Menu
/

www.MomsInstitute.com - Sulaman Rasa. Membagikan kisah inspirasi untuk pembaca. Ketika pilihan hidup kita perjuangkan agar tidak sekedaar menjadi impian. Baca kisahnya di buku "Sulaman Rasa" Karena hidup setiap orang melewati kisah yang berbeda. 


Miracle of One Minute
Oleh: Yopi Sartika



“Satu menit saja mampu memberi nilai tambah bagi hidup,
karya, pemikiran, pemahaman, hafalan, dan kebajikan bagi Anda”
(A’id Abdullah al Qarni, Silakan Terpesona, 2004)



SEMENIT, kita dapat membaca sekitar kurang lebih dua halaman dari buku. Dalam semenit kita dapat mengucap zikir sebanyak seratus kali. Satu menit juga kita dapat membaca surah Al Fatihah sekitar lima kali. Betapa bernilainya waktu satu menit itu.  Semenit itu akan menggoresakan amal kebajikan yang luar biasa, jika kita memiliki keyakinan untuk melakukannya. Jika kita melenakan waktu satu menit, hidup kita menjadi hampa dan berlalu bagaikan debu yang berterbangan. Ya, itulah keajaiban waktu selama satu menit.

Semenit demi semenit kulalui hidupku berteman dengan Neuralgia Postherpetik__yaitu, kerusakan serabut saraf paska herpes yang disebabkan oleh virus herpes zooster. Kerusakan ini menyebabkan nyeri kronis dan nyeri ini dapat bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Di usia senjaku yang  menginjak 74 tahun ini baru kusadari betapa pentingnya waktu satu menit itu. Berbeda dengan beberapa waktu lalu, saat dimana diriku kehilangan semangat hidup. Neuralgia postherpetik memperpendek langkahku, mempersempit ruang gerakku, dan menjaring segala keinginanku.

Tentang Rasa Benci Menjadi Cinta
Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si




“Dengan menulis, kau telah memulai menciptakan sejarahmu sendiri”
Ameliana TPN


Aku adalah seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah sekolah menengah kejuruan yang terletak sekitar 73 kilometer dari pusat kota. Sebagai seorang guru, menulis bukan hal baru buatku. Aku dan semua guru pada umumnya sudah biasa menyiapkan administrasi mulai dari perencanaan dengan membuat program semester, program tahunan, kriteria ketuntasan minimal, Rencana Pelaksanaan Pelajaran (RPP), hingga menyiapkan format evaluasi siswa, yang tentu saja menjadi makanan sehari-hari bagi kami. 

Terbiasa membuat perangkat pembelajaran bukan berarti saya juga terbiasa membuat karya tulis. Sejak saya diangkat menjadi guru PNS pada tahun 2009 sampai pertengahan tahun 2018, saya sama sekali tak pernah menulis untuk dikonsumsi publik, jangankan karya tulis yang di muat di surat kabar atau jurnal ilmiah, blog-pun saya tidak punya. Menulis buku? Aduh sama sekali tak pernah terpikirkan oleh saya!

Kisah Sebuah Roda
Budiono, S.Pd




Kita terkadang dipenuhi dengan suatu target yang menghasilkan kekhawatiran dan ketergesaan, sering menimbulkan kepanikan, dan kelalaian dalam melangkah. Padahal  di sekitar banyak sekali hikmah yang perlu diresapi perlahan-lahan.
Suatu hari, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia nampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, ia tak bisa berjalan-jalan dengan bebas. Peristiwa ini terjadi karena ia melaju kencang ketika melintasi hutan. Ia terburu-buru, ia tak sadar, satu jari-jarinya jatuh dan terlepas. Kini roda itupun sangat bingung. Kemana harus mencari satu bagian tubuhnya itu?
Sang roda memutuskan berbalik arah. Ia berbalik mencari jejak-jejak yang di tinggalkannya. Dengan teliti, ditapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya begitu seksama. Tiap benda yang ditemukan diamati dengan cermat. Ia berharap akan menemukan jari-jari yang hilang itu. Rumput dan ilalang serta bunga-bunga di pusat padang serta semut dan serangga kecil dikunjungi kembali. Semua batu dan kerikil-kerikil pualam dikunjungi pula. 


Namaku Ratih
 oleh Ariyati



Aku terlahir dari rahim seorang ibu sederhana di sebuah desa kecil di Kabupaten Magelang. Seneng adalah nama pemberian orangtuaku pada saat kelahiran. Aku lahir kurang lebih enam puluh tahun yang lalu. Tepatnya tanggal 31 Desember 1958. Kehidupan keluargaku saat itu serba kekurangan. Untuk makan sehari-hari saja, ibuku harus bekerja di rumah tetangga sebagai pembantu. Ayah ibuku bercerai pada saat aku berumur lima tahun. Ayahku kemudian menikah lagi dan mempunyai empat orang anak dari istri barunya. Aku memilih untuk hidup bersama ibuku.
Hari-hariku bersama ibuku sungguh merupakan hari-hari yang penuh penderitaan. Karena kemiskinanku, makanan sehari-hariku adalah bubur putih dengan sambal korek. Dalam satu hari maksimal makan dua kali dengan menu yang sama. Dalam hal berpakaian, tidak jauh berbeda. Pakaian yang kukenakan adalah pakaian pemberian tetangga yang sebenarnya sudah tidak layak pakai. Aku mengenakannya sekedar untuk menutup tubuhku dari panas dan dingin, supaya aku tetap sehat. Bila aku sakit ibuku tentu akan lebih sengsara.

Dukungan
Oleh: Ziujee Kajee



“Tak ada satu pun orang yang bisa memilih, dari rahim siapa ia terlahir. Tak  ada seorang pun yang tahu tentang bagaimana kehidupannya di masa mendatang.” 

“Hidup itu pilihan ... ingin berjalan ke arah mana sesuai yang kita kehendaki. Namun, perlu diingat! Bahwa hidup juga berproses. Dari belajar, terjatuh, terbentur hingga kelak akan terbentuk menjadi pribadi yang kuat.”


Harusnya, kata literasi sudah aku ketahui sejak lama. 
Namun nyatanya, kata itu baru saja aku ketahui saat mulai ikut bergabung dalam sebuah Komunitas atau grup kepenulisan di salah satu media sosial, Facebook.
Saat itu, aku melihat salah satu teman membagikan sebuah tulisan yang lewat di berandaku. Tulisan dari sebuah grup literasi. Aku pun mulai membacanya dan tertarik dengan cerita yang disuguhkan dalam tulisan tersebut.

Akhirnya, karena merasa penasaran. Aku klik nama grup itu dan wow… mataku berbinar, senang. Melihat dengan jelas betapa banyaknya cerita yang ditayangkan di sana.

Menembus Batas
Oleh: Sofyan Hadi




Tahun 1998, Indonesia mengalami krisis moneter yang sangat parah. Saat itu menjadi tonggak sejarah bagiku untuk mulai menapaki dan meraih kesuksesan di masa yang akan datang. Kesuksesan yang didambakan oleh setiap orang. Keinginan melanjutkan studi ke perguruan tinggi, menjadi desain strategi untuk mencapai kesuksesan itu. Aku mencoba ikut tes masuk salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.

Pengalaman tertundanya keinginan melanjutkan sekolah ke salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Pacet, Cianjur, setelah lulus SMP, membuat sedikit ciut nyaliku. Hal ini berkaitan dengan kondisi perekonomian keluarga. Ketika itu ayah tidak menyetujui keinginanku untuk sekolah di luar kota. Keluargaku bukanlah kalangan berada, berasal dari keluarga yang sederhana, mungkin penghasilan ayah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja. 


Cacat Fisik Bukan Sebuah Beban
Oleh : Ria Ratnaning Pratiwi




Manusia diciptakan paling sempurna diantara makhluk lainnya. Kita dianugerahi akal pikiran, dan  fisik yang sempurna oleh Allah untuk menggunakannya sebijak mungkin dan selalu mensyukuri setiap apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Tetapi di luar sana masih banyak sekali orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik. Seperti kisah saudara sepupu saya yang juga seorang penyandang tuna netra. Namanya Luthfi. 

Sebenarnya dia terlahir normal tetapi pada saat dia menginjak usia 8 tahun waktu itu dia sedang bermain sepak bola dengan teman-temannya. Seketika itu benturan kepala dengan teman mainnya sampai akhirnya lama kelamaan matanya tidak bisa  melihat. Akhirnya dilakukan operasi, tetapi hingga dua kali operasi mengalami kegagalan. Sejak saat itu dia putus sekolah. Banyak keinginan untuk tetap melanjutkan sekolah tetapi hanya angan-angan saja karena pihak keluarga kurang mendukung.  

Janji
Oleh : ListioWulan Nur .M



Tak bisa selalu mengerti dan berdamai  dengan hati. Selalu ada konflik yang bergejolak melawan persepsi setiap orang. Keluarga, sahabat, dan bahkan diriku sendiri. Terkadang menyakini Aku  hanyalah orang rendahan yang tidak akan mengerti arti kehidupan. Apalagi untuk berpikir  kerja keras dan kesuksesan.

Penghakiman dan cibiran yang datang merusak kepercayaan diri, seakan menjadi ajang tantangan pembuktian dari mereka yang bermulut tajam. Sisipan hujatan terkadang teramat berat membuatku  mesti bisa menyakinkan diri. Aku butuh penguataan. Inilah yang selalu kucari dari  luar diri, walaupun aku tahu semua itu sebuah kebodohan. Mengharap mendapat semua penerimaan, rasa empati, dan kasih sayang. Aku sibuk mengiba dari orang yang tak mengerti makna kasih sayang. Lucu memang, tapi faktanya itulah aku yang dahulu.

Kawan Mayaku yang Nyata
Oleh: Elly Mulyati




Bangun pada pagi hari jam 05.00 WIB bagi emak-emak termasuk kategori kejahatan…waduhhh!!!
Jelas saja, apalagi di hari kerja dan sekolah.
Pasti,  aku kebingunan kemanakah kaki terlebih dahulu harus melangkah...back to bobo boleh ga sehhh ...ngarep tingkat dewa!

Ke kamar mandi terlebih dahulu untuk persiapan sholat atau ke dapur  menyiapkan memasak nasi di magiccom. Memasak dengan cara ini membutuhkan waktu paling lama akan tetapi bisa ditinggal sambil mengerjakan kegiatan yang lainnya. Itulah aku, selalu mengerjakan sesuatu yang berazas manfaat, kalo kata pepatah mah "sambil menyelam minum kopi"

 Nikmati Prosesnya
Oleh: Amien Trisunu



Suatu siang, aku mendapat surat undangan pengambilan berkas usulan kenaikan pangkat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Membaca surat itu, rasanya sudah terbayang apa yang terjadi dengan usulan kenaikan pangkatku. Benar saja, ketika aku menghadiri undangan itu, aku gagal naik pangkat. Rasanya sedih, kecewa, dan malu pada diri sendiri.

Dibalik kegagalanku, aku sadar betul, penyebab kegagalan adalah diriku sendiri. Untuk naik pangkat ke golongan III/c, guru harus memiliki publikasi ilmiah atau karya inovasi. Aku sama sekali belum membuat karya tulis atau karya inovasi lainnya.

Berbagai rancangan karya tulis atau karya inovasi sebenarnya sudah tergambar jelas di pikiranku. Namun, semua itu hanya berupa angan-angan saja yang tidak pernah aku realisasikan. Pernah aku tulis judul dan narasi rancangan karya inovasi, tapi berhenti di tengah jalan. Aku merasa rancanganku jelek, jadi tidak kulanjutkan padahal sudah dapat setengahnya.

Sudah tiga tahun, aku belum bisa naik pangkat. Teman-teman se-angkatanku sudah lebih dulu naik pangkat. Aku bertanya pada teman yang proses naik pangkatnya selalu lancar. Dia memberikan contoh karya tulis tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Aku membaca berulang kali, PTK yang dibuat temanku itu. Ketika membaca, aku merasa tidak sulit untuk melaksanakan PTK. Mau tak mau aku pun harus melakukan PTK untuk bisa naik pangkat. 

Tentang Rasa :

Aku sering mengikuti pelatihan penulisan secara gratis maupun berbayar. Ternyata, menulis itu menyenangkan bila dilakukan dengan senang hati dan tanpa beban. Topik tulisan juga sangat berpengaruh pada motivasi diri. Nikmati proses menulis, pasti bahagia yang didapat. 
Amien Trisunu

Sama halnya dengan sebuah ikatan, menulis juga perlu konsistensi. Menjadi konsisten adalah tentang jatuh cinta setiap hari, berulang-ulang, lagi dan lagi. Ada sesuatu yang kurang jika setiap hari tak mendapatkan sesuatu ide untuk ditulis ataupun tak ada yang ditulis. Membuat blog dan mengupdate isinya secara berkala adalah bentuk melatih konsistensi. 
 Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si



Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi 





Powered by Blogger.