Menu
/

www.MomsInstitute.com - Buku ini merupakan karya antologi dari @komunitasperempuanmenulis dengan beragam latar belakang. Kesamaan minat dalam dunia menulislah yang akhirnya mampu menyatukan. Semua yang tertulis di dalamnya adalah apa-apa yang bersumber dari hati, dengan harapan akan sampai pula ke dalam hati pembaca. Semoga setiap aksara yang disusun ini mampu menggugah hati para pembaca.

Perempuan Menulis #1



Perempuan Menulis untuk Diri, juga Negeri
Oleh: Ernawati Lilys


Bismillah, sebelumnya saya berterima kasih untuk co-founder Komunitas Perempuan Menulis Mba Nisa Yustisia, yang memberikan ide segar pada pagi hari bahwa saya sebagai founder sebaiknya ikut menulis untuk tema kali ini. Tak terpikirkan sebelumnya, karena awal membuat gerakan perempuan menulis ini untuk mewadahi para perempuan dalam berkarya.

Karya adalah bukti nyata penulis ....

Kenapa perempuan harus berkarya? Karena para perempuan itu akan semakin ‘ada’ dengan karya-karya mereka. Apa pun profesinya, perempuan harus menulis. Menulis akan membagikan ilmu dan pengalamannya, kontribusi kebaikan yang terus mengalir. Energi yang akan selalu memompa para wanita untuk semakin semangat dalam membenahi diri, membenahi keluarga dan juga membenahi kehidupan masyarakat, juga bangsa  Indonesia.

Menapaki jejak menulis saya sejak tahun 2008 hingga kini 2019, bukanlah bilangan waktu yang sebentar. Dari hobi menulis ini bukan hanya melahirkan karya demi karya namun juga bisa dijadikan sebagai profesi. Ya, menulis adalah profesi masa kini yang bisa siapa saja menjalaninya. Asalkan mereka tetap menulis dan konsisten berkarya, karena tulisan-tulisan mereka akan terus bermuara kepada para pembaca.

Profesi apa saja yang bisa didapatkan dari skill menulis? Jawabannya sangat luas. Apa yang penulis tulis, itulah jaringan yang akan mengikat pembaca. Jadi jika ada penulis yang menulis artikel, maka akan bertemu pembaca-pembaca yang menyukai jenis tulisannya. Jika ada penulis yang menulis buku fiksi, maka akan berkumpul dengan para pecinta fiksi. Pun ketika penulis menulis buku nonfiksi akan bersama dengan para book lover nonfiksi.  Jadi tulisan penulis itu adalah jaring-jaring magnet untuk pembaca, berkumpul dan bersinergi yang akan menjalin sebuah ikatan kebersamaan dalam rantai literasi.

Membangun rasa percaya diri para perempuan bahwa kehadirannya di sisi mana pun tetaplah bermanfaat. Medan perang para perempuan bisa saja berbeda-beda, namun mereka tetaplah sosok yang berharga. Tak perlu merasa minder, bersalah, bersedih hanya karena ada di rumah saja. Tak perlu juga merasa tidak enak, tidak tepat pada pilihan hidup, karena telah memilih menjadi pengabdi atau bekerja. Setiap perempuan itu istimewa, gali terus potensi diri dan bagikan apa yang telah didapatkan baik berupa ilmu atau pengalaman, menulislah maka engkau pun ada.
Perempun menulis inilah yang kelak melahirkan karya-karya perdamaian. Perempuan yang telah berdamai dengan dirinya, tak lagi memikirkan di mana ia berada, namun ia bisa maju dan terus berkreativitas tanpa batas. Perempuan yang damai, terlihat dari sulaman kata demi kata, menerima keadaan, berdamai dengan diri, berdamai dengan keluarga, berdamai dengan lingkungan, dan berdamai dengan negeri, sehingga lahir generasi pecinta damai. Perempuan yang menggerakkan peradaban, membangun bangsa yang tenang, nyaman, dan santun.


Bukti Nyata Kasih Tuhan
Oleh, Riska Yuniarti Iskandar


"Aku yakin tidak ada masalah dengan kesuburanku atau suamiku, Mbak Riska."
Kalimat tersebut selalu didengungkan dengan percaya diri oleh sahabat saya ketika kami sedang mengobrol masalah program kehamilannya.
"Tapi aku yakin ada sesuatu yang menghambat kehamilanku, cuma aku gak tahu itu apa."
Kekhawatirannya akan kenyataan belum adanya momongan sangat saya maklumi. Di usianya yang menjelang kepala tiga, sangat wajar jika ingin segera memiliki keturunan. Padahal mereka masih terhitung sebagai pasangan pengantin baru kala itu. Pasangan tersebut menikah pada bulai Mei 2017 dan setelah menikah, sementara menjalani long distance marriage atau hubungan jarak jauh antara Bali dan Jakarta sekitar 6 bulan disebabkan karir masing-masing. Tidak ada tekanan dari pihak keluarga maupun suaminya, tapi sahabat saya merasa harus memeriksakan diri dan memulai program kehamilan.

Akhirnya setelah mutasi ke Jakarta, sahabat saya berdiskusi dengan suaminya, dan mereka memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Dokter SpOG yang didatanginya hanya melakukan USG transvaginal. Hal tersebut dilakukan untuk melihat kondisi sel telur serta kondisi rahim dan ovariumnya. Dokter menyatakan tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja. Selanjutnya memberikan vitamin dan mengatur jadwal berhubungan suami istri di masa subur agar intensitasnya lebih ditingkatkan.

Tidak ada pemeriksaan lebih lanjut. Tapi atas dasar inisiatif sendiri, sahabat saya yang berlatar belakang sebagai ahli teknologi laboratorium medis atau dulu biasa disebut analis kesehatan, melakukan pemeriksaan analisa sperma dan hasilnya normozoospermia atau sperma dalam keadaan normal.  Berkali-kali konsultasi dan tidak merasa puas, akhirnya sahabat saya mencari second opinion dengan datang ke dokter SpOG lain. Hasilnya tetap sama, semuanya baik-baik saja. Akhirnya dia memutuskan untuk datang ke spesialis fertilitas, tapi ternyata hasilnya masih belum menjawab pertanyaan tentang masalahnya sampai belum hamil.


Udah, Tulis Aja!
Oleh: Naila Fauzia Rahmani


Makk, Mbak, Bunda, Sista, gimana kabarnya nih? Sehat? Alhamdulillah .…
Dududu … judulnya itu, looohhh …
saya sengaja pasang judul ini. Ini spesial buat semua perempuan. Kenapa? Karena saya juga seorang perempuan. Jadi, berdasarkan pengalaman saya, seorang perempuan itu punya bakat cerewet. Hayo ngaku?! Cerewet kok bakat. Hehe ....

Iya, beneran. Bahkan bakat terpendam yang pasti akan keluar walaupun tidak diberi stimulus sekali pun. Nggak percaya? Coba saja amati di lingkungan sekitar. Kalau ada perempuan ngumpul, mereka ngapain coba? Ngobrol. Betul, kan? Di mana aja, coba bayangkan. Di mana aja.
Lagi sendirian aja bisa ngobrol panjang lebar, apalagi berkumpul dengan sesama perempuan. Dunia serasa milik mereka. Ngorolin apa, sih? Ya macem-macem. Ngalor ngidul ngelantur ke mana-mana.


Ujian rumah tangga
Oleh: Ruju


Jadi single parent itu memang sulit, kami dituntut untuk kuat dan bisa dalam segala hal. Kuat dri segi fisik ataupun batin. Kami harus kuat untuk mendidik anak seorang diri, harus kuat mencari nafkah sendiri, dan harus kuat mendengar cacian dri orang sekitar.
Dengan menyandang status janda, secara otomatis masyarakat akan memandang buruk. Ngobrol dengan lawan jenis, dibilang genit. Gak meladeni lawan jenis, dibilang sok suci atau sok jual mahal. Memang seperti itulah kenyataannya, dan di mata lelaki pun, saat mendengar seseorang berstatus janda, ia akan serta merta merayu dan menggoda, seolah kita ini wanita murahan yang gampang tergoda oleh gombalan gombalan mereka yang tidak penting.

Jadi, teman … bagi kalian yang menyandang status ini, bersabarlah .... Tahan semua cacian dan hinaan, perbaiki diri saja. Toh kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain. Kita hidup untuk diri kita, anak kita, keluarga, dan orang orang yang sayang pada kita. Abaikan semua cacian buruk. Teruslah memperbaiki diri, mendekat pada Sang Pencipta, berserah dirilah. Karena Allah satu satunya penolong yang nyata.


Aku dan Kegiatan Menulisku
Oleh: Arkina Melantri


“Memangnya waktu kecil cita-citamu mau jadi penulis?”
“Pekerjaanmu sekarang memangnya jadi penulis ?”
“Kamu rajin nulis apa karena mau menerbitkan buku?”
Jika ada seseorang yang bertanya salah satu kalimat seperti tersebut di atas kepadaku, sampai saat ini aku masih ragu untuk bisa mengutarakan jawaban ‘iya’. Jujur saja, cita-cita sebagai penulis sama sekali tak pernah terpikirkan olehku sedari kecil. Aku pun saat ini tidak merasa berprofesi sebagai penulis sehingga belum ada niat agar semua tulisanku dijadikan sebuah buku. Selama ini aku hanya terbiasa menulis karena memang ingin menulis, entah itu berupa curahan hati maupun artikel-artikel dengan tema remeh.

Awal mula aku mulai menulis sebenarnya sangat simpel. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, aku dan teman-teman sebayaku memiliki kebiasaan bertukar buku harian yang satu sama lainnya diharuskan untuk mengisinya dengan tulisan apa pun, misalnya saja mengenai diri sendiri. Kami menyebut buku harian tersebut dengan buku diary. Sejak ada buku diary tersebut, aku merasa benar-benar menggemari kegiatan menulis. Bahkan aku tidak hanya menuliskan suatu hal di buku diary milik teman-temanku melainkan di buku diary milikku sendiri setiap ada waktu luang.


Langkah Kecil Bernama Menulis
Oleh: Via Qinuri


Menulis untuk mengikat ilmu.
Menulis untuk menasihati diri.
Menulis untuk menyebar benih kebaikan.

Banyak cara untuk mengikat ilmu, mengapa harus dengan menulis?
Banyak jalan untuk menasihati diri, mengapa harus lewat menulis?
Banyak ikhtiar untuk menyebar benih kebaikan, mengapa memilih menulis?

Karena dengan menulis, ilmu yang kita ikat terpancang kuat dalam setiap hurufnya. Nasihat itu mengalir dari sungai kata di dalamnya. Kebaikan itu abadi di sana.

saya belum lama masuk ke dunia tulis-menulis. Meskipun sedari kecil hingga dewasa aktivitas saya tidak pernah luput dari kertas dan pena, namun goresan tinta saya hanya sebatas apa yang diwajibkan dari sekolah. Saya tidak menulis diary, tidak juga artikel. Saya tidak menulis resensi karena saya bahkan tidak membaca buku. Satu hal yang menyadarkan saya adalah ketika saya menulis status di media sosial. Banyak pembaca tulisan saya yang berkomentar bahwa tulisan saya renyah, bagus, enak dibaca. Bahkan, beberapa dari mereka menyarankan agar saya menulis novel atau tulisan lainnya.

Menjadi Minoritas
Oleh: Primandani


“Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” cukup dijunjung saja, tidak perlu berubah wujud. Itu adalah prinsip yang saya anut ketika saya berada di sebuah desa dengan penduduk nonmuslim dan saya satu-satunya muslim. Kisah ini dimulai ketika saya memutuskan untuk mengabdi ke daerah terpencil sebagai pendidik di wilayah timur Indonesia. Surga di Timur Matahari julukannya, kalian tahu itu? Ya, Alor nama tempatnya. Dari bandara Yogyakarta transit di Denpasar – Kupang dan barulah saya tiba di Bandara Mali. Satu-satunya bandara di Alor.
Saat itu saya tidak tahu mana Alor, seperti apa orang-orang di sana dan bagaimana keadaan di sana. Saya hanya tahu bahwa saya akan tinggal di tempat terpencil. Tantangan pertama di mulai ketika saya sampai di rumah kepala sekolah tempat saya mengajar (kemudian saya panggil “Bapak”). Saya diterima dengan baik oleh bapak.

Rumah ini adalah rumah persinggahan Bapak jika di kota. Jadi saya belum di penempatan. Rumah itu bangunan baru, masih bertembok batu bata dan lantai semen kasar. Rumah itu dibagi menjadi 3 ruangan, berjelujur ke belakang dari depan ruang tamu, ruang tengah untuk nonton tv, dan ruang dapur yang pisahkan oleh ruang terbuka untuk santai.

Sebelum merapikan semua barang di kamar tentunya saya harus menyapa yang ada di rumah Segera saya menuju ke belakang karena semua sedang berkumpul di sana. Sampai di sana, saya bertemu keluarga bapak.



Cinta Pertama yang Tak Terganti
Oleh: Arif Hartanti



Cinta seorang ayah pada anak perempuannya akan selalu menghadirkan rindu yang tak lekang oleh waktu.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa seorang ayah adalah pahlawan pertama bagi anak laki-lakinya dan cinta pertama bagi anak perempuannya. Dan bapak, adalah cinta pertamaku yang selalu menghadirkan rindu.

Bapak … demikian aku memanggil ayahku. Bapak adalah seorang lelaki desa sederhana yang sehari-hari bekerja dengan cangkul dan pembajak sawah. Bapak terbiasa berteman dengan terik matahari dan tetesan peluh demi keluarga. Bapak meninggalkan banyak kenangan di masa kecilku yang tak terlupakan.

Bapak hanya berkesempatan mendapatkan pendidikan formal di Sekolah Rakyat atau setara dengan SD saat ini. Pada tahun 50-an, pendidikan formal yang lebih tinggi memang tak dapat dijangkau oleh kebanyakan orang di daerah bapak. Saat itu adalah masa-masa sulit setelah kemerdekaan. Jangankan untuk bersekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka masih kekurangan.

Beras adalah barang mahal. Walaupun kebanyakan mereka menanam padi sendiri, namun mereka memilih untuk menjualnya dan hasilnya digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup yang lain. Sedangkan untuk makanan sehari-hari mereka hanya mengkonsumsi beras yang dicampur jagung. Bapak pernah bercerita saat itu pakaian yang ia pakai terbuat dari karung yang terkadang tidak diganti setiap hari. Gatal-gatal adalah penyakit biasa pada anak-anak masa itu disebabkan oleh pakaian yang tidak higienis.


Menulis Vs Terapi Jiwa
Oleh: Reni Astuti


“Menulis dapat membantuku menghapus air mata ketika aku merasa sudah tidak mempunyai harapan lagi. Saat aku benar-benar ingin menyerah, menulis dapat menolongku untuk tetap tegak berdiri. Dengan menulis pula dapat membuat otakku selalu berpikir positif. Aku merasakan kesehatanku semakin membaik.”

Beberapa tahun yang lalu aku mendapat ujian sakit dan bukan sakit biasa. Aku merasa sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari seorang ‘aku’. Dalam kesunyian aku sempat berpikir bahwa Allah tidak adil, kenapa harus aku yang sakit seperti ini…

Setelah sekian lama aku termenung, aku sadar. Aku tidak boleh menyalahkan orang lain apalagi Sang Pencipta. Aku harus berpikir positif, pasti ada maksud baik dari Allah dibalik musibah yang menimpaku. Meski pada awalnya tidak mudah, tetapi aku harus berusaha ikhlas menerima takdir Illahi. Semua manusia mempunyai kisahnya masing-masing yang harus dijalani baik dengan rela ataupun tidak, termasuk juga aku.

Dari sinilah aku terpikir untuk mencari kegiatan lain yang dapat menghiburku. Hal yang ada dalam pikiranku waktu itu adalah kegiatan menulis. Ya, aku ingin meneruskan kembali hobi yang sudah lama aku tinggalkan. Selain itu aku ingin jika suatu saat nanti Allah memanggilku, aku bisa meninggalkan jejak. Meskipun itu mungkin hanya satu karya selama hidup tetapi aku ingin karyaku suatu saat bisa bermanfaat untuk orang yang membacanya.


Aku Bukan Angel
Oleh: Elly Mulyati


Kebanyakan wanita pada umumnya pasti mempercantik penampilannya. Pandai bersolek, pandai dalam berpakaian, sampai pandai padu padan.  Dari kerudung, pakaiannya, sandal atau sepatu.
Bahkan warna lipstik dan eyeshadow yang akan dia kenakan harus sesuai gaya fashionnya. Tapi sayang...tidak semua wanita di dunia ini memiliki kepandaian dalam hal bersolek atau melukis wajah.

Salah satunya,adalah sebut saja si Aralle. Ia sehari hari hanya mengucir rambut, memakai kaos oblong dan celana denim pensil plus snakers. Jangan berharap akan melihat lipstik atau lipglos yang mewarnai bibirnya. Jangan tanya juga bedak apa yang dia pakai untuk kulit wajahnya. Sebab tidak akan menemukan jawabannya.
Dalam hal pergaulan dan berinteraksi ini dia ahlinya, “Aralle gitu, loh!” ujar kawan- kawan memujinya. Kemana pun dia berjalan, seolah-olah semua mahluk hidup di dunia ini adalah sahabatnya. Walaupun Aralle tak secantik Natasya Wilona, Aralle tidak pernah pilih pilih kawan. Hehehe. Karena baginya, sejelek-jeleknya kawan, yang harus di benci itu sifatnya
bukan orangnya. Itu merupakan pekerjaan yang gak semua mahluk bisa mengerjakannya. Its true.

Aralle itu simpel, ramah, walaupun mukanya jutek. Ia tak pernah malu menyapa duluan. Aralle juga pandai mencairkan suasana. Namun ia juga selalu nyebelin di saat sepi dan bete. Selalu perhatian di saat sedih dan gelisah.

Biarkanlah penamu berbicara
Oleh: Risnawati


Sahabat, apa sih itu menulis? .Pasti kalian bingungkan dilontarkan pertanyaan yang singkat namun sulit untuk di jawab.Dari pada bingung yuk kita bongkar bareng-bareng apa sih itu menulis?

Definisi menulis menurut KBBI adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasan, pikiran, kepada orang lain dengan media tulisan. Tapi sebenarnya menulis adalah salah satu obat pelipur lara, loh.
Ketika kita sedih, gelisah, marah, maka tuangkanlah semua rasa itu pada buku kecilmu maka semua rasamu itu akan menjadi cerita yang akan menyampaikan semua keluh kesahmu. Terus apa sih manfaat menulis untuk kita, sehingga banyak orang ingin menjadi penulis.


Ida
Oleh: Vicky Yunita Wardhatul Jannah


Ketika menyerah menjadi alasan yang terlalu mudah, lantas ada berapa orang di dunia ini yang gigih bertahan menaklukkan keterbatasan?
Ayah, Ibu, aku tahu dari dulu kalian tidak pernah mengajarkanku untuk menghargai orang hanya dari sisi materi, tapi hati nurani. Bukannya dulu Ayah dan Ibu juga berjuang dan bertahan, sepertiku sekarang ini?
~~~
Adalah Ida, wanita 37 tahun yang setiap hari giat mencari nafkah membuka bisnis katering demi kedua buah hatinya yang duduk di bangku sekolah dasar. Ida merupakan janda. Suaminya sudah meninggal tepat setahun lalu saat anak keduanya, Jani masuk SD karena kecelakaan motor.  Tentunya hal ini merupakan pukulan besar bagi Ida, sebab secara otomatis ia akan menjadi tulang punggung keluarga selanjutnya.

Semasa hidupnya, Mas Benu, suami Ida, merupakan sosok pria yang arif. Bahkan dulu sebelum menikah, orang tua Ida pun sangat menyukai sikap Mas Benu yang sopan, ramah namun berpendirian. Pun saat Mas Benu tiba-tiba datang untuk melamar Ida di depan kedua orang tuanya.
“Assalamualaikum, Pak, Bu. Hatur nuhun, Benu sudah diizinkan singgah ke rumah, ngobrol dan ketemu sama Ida selama hampir 2 bulan berjalan. Bismillah, jika diperkenankan Benu tidak lagi ingin singgah, tapi menetap selamanya di hati Ida dengan jalinan akad.”


Aku dan Cita-Citaku
Oleh: Helmi


Cita-citaku adalah seorang penulis pemula yang hanya mengandalkan kemampuan menulis dengan cara sangat sederhana dan menimbulkan banyak makna yang tersimpan, Sejak SMP aku selalu meluangkan waktu sedikit untuk menulis dan membaca berbagai buku dan kadang membuat sebuah cerpen dan puisi di blog pribadi entah mengapa aku sangat suka menulis.

Mungkin saja aku terlalu mengidolakan sosok tokoh yang ada di dalam novel tersebut. Namun aku tidak terlalu pede dengan tulisan yang aku tulis, terasa hanya sebuah mimpi buruk yang aku pikirkan tentang diriku. Itulah sebabnya aku mencari tentang kepenulisan. Aku pun mendapatkan cara menulis dengan baik dan sederhana cukup terus berlatih terus menerus dan jangan selalu berhenti untuk menulis karena itu akan membuat tulisanmu tidak akan pernah selesai sampai kapan pun.

Akhirnya aku bisa keluar dari kemalasan yang selalu menghantui diriku sendiri, aku selalu melakukan sesuatu hal yang menyenangkan agar aku tidak terlepas dalam menulis buku. Tidak peduli bagaimana tulisanku dan apa pun yang di katakan orang di luar sana yang terpenting bagiku adalah bagaimana orang mengerti cerita dalam pengalaman yang aku tuangkan dalam tulisanku.


Goresan Masa Kecil dan Cita-Citaku
Oleh: Eva Susanti


Semua orang pasti melalui masa kecilnya dengan berbagai pengalaman dan kenangan yang berbeda – beda. Namun tidak jarang orang menyebut masa kecil adalah momen yang paling membahagiakan, meskipun tidak semua dapat melaluinya dengan bahagia.  Entah itu tentang bermain bersama teman,  menikmati makanan yang enak dan lezat, tinggal di tempat atau rumah yang mewah, belajar di sekolah yang favorit dan nyaman, berlibur ke tempat  tempat wisata terkenal bahkan sampai ke luar negeri. Tapi nyatanya,  tidak semua anak beruntung bisa menikmati hari-hari di masa kecilnya dengan bahagia dan sempurna. Apa itu mereka sudah tidak mempunyai orang tua, atau mereka hidup di garis kemiskinan.

Salah satunya adalah saya, anak dari seorang petani yang tinggal di desa kecil yang jauh dari kebisingan. Setiap hari orang tua saya selalu menjalankan tugasnya sebagai seorang petani untuk menggarap sawah dan ladangnya. Tidak jarang pula bapak saya menggarap sawah dan ladang orang lain sebagai tenaga harian untuk melanjutkan kehidupan keluarga kami. Beliau adalah seorang pekerja keras dan pantang menyerah. Siang dan malam membanting tulang tanpa kenal lelah. Beliau bertekad agar anak-anaknya kelak bisa sekolah tinggi dan tidak bernasib seperti beliau.

Jejak Sejarah Goresan Penaku
Oleh: Erlina Ika Andarista


Semenjak gagal di bangku perkuliahan, gadis desa itu selalu termenung tiap harinya. Dia sering melamun di kamarnya. Kegagalan itu selalu menghantui dirinya. Dia berusaha bangkit dari masa lalu yang kelam namun selalu saja muncul di benaknya. Menurutnya, move on dari kegagalan tak semudah membalikkan telapak tangan.

Gadis desa itu berasal dari keluarga sederhana. Dia dilahirkan dari keluarga petani. Di rumahnya dia memiliki kebiasaan suka menanam bunga. Dia pun senang membaca dan menulis. Oh iyaa sobat, gadis desa itu biasa dipanggil Neng Ita oleh rekan dan kerabatnya di desa.
***
Ketika masih duduk di bangku SMA, dia mempunyai satu impian bahwa setelah lulus nanti ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu KULIAH. Sempat berpikir, apakah bisa anak seorang petani kuliah? Kata-kata itu selalu terbayang dalam pikirannya. Dia bercita-cita menjadi pengusaha di bidang pertanian, yaa bisa dibilang meneruskan usaha tani keluarganya.


Kreatif Mendidik dengan Menulis
Oleh: Atika Suci


Pentingkah bagi seorang ibu rumah tangga menulis? Ya, sangat penting. Kenapa? Karena wanita membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri dan menyalurkan emosi dengan cara positif. Seperti kita ketahui, di dalam keseharian seorang ibu rumah tangga seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan. baik itu hubungannya dengan suami, anak, orang tua maupun mertua. Belum lagi  masalah ekonomi keluarga, masalah pendidikan anak, dan masalah-masalah lainnya.

Tentu saja, hal itu akan membuat pikiran seorang ibu rumah tangga semakin mumet yang akan berpengaruh pada kondisi emosionalnya. Bahkan tidak jarang ibu rumah tangga menjadikan sosial media sebagai pelarian untuk melampiaskan emosinya, tanpa mempedulikan kerahasian pribadi dalam rumah tangganya

Bagaimana bisa separah itu? Hal ini bisa terjadi jika seorang ibu tidak dapat mengelola emosinya dengan baik. Jika demikian akibatnya bisa fatal, bukan hanya akan berpengaruh buruk dalam hubungannya dengan suami tetapi juga akan mempengaruhi perkembangan emosi anak-anaknya.


Impian yang Terwujud
Oleh: Intan Daswan


Terlahir dengan kondisi tubuh yang berbeda dengan keempat kakakku. Ya, dari bayi hingga remaja, aku memang memiliki fisik yang sangat lemah. Tubuhku ini terlihat ringkih karena sakit yang tak kunjung sembuh.

Setiap hari harus mengonsumsi obat. Berkunjung ke dokter atau rumah sakit setidaknya sebulan sekali. Jarum suntik menjadi hal yang biasa aku rasakan. Jangan tanya apa aku ini sudah bosan dengan semua ‘rutinitas’ yang aku jalani.
Bahkan ketika aku duduk di bangku sekolah pun, izin sakit menjadi hal yang biasa. Jika orang lain di buku rapor itu hanya 3 atau paling banyak seminggu izin sakit, kalau aku sebaliknya. Seringkali aku hanya sekolah seminggu dalam satu bulan.
Kondisi fisik inilah yang membuatku tumbuh menjadi pribadi yang minder. Aku sama sekali tidak memiliki kepercayaan diri. Aku terkenal dengan pribadi yang penakut, pemalu dan pendiam.


Berbagi Dengan Tulisan
Oleh: Qheiza Wiranda Edelwise


Kenapa saya ingin menjadi penulis, karena ingin berbagi pengalaman. Setiap orang pasti memiliki pengalaman berharga dalam hidupnya. Entah pengalaman itu baik atau tidak. Pengalaman baik atau buruk bisa menjadi bahan pembelajaran bagi orang lain. Cara terbaik untuk berbagi pengalaman adalah melalui sebuah tulisan. Kita bisa berbagi pengalaman dalam bentuk artikel di blog atau bisa dalam bentuk buku. Saya juga menjadikan menulis sebagai self-healing ketika saya pernah mengalami kondisi yang menyedihkan, kehilangan kepercayaan pada diri dan orang lain, kelelahan emosi karena bersedih.

Saya yakin pengalaman yang dikemas dalam bentuk tulisan tidak akan pernah sia-sia atau menggurui. Pengalaman yang ditulis juga bisa menginspirasi banyak orang. Buktinya banyak tokoh yang menulis pengalaman pribadinya lewat buku biografi dan sungguh pengalaman dari masa kecil hingga meraih puncak kesuksesan sudah memotivasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama.


Ilmu Tak Terpakai
Oleh: Titiq Detiq


Mutia berusaha menyelesaikan tas rajutannya. Beberapa kali dia menguap sambil menggosok-gosok mata. Ditekuk lehernya ke kanan dan ke kiri, berharap rasa penatnya hilang. Televisi yang menyala sebenarnya tak terlalu diperhatikan sejak tadi. Matanya berfokus pada jalinan benang nilon. Ada sebuah  motif yang sedang dia buat,  berharap tas rajutnya menjadi unik sehingga lebih mudah terjual.

Sejak resign dari pekerjaannya di kantor, hanya ini satu-satunya kegiatan yang bisa dia lakukan untuk menghasilkan uang. Kebiasaannya dahulu yang menerima gaji di tangan sendiri, membuatnya merasa gamang akhir-akhir ini. Apalagi, menjadi ibu rumah tangga bukanlah mimpi besarnya.

Ingatannya tiba-tiba berkelana tentang kejadian kemarin. Wanita itu bernama Yunita, orang yang berhasil membuatnya berpikir keras tentang ilmu yang tak terpakai. Pertemuan singkat dan tanpa sengaja itu, membuat Mutia kembali ragu dengan pilihannya. Benarkah dia mampu menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga, dengan ilmu yang sudah melekat dalam ingatannya? Sedangkan mungkin di luar sana ada orang yang membutuhkan bantuan.

"Nggak buka praktik di rumah, Dik?" tanya Yunita, setelah Mutia memberikan keterangan tentang kegiatannya.


Perempuan, Penulis Dan Aku
Oleh: Atsuko Al-Aminy


Dua hal, PEREMPUAN dan PENULIS, secara sederhana melekat padaku. Betul! Aku seorang perempuan terlahir 40 tahun yang lalu, kini sudah bersuami dan mempunyai seorang anak lelaki. Dengan penuh percaya diri aku menyebut diri ini seorang penulis. Kenapa? Karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia penulis /pe•nu•lis /n 1 orang yang menulis; 2 pengarang: ~ naskah; 3 panitera; sekretaris; setia usaha; 4 pelukis; penggambar;~ cepat orang yang menulis dengan huruf steno; ~ tajuk anggota redaksi yang ditugaskan menulis tajuk rencana pada surat kabar atau majalah. Jadi aku termasuk definisi nomor 1.

Walaupun tulisanku masih berupa laporan kerja atau puisi atau cerita pendek sekali. Terkadang malah hanya menulis ulang resep masakan dari internet/majalah/tabloid/koran ke buku tulis yang dijadikan catatan khusus resep. Bisa jadi berupa tulisan bercabang ala mind map jika sedang menulis cepat saat rapat atau menuangkan gagasan.

Nah, beberapa waktu lalu aku ikut kelas kepenulisan secara online. Sebelum mengikuti kegiatan itu, aku menulis tanpa ada motivasi jelas. Hanya untuk melepas kepenatan (alias stress) karena pekerjaan atau hal lain. Tahap awal mengikuti kelas peserta sudah diwajibkan menulis ikrar dan alasan kenapa harus menulis. Ini semacam hal baru yang menggugah pikiran. Bahwa menulis bukan sekadar ‘menulis’, tetapi harus ada sesuatu dalam tulisan (baca: nilai positif) terkandung supaya bisa diwariskan.

Hati yang Tangguh untuk Jantung
Oleh: Ruth Sri Rahayuningsih


Allah menitipkan malaikat kecil padaku setelah hampir dua tahun pernikahanku. Begitu bersyukur saat malaikat mungil itu lahir di dunia. Aditya Zacky nama yang kami berikan padanya. Berselang tujuh belas bulan, Allah kembali titipkan malaikat kedua padaku. Nama yang diberikan padanya adalah Dicky Adi. Aku dan suamiku bertambah syukur dan bahagia. Dua malaikat laki-laki dalam rumah membuat bermacam warna di dalamnya.

Bertambah usia mereka tidak banyak perbedaan antara keduanya. Tak jarang banyak orang yang keliru menyebut nama mereka karna wajah mereka mirip. Bahkan tak jarang orang menebak mereka anak kembar. Karena selain mirip secara fisik keduanya hampir sejajar. Akan tetapi Aditya berat badannya tidak begitu banyak pertambahannya. Bahkan sempat lebih kecil dari adiknya. Dalam satu bulan pastilah harus ke dokter karena flu dan batuk. Hal itu berlangsung sampai usia Aditya menginjak hampir lima tahun.

Sekitar Desember 2013, aku merasa ada yang tidak beres dengan pertumbuhan dan perkembangan Aditya. Aku dan suami berkonsultasi dengan saudara yang bekerja di bidang kesehatan. Selanjutnya, aku pun berdiskusi dengan dokter spesialis khusus anak untuk mencari permasalahan dalam pertumbuhan Aditya. Dokter anak menyarankanku untuk mengecek kesehatan Aditya ke rumah sakit yang memiliki pelayanan echocardiogram (Echo) untuk memastikan kondisi di dalam tubuhnya.

Dakwah Bil Qalam
Oleh: Okti Setiyani


Awalnya hanya sebuah keterpaksaan. Lama-kelamaan menjadi hobi dan ternyata bisa mengatasi kekurangan. And this is my way to become a writer.

Aku mulai menekuni dunia kepenulisan saat duduk di semester satu perkuliahan. Ujian akhir semester. Pasti otak kita langsung mengarah pada seonggok soal dengan segala keruwetannya. But our lecturer is different, he is a writer. Karena dosen kami seorang penulis, alhasil mahasiswanya pun terkena imbas. Ujian akhir semester kami bukan soal, namun tugas membuat karangan tentang perjuangan kami masuk universitas. Memang hanya itu tugas yang beliau berikan. Yah, waktu itu aku sangat tidak tertarik. Pusing tujuh keliling. Bingung. Gelisah. Galau. Merana. Gundah gulana. Hehe, sorry hiperbolis.

Buat karangan setelah salat tahajud, itulah saran yang paling mengena dari dosen kami. Agar pikiran jernih dan diarahkan oleh Sang Kuasa. Namun, begitulah kira-kira. Hasilnya tetap acak adul, tak karuan, rancu dan sungguh memalukan. Lebih memalukan lagi ketika tahu bahwa karangan itu akan dibuat antalogi dan diterbitkan. OMG heloooo... para reader pasti langsung ngakak, bukan karena ceritanya lucu, melainkan ceritanya tidak mutu. Et dah ....

Entah dengan alasan apa hati ini tergugah, semangat aneh berkobar di kepala dan jari-jariku. Aku ingin menulis. Menjadi penulis novel best seller. Step by step kegagalan aku temui. Mulai dari lomba cerpen gratisan sampai essay rumit kuikuti. Dan gagal. Tragis!


Dengan Menulis Aku Bahagia
Oleh: Zikriati


Sejak di bangku sekolah, Aku sudah mulai menyukai menulis. Hal paling membuatku suka menulis adalah ketika aku mengalami perasaan bahagia. Semua yang ingin dicurahkan rasanya mengalir begitu saja tanpa harus berpikir lama. Kita bebas menulis apa saja yang membuat hati bahagia, baik di saat punya teman baru maupun disaat mendapat sesuatu kasih sayang orang sekeliling.

Dengan menulis hidup jadi lebih berwarna. Menjadi mengerti apa itu arti kehidupan yang sebenarnya. Menulis juga dapat menghilangkan beban dalam diri seperti sedih, marah, dan kecewa. Bagiku menulis itu ibarat menumpahkan berbagai macam bentuk emosi ke dalam sebuah samudera yang luas. Itulah arti menulis menurut pendapatku. Pengalaman hidup yang aku miliki itu ingin kutuliskan agar bisa membuat diri lebih baik lagi.

Bukankah pengalaman itu adalah gurunya kehidupan yang kita jalani. Tulisan itulah yang akan membuat kita mengerti arti kebaikan dan keburukan. Aku dapat menelusuri jalan cerita kehidupan yang membuatku pernah mengalami kesedihan karena hal itu aku pernah menulisnya dan begitu dibaca ulang lagi maka akan ketemu bagaimana cara menyelesaikan dan mencari solusinya.

Menulis, Why Not?
Oleh: Fifi Sofia


Beberapa hari lalu bertemu dengan sahabat semasa SMA, yang sudah hampir 10 tahun tidak bisa tatap muka. Sebut saja namanya Indy.  Agenda awal menemui Indy sebenarnya ingin menyerahkan buku antologi saya -yang dibeli Indy- namun karena belum sampai kirimannya dari penerbit, saya memutuskan untuk silaturrahim saja. Di sela perbincangan, Indy menanyakan sejak kapan saya mulai menulis. Karena sepengetahuannya, waktu kami duduk di bangku SMA, saya belum suka menulis.

Saya pun bercerita sejenak. Sebenarnya, hobi menulis ini baru ditekuni secara serius di awal tahun 2019 ini. Dulu waktu masih remaja bahkan sampai beberapa tahun sebelum menikah, saya rajin menuangkan curahan hati ke dalam diary. Diary yang jika dibaca lagi saat ini, apalagi setelah menikah, membuat saya tertawa malu dan merasa lucu sendiri. Ternyata sebegitu lebay atau alay-nya dulu diri ini.

Untuk saya, menulis bukan karena ingin dibilang keren atau hanya sekadar mengisi waktu. Saat ini saya baru sadar, menulis adalah salah satu passion yang baru ditemukan tahun lalu saat tugas pembelajaran online di komunitas Ibu Profesional. Di situ saya membagi kemampuan diri dalam empat kuadran. Entah kenapa tiba-tiba teringat, saya memasukkan kata 'Menulis' ke kuadran 'bisa namun tidak senang'. Setelah saya pikir lagi berarti sebenarnya saya sadar punya kemampuan menulis, tapi dulu tidak tertarik dengan dunia ini.


Sebuah Kisah
Oleh: Dede Apriyanti


“Selamat Mawar, karya kamu terpilih untuk dijadikan novel,” ucap editor di salah satu penerbit indie, sambil menjabat tanganku dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Tentu saja itu membuatku sangat bahagia, semua orang pasti memiliki impian yang sama.

Aku keluar dari ruangan itu dengan senyum yang tak lepas dari bibir, akan kupamerkan ini kepada teman-teman nanti, karena akhirnya bisa kubuktikan kalau karya yang selama ini mereka remehkan bisa diterima penerbit dan bisa sukses di pasaran.

“Jangan senang dulu, War. Baru dicetak, kan? Belum juga laku.” Ejekan mereka kembali membuatku terpuruk, setelah sebelumnya temanku itu mengejek karyaku dengan sebutan sampah. Aku memang marah, tapi tak berani untuk membalasnya. Karena memang benar yang mereka bilang, karyaku masih sebuah kertas. Belum menghasilkan rupiah.

Belum hilang luka karena ejekan teman-teman, ketika sampai di rumah amukan ayah pun membuatku kembali menitikan air mata. Beliau menemukan kertas berisi semua cerpen dan cerbungku di atas meja kamar, ayah sangat marah karena beliau menganggap kalau hobi menulis itu hanya sia-sia, menghabiskan waktu dan tidak bermanfaat.


Ketika Aku Berteman dengan Titik Jenuh
Oleh: Iim Halimats Sadiyah


Selamat datang kembali aduhai titik jenuh
Silakan bertamu sesuka hatimu
Aku tak akan kembali mengusirmu
Justru aku menyambutmu
Bahkan menikmati kehadiranmu.
Jadi, kurang baik apa aku padamu?
Ya, lagi-lagi aku kembali pada titik jenuh. Hufff.. Menjengkelkan. Ingin sekali aku musnahkan. Sayang, tak bisa aku lakukan. Sugguh menyebalkan. Tak bisakah aku hanya merasakan kebahagian? Tanpa dihinggapi kejenuhan? Ah, rasanya mustahil dilakukan.

Selamat datang di kehidupan dengan penuh kejenuhan. Tunggu, jangan hakimi aku dulu. Aku hanya ingin mengutarakan apa yang ada dalam pikiran. Tenang saja, rasa syukur selalu aku panjatkan. Meskipun kehidupan tidak sesuai dengan harapan. Penuh dengan kejenuhan hingga muncul kepedihan. Menyakitkan.
Beginilah kehidupanku. Selalu saja salah mengambil langkah. Ujung-ujungnya, uring-uringan tidak karuan. Sudah salah langkah, suka salah mengambil keputusan pula. Gegabah? Tidak, aku justru memikirkannya matang-matang. Tapi, tetap saja aku menilainya salah langkah dan salah mengambil keputusan. Pandir sekali aku ini.

Bangkitlah, Setidaknya Melalui Tulisan
Oleh: Noerma Heni


Aku tahu air tidak selamanya jernih, kadang air tersebut menjadi keruh atau berwarna karena banyak limbah. Roda juga selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Jalanan pun  tidak selalu lurus, tetapi ada saatnya berbelok, menanjak atau menurun. Ya, that’s the real life tidak selamanya mulus, tidak seromantis drama korea, tidak sepuitis barisan diksi dalam novel dan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Aku tahu bagaimana capeknya melawan kegundahan hati, aku hafal banget bagaimana rasanya hampir putus sekolah, aku tahu pengkhiatan itu teramat sangat menyakitkan. Aku juga paham sesaknya menahan amarah ketika difitnah dan dicaci. Aku juga mengerti kegagalan terasa sangat menyedihkan dan meruntuhkan semangat yang sudah tertanam.

Gerilya
Oleh : F. Hazmi


"Dek, lagi ngapain?" tanya suami. Dia sudah berdiri di sebelahku yang tengah berbaring menatap ponsel.
"Nggak ada. Lihatin komen di FB aja, Bang," ujarku tanpa mengalihkan pandangan. Sambil mesem-mesem, scroll layar ponsel lihat komentar pembaca yang bejibun. Baru kali ini, tulisanku dapat banyak like di grup.

"Kamu dengar nggak tadi kupanggil suruh ambil handuk?" tanyanya dengan nada yang agak tinggi. Spontan aku menoleh lantas bergeleng.
"Itulah, Facebook-an aja kerjanya! Anak main paret di depan pun sampai nggak tahu!" Dia keluar kamar lantas menghilang di balik dinding.
Aku bergegas mencari Alvin. Saat hendak keluar, anak itu berteriak dari kamar mandi. Kuhampiri ia, tampak sudah telanjang. Bajunya yang sudah coklat kehitaman berserak di lantai. Ayahnya, betul-betul raib entah ke mana.
Part dua belas selesai. Sudah di-upload ke grup tinggal menunggu di-approve. Aku lanjut menyetrika pakaian. Semua pekerjaan rumah sudah beres. Seperti biasanya, masak, nyuci, nyapu, dan ngepel selesai sebelum matahari keluar.


Mengapa Aku Harus Menulis?
Oleh: Wardhanilia


Ada bagian yang kurang dari diriku. Ia ada di dalam sana, bagian dariku yang paling dalam. Letaknya jauh di dasar hati, kau bahkan tak akan percaya karena kau hanya melihat dariku baik-baik saja.

Ibuku penyuka sastra, dan rupanya hal itu menurun padaku. Aku menyukai buku saat masih duduk di bangku Taman Kank-Kanak, dan aku mulai belajar menulis saat duduk di bangku Sekolah Dasar. Tak heran, jika di sekolah mata pelajaran yang paling aku sukai adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia bab mengarang.
Hingga aku tumbuh remaja kemudian dewasa. Aku tak pernah bosan untuk menulis. Segala sesuatu yang muncul selalu menarik untuk kubuat sebuah tulisan. Terkadang aku mandeg, sama sekali tak ada ide. Jika sudah begitu, aku harus membunuh rasa malasku dengan beranjak dari zona nyaman dan keluar untuk mentadabburi kebesaran Illahi. Hal itu ampuh untuk mengembalikan mood-ku, setidaknya.

Hingga aku merasakan sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku tak seperti orang kebanyakan yang mudah bergaul dengan banyak orang atau mudah menjalin pertemanan dengan orang baru. Aku lebih nyaman menyendiri, duduk dalam sepi di ujung keramaian. Bukan aku menjauhkan diri atau mengasing dari mereka, hanya saja aku mudah lelah jika terlalu banyak berinteraksi dengan orang. Atau aku merasa tak nyaman ketika mereka bisa tertawa dengan lepas. Aku lebih suka menyendiri, karena aku adalah introvert.


Aku, Perempuan dalam Pusaran Literasi
Oleh : Yulia Wardani


Menulis adalah proses kreatif yang dapat dilakukan oleh siapa pun dan di mana pun. Menulis merupakan salah satu cara terbaik bagi perempuan dalam menyampaikan rasa. Perempuan yang identik dengan karakter lemah lembut dan perasa sangat cocok bergelut dalam dunia tulis menulis atau literasi. Hal-hal yang tidak tersampaikan secara lisan dapat dituangkan dalam bentuk tulisan.

Secara umum, kegiatan menulis masuk ke dalam aspek literasi. Saat ini, dunia literasi tidak lagi di dominasi oleh kaum Adam. Kaum Hawa pun turut andil dalam memajukan literasi tanah air. Tidak heran jika saat ini bermunculan para penulis dan jurnalis dari kalangan perempuan.

Jika kita menapak tilas kembali sejarah bangsa ini, seabad yang lalu perempuan bernama Rohana Kudus telah menjadi pelopor lahirnya jurnalis maupun penulis perempuan di Indonesia. Beliau adalah pendiri surat kabar perempuan bernama Sunting Melayu. Kiprahnya dalam dunia literasi sangat layak diteladani oleh perempuan masa kini.

Jadilah Istri Penolong, Bukan Penodong
Oleh: Reni Hidayat


Aku adalah seorang ibu rumah tangga (IRT), yang kesehariannya di rumah mengurus anak, mempersiapkan keperluan suami, membersihkan rumah, memasak, belanja di pasar, dan mengikuti kegiatan sosial di lingkungan masyarakat. Emak-emak banget, yah. Awalnya aku bekerja sebagai guru SD dan pengajar bimbel. Semenjak hamil anak pertama, aku mulai mengurangi aktivitasku mengajar bimbel. Kemudian setelah melahirkan aku memutuskan untuk berhenti bekerja atas saran dari suami agar bisa fokus mengurus anak.
Suatu hari, aku membaca status WA (Whats App) seseorang di HP-ku yang isinya “Malam-malam benini, masih lembur kerjaan. Kenapa? Karena aku ingin jadi istri penolong, bukan istri penodong”.

Jleb ... rasanya seperti tersangka, hohoho ... karena aku tidak berpenghasilan, aku merasa seolah-olah dia menunjuk kepalaku, dan berkata “Jadilah istri yang pintar cari uang seperti saya, jangan hanya menengadahkan tangan menunggu pemberian suami!”.

Gubrak!! Kata-kata dalam statusnya masih saja terngiang-ngiang dalam pikiranku. Padahal si penulis tidak bermaksud menyingungku. Tapi udah kebawa baper aja, ya. Maklumlah perempuan. Hihihi.

Dirasa-rasa lagi, status itu kenapa bikin sedih, ya.? Padahal suamiku sudah mencukupi kebutuhanku dan tidak pernah memintaku untuk bekerja di luar rumah. Ia malah lebih suka aku di rumah saja. Karena ia ingin kapan pun saat pulang kerja ada istrinya di rumah. So sweet … hehehe. Maklum, suamiku jam kerjanya sangat padat sebagai masinis. Tapi, entah kenapa status itu tetap mengisi pikiranku.


Kamu Perempuan? Harus Menulis!
Oleh: Zarna Fitri


Menjadi seorang perempuan adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepada kita. Perempuan diciptakan dengan segala keunikan dan keistimewaannya. Keunikan yang paling besar adalah dianugerahkan-Nya kecerewetan yang sangat memesona. Dengan kecerewetan tersebut tentu banyak kosa kata yang dikeluarkan. Itu setiap hari, lho. Kalau tidak dikeluarkan katanya bisa menimbulkan stres.

Nah, tentu akan sangat merugi jika kata yang kemudian merangkai jadi kalimat itu dibiarkan terbuang begitu saja. Sungguh pekerjaan yang sia-sia, bukan? Kenapa tidak dibuat menjadi tulisan aja? Jujur walaupun aku mengatakan demikian tapi aku pun memang belum sepenuh hati melaksanakannya. Menjadi penulis memang menjadi bagian mimpiku karena aku ingin menebar kebaikan dengan menulis. Apalagi kalau sudah meninggal nanti, aku ingin tulisan-tulisanku menjadi amal jariyah bagiku. Menjadi pemberat timbanganku saat hari penghisapan tiba nanti.

Meskipun masih menjadi penulis masih tergantung mood, tapi tekadku untuk mempunyai buku solo tak pernah pudar. Tak dipungkiri memang bahwa mempunyai buku sendiri merupakan setiap orang yang mengatakan dirinya penulis. Bisa dikatakan mempunyai buku sendiri adalah bukti bahwa orang tersebut merupakan seorang penulis. Walau tak sepenuhnya benar demikian. Karena seorang penulis artikel atau penulis status di media sosial pun bisa dikatakan mempunyai aktifitas menulis.

Catatan Sang Penulis
Oleh: Nariez Xhu


Sore itu, masih saja terkenang jelas dalam ingatanku. Tanpa sengaja sebuah termos air panas yang kupegang terlepas dan jatuh ke lantai. Degup jantungku semakin kencang terasa. Terdengar suara keras dari bagian dalam termos, sepertinya memang pecah. Jelas saja rasa takut menghantui. Itu adalah termos air panas satu-satunya milik keluargaku. Harga Rp40.000,- kala itu, cukup dirasa mahal oleh ayah ibu yang berprofesi sebagai seorang guru di sekolah negeri. Wajar, bila nanti mereka akan marah dan menghukumku.

Ah, derai air mata sudah pasti berlinang. Ketakutan yang mencekam terasa di sekitar. Terbayang ayah ibu jika mereka tahu, bergantian akan memarahiku. Aku memilih menangis. Masuk kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.

Emosiku meluap-luap. Rasa takut bercampur marah kepada diriku sendiri, tanpa terasa telah menghasilkan energi yang berlipat. Aku mulai kepayahan mengatur gejolaknya. Saat itu usiaku baru 11 tahun. Peralihan masa kanak-kanak menuju remaja. Tak ada tempat untuk melampiaskan sesak di dada. Begitu sakit yang bercampur baur.

Menulis, Menenangkanku
Oleh: Chasanatul Abniyah


Dulu, awal saya kenal dan mulai cinta menulis adalah karena seorang teman yang Qodarullah dia tidak memiliki tangan, tapi dia sangat semangat, bahkan dia lebih dulu suka menulis dan banyak menuliskan apapun di buku diary waktu itu. Melihatnya yang begitu tegar dan ikhlas dalam kondisi seperti itu dan masih semangat berkarya sebagai wujud syukurnya, apa kabar saya yang alhamdulillah diberikan nilmat Allah yang Masya Allah lebih banyak dari dia. Bahkan sama sekali belum sadar untuk mengungkapkan rasa syukur atas nikmat tersebut.

Sejak saat itu, saya memulai menulis apa pun. Dari yang saya dengar,dari yang saya lihat, dan dari apa pun yang saya rasakan semuanya saya tulis, dan saya semakin cinta ... semakin nyaman dan semakin lega ketika saya bisa menuliskannya.

Saya adalah seorang ibu rumah tangga biasa, ibu dari dua orang putra yang saat ini berumur enam tahun dan adiknya yang berusia satu tahun. Keseharian saya, sudah jelas dengan membersamai satu batita dan satu bayi repotnya, masya Allah, tak bisa di ceritakan.


Jangan Ragu Menulis!
Oleh: Lina Mufidah Amatillah


Perempuan Menulis. Aku tertarik sejak pertama kali mengetahui tema yang harus kutulis, seolah hatiku berkata, ‘ini saatnya tulisanmu kembali mengudara’. Jatuh cinta dengan dunia tulis-menulis sebenarnya telah dirasakan sejak duduk di bangku TK. Alasannya sederhana, terbiasa menulis di buku harian. Ya, menurutku semua perempuan pasti memilikinya karena kebanyakan kaum hawa senantiasa terbawa perasaan. Beranjak dewasa, motivasiku menulis menjadi kian beraneka.

Tulisanku adalah Sejarahku
Oleh: Inayah binti Sunardi


Bismillaah.
Aku adalah seorang wanita yang terlahir dalam sebuah keluarga yang sederhana. Ayahku adalah seorang guru mata pelajaran pendidikan Agama Islam di sebuah sekolah dasar negeri yang ada di kecamatan Lajing-Bangkalan. Sedangkan ibuku menjadi guru kelas di sekolah dasar negeri di kecamatan Berbeluk-Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Selama kurang lebih 30 tahun, ibuku mengajar kelas satu SD. Alasannya karena rekan sejawatnya ingin ibu mengajar kelas enam, jika memang ingin pertukaran guru kelas. Jelas saja ibu lebih memilih tetap mengejar kelas satu, karena memang keahlian beliau di situ. Aku sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang telaten dalam membimbing anak-anaknya.

Tahun 2003, saat usiaku 19 tahun, datanglah surat pemberitahuan dari sebuah  Universitas Negeri yang ingin kumasuki, aku termasuk dalam calon mahasiswa yang masuk tanpa tes, namun program pendidikan yang nonreguler, itu artinya, uang semesternya lebih mahal dari yang reguler. Antara senang dan sedih kurasakan. Senang karena bisa masuk tanpa tes, sedih karena biayanya lebih mahal dari yang biasa. Kedua orangtuaku terus mendorongku untuk mengambil undangan ini, padahal saat itu kebutuhan kami sedang dalam masa puncaknya, aku masuk kuliah, adik lelakiku masuk SMU, namun kata orang tuaku, uang bisa dicari, yang mahal itu ilmu yang akan didapatkan.

Tentang Usaha, Doa dan Kesabaran
Oleh: Nurul Khoiriyah


Cuaca panas dengan debu yang kian bertebar membuat kaki mungil gadis berusia tujuh belas tahun tersebut melemah. Menapaki kerasnya trotoar dengan polusi udara yang kian menebal. Membuatnya mengerutkan kening dengan kucuran keringat yang kian membasah. Matanya menatap kendaraan yang hilir mudik melewatinya. Mengamati satu per satu. Saat jalanan mulai sepi, langkahnya dengan cepat melewati jalan raya tersebut. Melangkah memasuki gedung universitas yang tampak begitu megah.

Reina menatap universitas tersebut dengan mata berbinar. Ingatannya membawanya kembali pada masa dua tahun silam. Saat dia duduk di bangku depan sebuah becak dengan pria tua yang mengayuhnya. Tidak mengenal panas bahkan hujan.



Ada berbagai alasan mengapa seorang perempuan harus berkarya, salah satunya melalui tulisannya. Sebab, sosok perempuan akan semakin ‘ada’ dengan karya-karya mereka.

Perempuan masa kini yang memiliki banyak peran, baik dalam keluarga ataupun masyarakat, idealnya haruslah menulis. Ada banyak pengalaman, kisah, dan hikmah yang dialami oleh sosok perempuan, yang terlalu sayang jika hanya disimpan sendiri.

Apa pun peran yang sedang dijalaninya, hendaknya setiap perempuan harus menulis. Selain membagikan ilmu dan pengalaman, semoga ada pahala kebaikan yang terus mengalir dari karya-karya yang ditulisnya. Semoga kisah-kisah perempuan dalam buku ini bisa turut mengobarkan semangat dan energi bagi setiap wanita untuk membenahi diri, keluarga, juga bangsa Indonesia melalui goresan pena penuh kebaikan.


Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi




Powered by Blogger.