Menu
/

www.MomsInstitute.com - Perjuangan adalah modal utama untuk menjadi sang juara. Buku Sang juara merangkum kisah-kisah perjuangan anak-anak tangguh, bagaimana keseruannya? Buku Sang Juara rekomendasi untuk bacaan anak-anak.




Bintang Kecil yang Bersinar
Karya: Fatmawati


Pesawahan yang menghampar luas sudah menjadi pemandangan setiap hari. Kerapkali Ramdani dan kawan-kawan bermain di pinggir sawah. 
Bagaimanakah cara merekabermain? Cukup sederhana dan alami. Bahan-bahan yang ada di sekitar, bisa dijadikan media untuk menambah keasyikan bermain. Ramdani biasa membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali, Ilyas bermain kuda-kudaan dari pelepah pisang, dan Fajri membuat mainan perahu dari kertas. Dia memakai mahkota dari daun nangka sekaligus kalung dari daun singkong dan bunga pepaya. 
“Kamu gagah sekali, Fajri,” kata Ilyas sambil tersenyum.
“Mobilmu keren, Ram,” puji Fajri kepada Ramdani. 
“Kudamu juga keren, Ilyas.”
Begitulah ketiganya saling memuji satu sama lain, hingga tertawa bersama-sama. Setiap hari Minggu selalu dihabiskanuntuk bermain bersama di alam terbuka dan segar.

Mengejar Mimpi
Karya:Masiyah


Laila, gadis berparas manis, rajin, enerjik, ceria, dan mudah bergauldengan siapa saja. Laila adalah anak dari Bapak Ngalimun dan Mamak Salamah. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Keadaan keluarga Laila yang sangat memprihatinkan, membuat mereka serba kekurangan.
“Mak, nanti kalau sudah besar, aku ingin jadi penulis,” ucap Laila.
“Insyaallah, mudah-mudahan terkabul,Nak,” jawab mamak sambil mengusap kepala Laila.”Tetap bertawakal dan berdoalah, Nak.Jangan lupa rajin belajar, membaca, dan menulis, ya,”pesan Mamak Halimah. 
 “Ya, Mamak. Insyaallah.”
Setiap hari sepulang sekolah, Laila rajin membantu mamakmemetik kangkung dan bayam untuk dijual. Dia juga tak pernah meninggalkan salat Zuhur.
“Mak, Laila berangkat dulu ke kebun, ya,” kata Laila.
“Iya, hati-hati, Nak.”
***

Piala Puasa Zaza
Karya: Arn Fyd


Ramadan, 1438 H
Zaza mendapat piala karena berhasil berpuasa Ramadan selama 2 hari. Zaza mendapatkan piala dari PAUD IT Amanah tempatnya bersekolah. Di PAUD IT, semua yang berpuasa satu hari penuh akan mendapat piala. Keberhasilan itu yang menurut PAUD IT Amanah layak mendapat apresiasi berupa piala. Zaza tidak sendiri, teman-temannya yang lain juga mendapatkan piala serupa. Untuk kelas Kelompok Bermain seusia Zaza, jarang yang berpuasa lebih dari 10 hari. Juara puasa kelas KB adalah Fattin yang berhasil puasa 11 hari. Total dari KB  yang mendapat piala sebanyak 5 orang. Zaza merasa istimewa dan bertekad berpuasa penuh tahun depan untuk menjadi pemenang, menggantikan Fattin yang sementara ini menjadi unggulan.
***

Tenda Perjuangan Salwa
Karya: Filu Putri


Salwa murung.Seharusnya, pagi ini dia ada di bumi perkemahan untuk keluarga Teleng Ria.Sayangnya, rencana itu batal. Papa mendadak ditelepon bosnya untuk melaksanakan tugas di Bandung. Salwa merebahkan tubuh di sofa, menatap ke langit-langit rumah. 
Puk! Puk! Puk!
Tangannya menepuk paha pelan, dia mencari cara agar tetap bisa berkemah.
'Kira-kira, di mana ya, aku bisa berkemah? Ah, aku punya ide!”
***

Bersama Kakak, Aku Pasti Bisa!
Karya: Si Kumbang Kecil


Siang itu matahari bersinar terik, panasnya terasa membakar kulit. Jalanan padat oleh kemacetan kendaraan bermotor. Asap knalpot memenuhi udara, membuat mereka tersedak bahkan sesak napas. Beberapa yang lainnya menutupi hidung dan mulut mereka dengan masker sehingga mereka bisa tetap bernapas dengan normal. Deru mesin menggema di sekitar jalan, bunyi klakson terdengar bersahut-sahutan. Keluhan jelas tergambar pada wajah-wajah setiap orang. Namun, tidak bagi Arra. Anak kecil dengan rambut dikepang dua itu malah sebaliknya. Ia tampak ceria dan bersemangat, sepertinya ada sesuatu yang membuatnya bersikap demikian.
“Ibu, tadi siang Bu Guru kasih pengumuman, lho.” Cerita Arra pada sang bunda.
“Oh, ya? Pengumuman apa, Ra?” jawab sang ibu di sisinya. 

Hobiku yang Mengantarkan Juara
Karya: Esterina Nurjanti

Namaku Merlin. Saat pulang sekolah, aku berhenti dan duduk di bawah pohon rindang  dekat sekolah. Aku senang dengan suasana alam seraya menghirup udara segar. Menikmati karya Tuhan yang luar biasa indah. Aku gemar menulis puisi dan memilih duduk di bawah pohon seraya menulis puisi. Memang sih, selama ini aku hanya menjadikan menulis puisi sebagai hobi saja. Mungkin hobiku menurun dari ayah yang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia.
Setelah beberapa menit. Aku berhasil menuliskan satu buah puis berjudul “Karya Terbesar. Aku segera menggendong tas ransel, berniat melanjutkan pulang. Di perempatan jalan dekat dengan rumah, datanglah Fani dan Rio memanggilku.”Lin, kamu sudah makan, belum? Aku tadi dibawakan dua bungkus makanan sama Ibu. Kamu ikut makan, ya,” kata Fani.

Pipio Hamster Kesayangan
Karya: Citra Retnani


Fatih mempunyai hamster kesayangan bernama Pipio. Dia hamster lucu berbulu panjang dan berwarna emas. Matanya bulat dan besar kehitam-hitaman. Jika senang, mata Pipio berbinar-binar. Pipio bertubuh gendut, makannya banyak dan malas olahraga.
Fatih sangat ingin Pipio sehat. Dia membuat aneka permainan seru, seperti mobil-mobilan yang bisa dinaiki Pipio, roda berputar, labirin bersekat, dan perosotan. Namun, Pipio sangat malas bergerak. Setiap hari hanya makan, minum, dan tidur. Makin lama tubuh Pipio makin gendut. Fatih sangat khawatir dan terus membujuk Pipio agar mau berolahraga

Piala Impian Rania
Karya: Maya Kusumastuti


“Dan yang terakhir, juara pertama kita adalah ... Andhra dari SD Maju Makmur.”
Seketika suara tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan. Semua yang hadir memberikan selamat kepada para pemenang lomba. Siswa-siswi pemenang lomba terlihat sangat senang menjunjung pialanya. Namun, ada seorang anak yang terlihat berjalan menjauh dari keramaian.
“Ah, aku gagal dapat juara,” kata Rania sambil mengusap air matanya. Ya, hari ini Rania, siswi kelas 5 SD Merdeka, menjadi salah satu peserta lomba menulis cerpen antar-SD. Ia sangat berharap bisa membawa pulang piala untuk sekolahnya. Sayang sekali usahanya kali ini belum berhasil.

Krayon Patah Menjadi Berkah
Karya: Yuliarti


“Ma, belikan Ica krayon itu,” rengek Ica saat diajak belanja di swalayan. 
“Kemarin ‘kan baru saja mama belikan. Pakai yang di rumah dulu, ya,” jawab mama sambil meletakkan belanjaan di meja kasir. Meskipun agak kecewa, tetapi Ica mendengarkan kata mamanya.
Sesampainya di rumah, Ica mengambil buku gambar dan krayon. Dia mulai menggambar seekor gajah. Terdapat sebuah pohon dan beberapa batu. Dia menggambar sesuai yang diajarkan guru lukisnya di sekolah dan dia berhasil gambarnya tampak sederhana. Selesai menggambar, dia hendak mewarnainya.

Gol Perdana
Karya: Yunita Dwi Utami


Naufal adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun, anak dari Pak Wawan, seorang penjual minuman di pinggir lapangan. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci pakaian di beberapa rumah tetangga. 
Setiap pulang sekolah, jika tidak ada PR atau kegiatan belajar kelompok, Naufal selalu membantu ayahnya berjualan aneka jenis minuman. Di sela membantu ayahnya berjualan, Naufal sering melihat latihan dan pertandingan antarklub sepak bola dari pinggir lapangan. Semakin sering melihat, muncul keinginan Naufal untuk bisa menjadi anggota klub sepak bola, agar dia bisa ikut berlatih dan bertanding seperti mereka. Dia pun mulai berangan-angan, jika berlatih dengan sungguh-sungguh, maka suatu saat nanti akan menjadi pemain sepak bola profesional. Tentu saja orang tuanya akan bangga. Naufal mulai tersenyum bahagia membayangkan hal tersebut. 

Mendadak Juara
Karya: Asih Tria Wulandari


Nana baru saja pulang sekolah. Dia merupakan siswa kelas 3 di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu di daerahnya. Rasanya tubuh Nana sudah lelah sekali, hingga segera mengganti bajunya dan beristirahat. Nanti setelah salat Asar, Nana harus menyetorkan hafalan Juz Amma di musala dekat rumahnya.
Sebenarnya Nana malas sekali. Setiap hari Jumat dan Sabtu harus mengaji Juz Amma. Hari Senin sampai Jumat ia pulang pukul 2 siang. Sedangkan hari Sabtu hanya ada kegiatan ekstrakurikuler dan pulang pukul 11 siang. Sudah setiap hari Nana belajar dan di sekolah juga sudah mengaji. Namun, kenapa ayahnya masih menyuruh untuk ikut mengaji lagi?

Piala untuk Mama
Karya: Anti Riyanti


Pagi ini adalah hari pertama Reyfan masuk sekolah. Semua perlengkapan dari mulai pakaian, sepatu, dan buku sudah siap. Namun, sampai pukul 06.30 Reyfan belum siap sama sekali. Tentunya membuat sang mama bertanya-tanya. 
“Rey, hari ini ‘kan hari pertama kali masuk sekolah. Mengapa kamu belum memakai seragam?”
“Rey nggak mau pakai seragam, nggak mau pakai sepatu, pakai baju ini saja,” ujar Rey santai. 

Piala Misi Rahasia
Karya: Indria Diah Nurul Aini


Hari Kamis yang begitu manis. Semua siswa berhamburan keluar kelas saat bel penanda pulang sekolah berbunyi. Tampak dua anak yang masih asyik berdiskusi sambil keluar kelas. Mereka adalah Nabil dan Dzihan, anak laki-laki kelas 5 SD Negeri Banjarsari. Sebuah sekolah yang terletak di antara rimbunnya kebun kopi, jauh dari ingar-bingar kota. Nabil dan Dzihan memang sahabat sebangku sejak di kelas 3. Mereka tampak sangat akrab, sebab rumah mereka pun berdekatan.
“Bil, kamu ikut seleksi OSN, nggak?” tanya Dzihan.
“Olimpiade Sains Nasional yang tadi diumumkan Bu Asih, ya?” Nabil balik bertanya pada sahabatnya.


Piala Pertamaku untuk Ibu
Karya: Elma Mulia  Sari

Edi Wiwartomo, siswa salah satu SD Negeri di Salatiga. Terlahir dari seorang ibu yang harus berjuang sendiri dalam membesarkan dan mendidiknya hingga sekarang. Sosok ibu pekerja keras demi selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Menyempatkan waktu menyiapkan bekal makan siang untuk dibawa ke sekolah setiap hari.

Hidup yang sederhana bahkan mungkin jauh dari berkecukupan, tidak menjadikan Edi minder. Dia selalu memuji ibunya yang mengajarkan hidup agar selalu bersyukur, hingga hal itu tertanam di dalam diri Edi. Walaupun sering tidak mendapat uang saku, tetapi siapa sangka hal ini ternyata membuat teman-temannya iri. Fandika salah satunya, teman sekelas Edi yang termasuk berkecukupan dan masih memiliki kedua orang tua. Akan tetapi, keduanya terlalu sibuk bekerja hingga jarang ada waktu untuknya.


Surat Rahasia Ririn
Karya: Zeni Wu


Setiap pagi Ririn harus mengantarkan koran ke pelanggan. Semenjak kepergian ibunya ke Hongkong menjadi TKW, semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Ririn. Dari memasak, mencuci, dan membersihkan rumah. Ririn  tinggal bersama bapak yang kesehariannya bekerja menjadi buruh panggul di pasar. Ririn juga memiliki adik yang masih berusia 3 tahun. karena keadaan ekonomi yang kurang, mengharuskan Ibu Ririn bekerja menjadi TKW di Hongkong.


Gemulai Senja Pembawa Harapan
Karya: Prastuti Kartika Sari

Namaku Zakiya Amanda. Aku biasa dipanggil Kiya oleh orang tua dan teman-teman. Saat ini bersekolah di SD Manggala Yudha kelas 4, sebuah sekolah yang cukup terpandang di kotaku. Untuk bersekolah di SD tersebut bisa dikatakan tidak mudah. Pasalnya, siswa yang mendaftar harus dites membaca, menulis, dan berhitung. Siswa yang bersekolah di sana adalah anak-anak kota. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga berada. 


Piala untuk Arsyila
Karya: Lovee Hamdani


Arsyila adalah gadis berusia 8 tahun dan sekarang duduk di kelas 2 sekolah dasar negeri yang ada di Lumajang. Arsyila tinggal di kota kecil yang sejuk dan indah. Setiap hari Arsyila dan kakak laki-lakinya yang bernama Arjuna, selalu diantar ke sekolah oleh sang ayah. Juna duduk di kelas 5 sekolah dasar, berbeda tiga tahun dengan Arsyila. Pemandangan sepanjang jalan itu serupa lukisan indah dari Allah. Sejauh mata memandang, mereka melihat kukuhnya Gunung Semeru. Berwarna biru segar dengan ujung tertutup awan. 


Buah Manis Semangat Arin
Karya: Nurwijayanti 


“Juara satu lomba menyanyi, juara dua lomba melukis tingkat kabupaten …”
“Rin, kamu sedang apa?” tanya Tita sahabatnya sambil meletakkan nampan berisi camilan kue kering dan teh manis di atas meja.
Arin berbalik kaget. “Oh, enggak apa-apa, aku hanya sedang lihat-lihat piala kamu. Banyak sekali, Ta.”
“Oh, itu.” Tita tersenyum sedikit.
“Piala-piala itu bukan milikku, Rin. Semua itu milik Kakak yang sangat pintar dalam hal seni. Mungkin dia mewarisi bakat Mama.” Tita menunduk sembari membuka buku pelajaran.
Tita adalah murid baru di sekolah Arin dan mereka sama-sama bersekolah di SD Pelita Nusa 1. Sudah dua bulan lamanya Tita dan Arin bersahabat. Mereka mendapat tugas kelompok dari Bu Dini, guru kelas V. Jadi, ini adalah kali pertama Arin datang ke rumah Tita. 


Bagi yang ingin memesan buku ini bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi




Powered by Blogger.