Menu
/

www.MomsInstitute.com - Metamorproses Hati merupakan sebuah proses perubahan hati untuk menjadi lebih baik, di dalamnya terdapat pembelajaran tentang bagaimana cara untuk memaknai kehilangan, mengikhlaskan, memaafkan, melupakan lalu menyusun kembali apa-apa yang sempat terabaikan.



Noda dalam Asa
Oleh: Nana Nasehudin


Teriakan suara marah terdengar sampai ke luar rumah. Rio dan Keira kembali cekcok di rumah yang baru mereka beli dan huni tiga bulan. Sudah sekitar dua minggu, tetangga sekitar rumah Rio, setiap harinya disuguhi suara-suara bising kemarahan dari keluarga muda itu. Tangisan kedua anaknya juga menambah kegaduhan yang terjadi.

Kembara Cinta Arjuna
Oleh: Nandang Wuyung


"Entahlah! Apa yang sedang terjadi pada diriku? Mengapa pesona Juwita tidak bisa memudar dari benakku? Justru semakin kuat mengikat dalam hasrat," ujar Arjuna dalam hatinya.
Senja yang termakan malam semakin menenggelamkan rasa yang ada. Arjuna beringsut dari duduknya di tepi jendela kamarnya. Dia ayunkan kedua kaki gontainya keluar dari kamar menuju ruang makan. Digesernya kursi secara perlahan. Dijatuhkannya tubuh jangkungnya di kursi kayu itu.

Seharusnya Dia Idolaku
Oleh: Nenden Chiarun Nisa


Bayu, sosok yang selalu mengerti segala kekuranganku. Sejak SMA kami dekat, entah apa awal aku dekat dengannya. Obrolan kami selalu renyah tanpa ada rasa hambar. Sesekali kadang aku harus beradu mulut dengannya, namun hal itu tak pernah berlangsung lama. Kami dengan mudah kembali ceria, tanpa ada yang harus minta maaf. Kini dia mengajakku mengikuti komunitas yang sudah setahun terakhir diikutinya, Komunitas pecinta Korea di kampus kami. Selama ini aku memang penyuka drama Korea, dan penyuplai utama koleksiku adalah Bayu. Bayu begitu gesit mendapatkan semua episode baru dalam setiap drama. Aku tak pernah ketinggalan setiap episodenya berkat Bayu.

Memori Luka
Oleh: Hamid Ihsanudin


Jam yang menggantung di dinding kamarnya masih menunjukkan pukul dua lebih empat puluh lima menit. Zulfa terbangun, keringat dingin membasahi baju yang ia kenankan. Kejadian ramadan tiga tahun lalu, kembali hadir dalam mimpinya.
“Astagfirullah.” Ia terus beristigfar.
Tak disangka bulir bening luruh begitu saja menerjang pipi tirusnya.
Zulfa bangkit, mengambil segelas air putih yang selalu ibunya siapkan di atas meja, di sisi kamar. Tegukan pertama meluncur ke tenggorokan, ia mulai merasa tenang. Gelas yang ia pegang telah berkurang setengah dari isinya. 

Gadis Bodoh
Oleh: Nirania


"Nila!" 
Tanpa menoleh pun aku tahu siapa yang memanggil. Lily, gadis cantik bermata cokelat. Alisnya lentik memesona. Dia tak perlu galau memikirkan pacar, karena cowok-cowok sudah mengantre siap menjadikannya ratu. 
Aku menutup buku sembari menoleh ke arah datangnya Lily. Dia berlari menghampiriku. Napasnya naik turun. Aku bergeser untuk berbagi tempat duduk dengannya. Dia masih mengatur napasnya agar kembali normal. Tangannya dikibas-kibaskan pada wajah. Kuperhatikan ada jerawat di hidungnya. 
"Kenapa mesti lari-lari, sih? Kayak dikejar debt-collector aja."

Hati yang Terluka
Oleh: Ni Kadek Rai


Peluh membasahi dahi, membuat lengket poni yang dipotong sebatas alis. Matanya membelalak ketakutan. Dengan badan bergetar hebat, gadis itu beranjak mundur menimbulkan suara berderit di ranjang. Dalam kalut, ia berusaha mengembalikan ingatan. Merangkai potongan kenangan hingga akhirnya sekarang berada di dalam kamar asing ini. Potongan kejadian belum utuh terangkai, teralihkan oleh suara kekehan lelaki yang duduk di sudut kamar. Lelaki yang sangat ia kenal, kini melangkah, memperpendek jarak mereka. 
"Di mana kita? Kenapa kita ada di sini? Jam berapa sekarang?" 


Titik NoL
Oleh: Affudlifr


Di dalam bathup kamar mandinya, Biru terkulai tak berdaya dengan kaos putih polos yang dipakainya setengah basah. Jambang yang mulai tumbuh sudah tak lagi ia urus seperti dahulu. Wajahnya pucat pasi, tatapan mata kosong nan nanar, membuat Biru terdiam meratapi titik nol yang dia alami. Titik yang menjadikan dia setengah gila.

Merayu Takdir
Oleh: Noni Rahmanadiah


Suara letusan senjata api memecah kehening pada pekatnya malam. Mengentak raga yang terbaring lelap di peraduan. Pintu yang menutup rapat, kemudian terbuka dan mulai sesak oleh beberapa pasang mata yang menyirat iba dan ketakutan. Terlihat beberapa aparat kepolisian mengitari rumah Arman, kemudian kembali memecah kesunyian malam dengan beberapa kali tembakan di udara. Mereka mengepung rumah Arman untuk menangkap Ismail yang saat itu sedang bertamu. Untunglah mereka berdua sempat meloloskan diri, dan berlari lewat kebun karet belakang rumah Arman.  

Dia Anakku
Oleh: Nenny Litania


Anak. Ya, satu kata yang tak pernah lupa aku selipkan, dalam setiap untaian doa yang kupanjatkan lirih di hadapan-Nya. Sosok yang selalu kupinta di setiap sujud panjang, dengan linangan air mata dan isak tangis tertahan, agar Sang Maha Pemberi menitipkannya padaku.
Kini, sosok mungil itu ada di hadapanku. Tapi, tak sedikit pun suka cita  kurasakan. Tangisnya menyesakkan dada. Menambah perih luka yang menganga.
"Ya Allah ... apa yang salah dengan doaku selama ini? Tidak dengan cara ini aku mengaharapkan kehadirannya. Tidak! Aku tak sanggup."
***


Kasih Nirmala
Oleh: Ninin Suryani


   Aku melihat di kejauhan seorang wanita berjalan menuntun seorang anak lelaki kecil dan menggendong seorang putri cantik. Betapa repotnya meladeni dua anak dan berada di keramaian. Hari itu toko buku cukup ramai dikunjungi. 
Salut dengan kesabaran sang ibu tersebut menjawab rasa ingin tahu si kakak, semua hal yang dilihat di sekelilingnya. Rasa sayang yang terpancar di wajahnya menyejukkan mata bagi siapa pun yang memandang keluarga kecil tersebut.



Membahagiakan Luka
Oleh: Nisa Yustisia


Bukankah kita bersama untuk saling membahagiakan dan melengkapi. Namun mengapa yang kurasakan justru luka demi luka yang semakin menganga?
***
Tangisan Kiara membangunkan Wulan dari tidur. Wulan menarik napas berat. Kepalanya sedikit pusing jika mendadak terbangun seperti ini. Diliriknya penanda waktu di dinding kamarnya, hampir subuh, pikirnya.


Kasih Tak Memilih
Oleh: Nina Herlina


“Lihat arah jam sembilan, Kintan!”
“Kenapa? Ada apa sih?” tanya Kintan tak mengerti.
“Ganteng abis, tau. Siapa ya, kok perasaan baru lihat. Boleh dong berharap dia jadi imamku,” komentar Rani.
“Oh itu pak Ryan. Manajer baru.”
“Wah, kamu kok nggak kabar-kabari aku sih kalo ada cogan.”

Berharganya Waktu
Oleh: Gus Mucha


Malam semakin larut, suasana hening makin terasa. Tiba-tiba terdengar suara telepon dari ruang tamu, dengan bergegas ibu datang dan mengangkat panggilan tersebut. Tidak berlangsung lama, setelah ibu angkat telepon. Wajahnya seketika langsung berubah pucat pasi penuh kesedihan. 
Beliau tertunduk lesu di samping meja. Melihat kejadian itu, sontak kakiku langsung berlari mendekatinya sembari sedikit bertanya. Namun ibu hanya terdiam tanpa kata dengan kabel telepon yang masih menggantung di meja. 

Kasih Tak Sampai
‌Oleh : Noor Jihan


 Selesai sudah pelajaran hari ini. "Ayo,  anak-anak. Kita akhiri dengan membaca selawat dan doa." 
Serentak pembacaan doa berkumandang. Setelah selesai, murid-murid berebutan menyalami Bu Guru Dara.  Kemudian berhamburan keluar, berlari menuruni tangga meninggalkan kelas.
 "Hati-hati, anak-anak!" 
Suara  Dara tenggelam oleh riuhnya suasana saat itu. Kelas berangsur lengang. Dara tidak beranjak dari tempat duduknya. Hati masih diliputi gulana, pikirannya menari pada bayangan Roni. Dara sedikit prihatin melihat Roni yang depresi entah karena apa, mungkinkah karena penolakannya? Dua hari yang lalu ia ditelepon Ayahnya Roni. Beliau mengatakan kalau anaknya shock. Tidak makan dan tidak keluar kamar. Ayahnya meminta Dara menemui Roni.


Mewarnai Hati dengan Cahaya Illahi
Oleh: Nora Nopita Sari


Pada dasarnya kita sering lupa, bahwa tempat kita berdiri saat ini adalah tempat terbaik yang Allah SWT berikan.
Pada dasarnya kita sering lupa, bahwa jalan yang kita tempuh selama ini adalah jalan yang terbaik yang Allah SWT tuntun kaki kita untuk melangkah.
Lebih parahnya lagi kita sering lupa, bahwa orang-orang yang berada di sekitar kita adalah orang-orang terbaik yang Allah SWT kirimkan untuk mengingat betapa besar cinta Allah SWT pada hamba-Nya.

Surat Cinta untuk Alisyah
Oleh: Muzdalifah

Kafa Alisyah Anjali, nama yang sangat indah. Namun tak seindah apa yang diterimanya saat ini. Ya, karena keindahan nama tidak akan menjamin untuk bisa menjalani kenyataan hidup yang manis. Tetapi manisnya hidup tak kan bisa dirasakan jika belum merasakan pahitnya kehidupan. Terlahir dari keluarga sederhana dengan keterbatasan dalam dirinya membuat Kafa tak memiliki banyak teman. Hanya ada satu orang yang benar-benar mau berteman dengannya tanpa memandang setiap kekurangan.

Netra Perlina
Oleh : Isna Ira


Kita tidak pernah tahu bagaimana masa depan bekerja. Semuanya bisa berubah dan tak ada manusia yang benar-benar mampu mengendalikannya. Takdir tidak pernah membutuhkan jawaban, walau seribu kali ditanyakan. Rangkaian cerita hidup telah ditulis rapi oleh-Nya. Tugas kita hanya menjalani juga mengimani. Ma qaadarallahu khoir, takdir Allah selalu yang terbaik.
***
“Selamat pagi, Cio!” sapaku dengan senyum semringah sambil mendaratkan sentuhan gemas di pipi chubby si wajah bulat yang ada di hadapanku ini.
“A … gi, Bu!” jawabnya dengan ekspresi wajah yang datar.   



Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi 


Powered by Blogger.