilai tertinggi.

Aku lebih cenderung bisa memahami bahasa dan ilmu sosial. Untuk mempelajari itu tidak butuh lama. Hanya sekedar membaca. Ya, Alhamdulillah aku suka baca. Jadi, setidaknya memiliki modal awal untuk menulis. Menulis bagiku sebuah keajaiban setelah membaca ayat-ayat Alquran. Menulis itu terapi yang bisa membuat diri lebih berarti. Tiada tangis akibat luka yang menganga semua terobati.

Perjuangannya cukup panjang untuk bisa jadi seorang penulis. Ya, walau hanya masih dalam taraf penulis pemula sekali pun. Semuanya butuh fokus dan kemauan keras. Intinya harus bersungguh-sungguh melakukan tahapan pencapaian diri. Berproses menjadi baik dan terbaik. Kata Arswendo Wiloto menulis itu mudah, bukan? Iya mudah bagi yang sudah terbiasa dan semuanya butuh pembiasaan.


Ada banyak alasan bagi setiap perempuan untuk menulis. Mulai dari kebutuhan mengekpresikan kurang lebih 20.000 kata setiap harinya hingga menjadi terapi bagi jiwa agar senantiasa bahagia dan semangat menjalani hari-hari.
Alangkah sayang jika seorang perempuan tidak menjadikan aktivitas menulis sebagai kegiatan rutinnya. Tentu akan banyak hikmah, cerita, ide, gagasan, ilmu, serta pengalaman yang menguap begitu saja, hilang dan terlupakan seiring bergantinya hari-hari.

Kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan kita bahwa tidak mudah untuk senantiasa menulis di antara kesibukan setiap hari. Namun kebahagiaan yang diperoleh tentu akan sebanding dengan usaha untuk membangun konsitensi menulis.

Sebab kita tidak tahu kalimat mana yang akan membuat orang lain tersadar akan kesalahannya dan berniat untuk berubah menjadi lebih baik. Kita tidak tahu, di paragraf mana tulisan kita bisa membuat seseorang tersenyum, menyeka air matanya, dan bangkit untuk kembali berjuang. Kita sungguh tidak tahu. Jadi, menulislah!

Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi




Powered by Blogger.