Menu
/

www.MomsInstitute.com - Review Buku Kecil-Kecil Jago Jualan. Kalau jadi anak kecil itu enak ya, bisa beli mainan, beli barang kesukaan. Tapi, enaknya lagi uangnya hasil sendiri. Memang anak kecil bisa punya uang sendiri? Bisa, dari mengumpulkan uang jajan yang ditabung, membantu ibu di rumah dan dapat upah (kalau ini seikhlasnya saja ya, dan saling komunikasikan dengan ayah mama, ya). Atau  bisa juga jualan. Baca buku "Kecil-Kecil Jago Jualan" kamu bisa membaca petualangan seru menjadi pengusaha cilik.


Daftar Isi : Ayam Kampung Sunan, Bima Si Anak Bawang, Brownies Manis Maira, Es Lilin Rifka, Es Tobi Mambo, Holihu Home Library Husna, Intan si Penjual Sayur yang Baik Hati, Kain Perca Naila, Kisah Si Pengusaha “Slime” Cilik yang Dermawan, Kue, kue ... Yuk, Beli Kueku!, Kue-kue Penyelamat, Nenekku yang Gigih, Pembeli Misterius, Penjaga Warung yang Hebat, Pudot Pelangi Jingga, Sepeda Mijel, Si Manis Penjual Donat, Siska si Penjual Donat, Telur Asin Aneka Rasa, Tia si Kurir Cilik. 

Yuk jelajahi kisah seru mereka, banyak pengalaman baru yang menarik dan tentunya punya pesan hikmah yang baik :


Review Buku Kecil-Kecil Jago Jualan 

Ayam Kampung Sunan
Esti Khomah


Sunan masih teringat dengan  rasa opor ayam buatan nenek. Rasanya sangat lezat karena menggunakan ayam kampung. 
“Hmm… kalau nanti ibu masak opor ayam kampung pasti lezat nih!”  batin Sunan dalam hati.
Ia kemudian ke dapur menemui ibu yang sedang memasak. 
“Jadi masak opor ayam, Bu?” tanya Sunan. 
“Jadi Nak,” jawab ibu. 
“Ayamnya pakai ayam kampung kan, Bu?” tanya Sunan lagi. 
”Tidak, Nak. Ini pakai ayam pedaging. Kalau ayam kampung kan mahal,” kata ibu. 
Sunan agak kecewa mendengar jawaban ibu. Ia sudah membayangkan akan makan opor ayam kampung hari ini. Akan tetapi ternyata ibu memasak opor ayam pedaging.
Malam ini Sunan masih memikirkan tentang opor ayam kampung. Ia ingin bisa makan opor ayam kampung tapi tidak memberatkan ibu karena harganya yang mahal. Ia mendapatkan ide untuk memelihara ayam kampung sendiri.  Agar nanti saat mau memasak tidak perlu membeli.
Seusai belajar Sunan mendekati ayah yang sedang tiduran di ruang tengah.
“Ayah, Sunan boleh tidak memelihara ayam kampung?” tanyanya. 
“Mau buat apa, Nan?” tanya ayah. 
“Cuma mau memelihara aja kok, Yah. Boleh ya?” rayu Sunan. 
“Emangnya kamu bisa kalau mau memelihara ayam, Nan?” timpal Kak Fatih.
”Bisa dong Kak,”  jawab Sunan. 
“Memelihara ayam itu gampang-gampang susah lho. Nanti kalau nggak bisa jangan-jangan ayammu malah mati,”  kata Kak Fatih. 
“Nggak bakalan deh, Kak! Sunan janji mau merawat ayamnya. Boleh ya, Yah?’ rengek Sunan kepada ayah. 
“ Ya sudah kalau begitu. Besok kita beli ayamnya,” kata ayah. 
“ Yeyy... terimakasih Ayah,” kata Sunan.


Bima Si Anak Bawang
Azizah Kartika


“Bimaaaa.…”  
“Jauh-jauh sanaaa!!”
“Kamu bau bawang,” Dino menutup hidungnya. Aroma bawang menyeruak dari mulut Bima. 
Bima tersenyum lebar. 
“Bawang itu enak tau. Apalagi buatan ibuku. Hmmm ... sedap! Kamu mau coba nggak?” Bima menebarkan bawang goreng di kotak bekal Dino. 
“Aku nggak suka bawang goreng. Bauuu,” Dino menghindar. 
“Coba dulu,” Bima memaksa. 
“Enggaaaaak!” Dino menggeser duduknya.
Brakkk!
 Botol plastik berisi bawang milik Bima jatuh. Sebagian isinya berceceran di lantai. Sebagian lagi berceceran di meja. 
“Tuh kan Bima. Jadi kotor lantainya. Makanya jangan paksa-paksa orang,” Dino berkata sengit.
“Aduh lagi-lagi kalian. Ada apa ini?” Bu Dian berjalan mendekati meja Bima.
“Bima memaksa saya makan bawang, Bu. Padahal saya nggak suka. Akhirnya jatuh deh,” jelas Dino dengan nafas memburu. 
“Betul begitu Bima?” pandangan Bu Guru beralih pada Bima.
“Iya Bu. Saya yang salah,” jawab Bima sambil tertunduk. Bima tahu bahwa ini kesalahannya. 
“Dasar anak bawang!” seru Dino keras. Seluruh kelas tertawa. Kelas mendadak ricuh. Bima menatap Dino dengan sebal. 
“Ssssttt. Tolong diam anak-anak!” Ibu Guru berusaha menenangkan murid-muridnya. 
“Bima, memaksa orang lain adalah tindakan yang tidak baik,” lanjut Bu Dian.
“Dino, mengumpat orang juga bukan tindakan yang baik.”  



Brownies Manis Maira
Dewi Permatasari


Jam menunjukkan pukul 06.25 WIB, mentari sudah terlihat memancarkan sinarnya. Maira bergegas ke ruang tamu untuk memakai sepatu dan meraih tas yang sudah disiapkan dari semalam. Maira segera berpamitan kepada ayah dan bundanya sambil menciun tangan keduanya. Setelah mengucap salam, Maira pun segera berangkat sekolah.
Perjalanan Maira ke sekolah menempuh waktu sekitar 15 menit jika berjalan kaki. Maira tidak pernah mengeluh meskipun jalan kaki ke sekolah. Maira ingin seperti  teman-temannya yang bersepeda ke sekolah. Sehingga dia sedang berusaha mengumpulkan uang untuk membeli sepeda yang diinginkannya.
***
Sesampai di sekolah, Maira segera menuju kelasnya. Dia masuk ke kelas dan melihat waktu menunjukkan jam 6.45 WIB. Masih cukup bagi Maira untuk melaksanakan tugas piketnya dan menyiapkan buku untuk pelajaran jam pertama. Jam 07.00 WIB Bu Nadia sudah masuk kelas dan mengajak siswa berdoa sebelum pelajaran dimulai. Pelajaran begitu menyenangkan sehingga tak terasa waktu istirahat pun tiba.
Seperti biasa, Maira memilih untuk duduk di bangku taman di depan kelas bersama Dina, sahabatnya dari kecil. Maira membawa bekal dari bundanya dan membagi bekal itu dengan Dina. Bunda Maira pandai membuat kue. Bahkan teman-teman Maira sangat menyukai kue buatan bundanya.
Tanpa sengaja, Maira melihat Ahmad teman sekelasnya yang hanya duduk sendirian di bangku tak jauh darinya. Ahmad terlihat sedih, dia hanya diam saja. Maira dan Dina pun menghampirinya. Maira membagi kue yang dibawanya kepada Ahmad. Ahmad menerima kue itu dengan senang hati, karena Ahmad tidak membawa uang saku dan dia juga belum sarapan. Ternyata Ahmad juga menyukai kue buatan Bunda Maira.
Maira, Dina, dan Ahmad pun saling bercerita. Sampai akhirnya, Dina dan Ahmad memberi usul kepada Maira untuk menitipkan kue buatan Bunda Maira di kantin sekolah. Maira sebenarnya juga pernah berpikiran seperti itu, karena laba hasil penjualan kuenya juga bisa dia tabung untuk membeli sepeda yang diinginkannya. Dia ingin membeli sepeda dengan usahanya sendiri.



Es Lilin Rifka
Fithriyah Abubakar


Pada suatu hari, Rifka dan teman-temannya sedang belajar bersama. Mereka berkumpul di rumah Rifka. Ada tugas prakarya yang harus diselesaikan secara berkelompok. 
Sambil bekerja, mereka pun menikmati berbagai hidangan yang disediakan. Umminya Rifka sangat pandai memasak. Berbagai makanan yang tersaji adalah buatan Ummi, dibantu Mbak Jum, asisten pribadinya.
Ketika tugas selesai, mereka pun bersantai sambil berbincang.
 “Rif, ini es lilinnya enak, beli di mana?” tanya Alya. 
“Eh, iya, bener ... aku juga pingin beli, nih!” sambut Rida.
“Itu buatan Ummi. Kalau lagi panas begini, memang Ummi sering bikin yang seger-seger,” jawab Rifka. 
“Waah ... enak banget ini! Dijual aja, Rif! Beneran, aku pingin beli,” kata Fita. Alya dan Rida pun mengiyakan.
“Waduh, nanti kutanyakan Ummi dulu, ya? Padahal, nggak usah beli. Kalau pingin, datang saja kemari,” kata Rifka. 
“Ya nggak enak lah, Riiif ... masa minta terus-terusan! Kalau beli, ‘kan bisa bebas sebanyak apa,” sahut Alya.
 “Baiklaaah... nanti kuusulkan ke Ummi, ya,” jawab Rifka. Ia tersenyum geli sambil membetulkan letak kacamatanya.
***
Setelah makan malam, Rifka menyampaikan usul teman-temannya. Abi dan Ummi mendengarkan sambil tersenyum-senyum. Putri kelas empat SD ini memang selalu bersemangat jika mempunyai ide baru.
“Jadi begitu, Mi, Bi. Gimana? Mau ‘kan jualan es lilin?” 
Abi dan Ummi saling berpandangan. 
“Gimana, Bi?” tanya Ummi. 
“Terserah Ummi saja, yang penting jangan sampai kecapekan,” jawab Abi sambil tersenyum. 
Melihat Ummi masih bimbang, Rifka pun membujuk lagi. “Ayo, Mi... nanti saya bantuin nawarin ke temen-temen dan tetangga. Jadi Ummi tetap nggak perlu keluar rumah. Mereka yang akan datang ke sini untuk beli es. Ya, Mii ...?” 
“Tapi Ummi jualnya sedikit saja ya, ‘kan tadi memang niatnya untuk di rumah saja. Sekalian nyuguhin temen-temen Rifka. Karena ini usul Rifka, jadi harus ikut bantuin, ya!” jawab Ummi.


Es Tobi Mambo
 Juliatri


“Es ... es ... es … es mambo enak. Beli es mambo, Pak. Beli es mambo, Bu,” teriak Tobi menjajakan jualannya berkeliling desa. 
“Es mambo ... es mambo. Ayo Om, Tante, Kakak, Adik, dibeli es mambonya. Ada rasa cokelat, durian, nanas, melon, rasa jeruk, dan masih banyak lagi. Dijamin ketagihan!”
Begitulah cara Tobi menarik pelanggan. Ia selalu mempunyai kalimat berbeda saat meneriakkan dagangannya. 
Awal mula Tobi berjualan es mambo karena ingin membeli mainan. Ia sebenarnya mau memakai uang yang ia tabung. Akan tetapi karena harga mainan itu cukup mahal, tabungannya tidak mencukupi. 
Tobi kemudian memutuskan untuk meminta uang kepada orang tuanya. 
Pada suatu malam saat ayahnya sedang menonton TV, Tobi berkata, “Ayah, Tobi ingin membeli mainan, tapi tabungan Tobi tidak cukup. Apa Ayah ada uang untuk menutupi kekurangannya?” 
“Emang berapa kekurangannya, Tobi?” tanya Ayah Tobi. 
Tobi menjawab dengan terbata-bata karena takut, “Mmmm, se ... se ... sekitar ti ... ga ratus ribu. Harga mainan itu lima ratus ri ....” Tobi belum menyelesaikan kalimatnya,
Ayahnya langsung bersuara keras, “Apa? Lima ratus ribu? Mainan apa itu kok mahal sekali? Uang sebanyak itu lebih baik dipakai untuk membeli keperluan sekolahmu. Bukan untuk membeli mainan.”
Tobi kesal dan lari ke kamarnya. Ia menangis lalu melemparkan bantal dan buku-bukunya ke lantai. Ibunya mengetuk pintu kamar untuk menenangkan Tobi. Tetapi Tobi tidak membukakan pintu dan mogok makan malam itu. 
***


Holihu Home Library Husna
Istinganatul Khairiyah


“Aneh, kenapa bukunya tidak ada? Padahal semalam bukunya dirapikan dan diletakkan di rak paling kiri.” Bunda kebingungan mencari buku.
“Ah sudahlah, terlalu lama mencari nanti kesiangan.” Bunda pun menyerah dan memutuskan mencarinya lagi nanti setelah bersih-bersih rumah. 
Rupanya Bunda hendak memperlihatkan buku ensiklopedi kepada rekannya. Bunda suka membeli buku untuk Husna. Bunda juga menjual berbagai buku anak. Sample buku yang dijual ada di home library Husna. Ayah menyediakan satu petak ruang untuk perpustakaan. Perpustakaan itu diberi nama Holihu (Home Library Husna). Ada dua rak buku di perpustakaan, satu rak untuk buku Husna dan satu rak lagi untuk buku yang dijual Bunda. 
“Assalamualaikum, Husna pulang!” napas Husna terengah-engah setelah mengayuh sepeda. Sepatu dan tasnya dibiarkan berserakan di lantai. Husna merebahkan dirinya di atas sofa, melepas lelah. 
“Lho, anak sholihah sudah pulang, kenapa tas dan sepatu masih berantakan di lantai?“ tanya Bunda sambil membelai lembut kepala Husna.
“Capek Bun, tas Husna berat banget,“ jawab husna sambil merapikan sepatu di rak. 
“Masa iya sih? Kan hanya ada dua mata pelajaran. Coba sini Bunda lihat seberat apa tas anak sekolah!” kata Bunda sambil memeriksa. 


Intan si Penjual Sayur yang Baik Hati
Rakhmawati, SP


Setiap hari Intan selalu membantu ibunya berjualan sayur di pasar. Maklumlah, dengan uang yang didapat ayahnya setiap hari dari mengojek, kadang banyak kadang tidak, mengharuskan sang istri harus bisa membantu suaminya mencari nafkah. Tujuan Intan membantu ibunya adalah agar Intan bisa terus melanjutkan sekolah. Sekarang Intan sedang menempuh pendidikan di SMP Kelas VII.
“Bagaimana hasil penjualan hari ini Intan?” tanya Ibu.
“Alhamdulillah Bu, sayuran kita hari ini laris terjual, banyak yang memesan untuk acara syukuran,” jawab Intan dengan semangat. 
“Syukur alhamdulillah kita panjatkan pada Allah SWT yang telah melimpahkan rezekinya hari ini, dan jangan lupa kita sisihkan untuk sedekah ke masjid ya, Nak,” ujar ibunya.
“Bu, besok bu Hasan mesan sayur untuk acara aqiqah anaknya, pesannya lumayan banyak,” ucap Intan pada ibunya.
“Alhamdulillah, bertambah berkah hendaknya rezeki kita hari ini ya, Nak,” ujar sang ibu.


Kain Perca Nayla
Prastuti Kartika Sari


Keriuhan anak-anak berseragam putih merah di halaman sebuah sekolah tidak membuat gadis kecil itu terganggu. Anak perempuan berkucir dua itu bahkan semakin larut dalam lamunannya. 
Tettt ... tettttt .... 
“Ah, istirahat sudah selesai,” gumamnya. 
Anak perempuan itu segera beranjak berdiri. Merapikan bajunya, sambil berjalan menuju kelasnya. Teman-temannya sudah berbaris di depan kelas. Dia cepat-cepat ikut berbaris. 
“Nayla, kamu itu darimana saja, sih? Aku cari kemana-mana tadi,” bisik anak perempuan berpita merah yang hanya dijawab senyuman oleh Nayla.
Nama anak perempuan berkucir dua itu adalah Nayla Aziza. Dia duduk di kelas 5 di SD Mutiara Bangsa. Anak yang berpita biru tadi adalah sahabatnya, namanya Elvira Renata. Mereka teman sekelas, bahkan duduknya bersebelahan. Elvira merupakan siswa pindahan dari Surabaya. Dia pindah di SD Mutiara saat mereka duduk di kelas 4. Sejak saat itu, Nayla dan Elvira berteman dekat. 
   Tidak terasa akhirnya pelajaran hari itu berakhir. Anak-anak segera membereskan perlengkapan sekolah, berdoa bersama, dan pulang ke rumah masing-masing. 
Rumah Nayla tidak begitu jauh dari sekolah. Setiap hari dia berangkat dan pulang dengan berjalan kaki bersama teman-temannya.  
“Aku kemarin sore beli kado bersama ibuku. Kamu sudah menyiapkan sesuatu untuk Elvira?” tanya Dira. 
“Ohh, belum, mungkin nanti,” jawab Nayla. 
“Pasti spesial nih, kan kamu sahabatnya,” jawab Dira.
 “Spesial pake telur dong, hahaha!” Rima menimpali. 
Nayla hanya menanggapi dengan senyum dikulum. Pembicaraan teman-temannya tentang ulang tahun Elvira masih terus berlanjut sampai di pertigaan jalan. Mereka berpisah dan berbelok ke arah rumah masing-masing.  


Kisah si Pengusaha Slime Cilik yang Dermawan
Diny Rosita Hidayati


Gerimis pagi mengantarkan langkah lesu Naya ke sekolah. Dua minggu lagi sekolah mengadakan enterpreneur day tapi dia belum memiliki ide apapun untuk acara itu. Saat memasuki gerbang sekolah, matanya menangkap segerombol kakak kelas yang bermain dengan serunya. Rasa penasarannya membelokkan kakinya menuju keramaian itu. 
“Wow!” seru Naya saat melihat Kak Rani meremas, menekan dan menarik sebuah benda liat seperti lendir tapi tidak lengket di tangannya. Teksturnya yang kenyal dan lentur membuat Kak Rani dengan gemas menarik benda itu dan membuatnya menjadi berbagai bentuk. Mata Naya semakin dibuat melotot karenanya.
Bel tanda masuk berbunyi membuyarkan sekumpulan siswa SD itu. Naya cepat-cepat menghampiri Kak Rani.
“Kak, apa nama mainan itu? Lucu banget.” 
“Slime, Dik,” jawab Kak Rani sambil menunjukkan botol kecil kemasan bertuliskan Slime.
Naya menuliskan nama mainan itu di buku kecilnya. Gadis berambut sebahu itu sangat penasaran dengan benda dalam botol kecil itu. Ingin sekali dia memilikinya. 
Sepulang sekolah Naya menghampiri dan bertanya pada kakaknya yang sedang asyik memindah hasil jepretannya  ke dalam laptopnya. 
“Kak Abien, di mana ya beli slime?”
“Ngapain beli Dik, bikin sendiri saja. Banyak kok tutorialnya di Youtube.”
“Masa? Pinjam komputernya kalau gitu”
“Bentar ya, habis magrib Kakak pinjamin. Tanggung nih sekalian mau upload foto-foto ini dulu ”
“OK deh. Eh bagus deh tampilan IG kakak.”
“Kapan-kapan deh Kakak ajari,” ucap lelaki yang lebih tua dua tahun dari Naya. 
Tak sabar menunggu magrib, Naya pergi ke dapur membantu mamanya mempersiapkan makan malam.
“Ma, boleh nggak Naya bikin slime?” Naya membuka percakapan.
“Apaan tuh? Kue?” tanya sang mama sambil membalik tempe goreng di wajan.
“Bukan Ma, itu mainan.”
“Oh, mainan. Boleh aja.”


Kue, Kue, Yuk, Beli Kueku!
Vitasari


Nala berasal dari keluarga pekerja kantoran. Ayahnya seorang pegawai negeri, sedangkan ibunya bekerja di koperasi desa. Nenek dari ibu mempunyai sebuah toko. Tiap liburan tiba, Nala akan membantu nenek berjualan. Ada gula, garam, beras, tepung, dan barang-barang dapur lainnya. Terkadang nenek juga menjual makanan seperti pisang goreng, singkong rebus, dan masih banyak lagi. Nala suka membantu nenek berjualan karena akan diberikan uang saku tambahan. Biasanya uang itu akan Nala gunakan untuk membeli buku cerita kesukaannya atau membeli mainan yang dia inginkan.
Di sekolah Nala hampir tidak pernah jajan di kantin. Ibu membekalinya dengan berbagai macam makanan dan kue-kue. Makanan kesukaan Nala adalah bakso dan donat. Ibu bilang bakso buatan ibu sehat karena tidak menggunakan penyedap rasa. Teman-teman Nala sering mencicipi makanan buatan ibu.
***

Kue-kue Penyelamat
Kezia Wulan


 “Tuhan, aku ingin seperti anak-anak lain. Aku ingin seperti mereka yang dapat bermain setiap hari.”
Ibuku selalu bilang, roda kehidupan selalu berputar, ada kalanya di atas dan ada kalanya kehidupan di bawah. Ibu bilang bahwa saat ini roda kehidupan keluarga kita sedang berada di bawah.  Tapi, apa benar ? Menurutku itu  tidaklah tepat. 
 Namaku Anggun, aku adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan konveksi milik Korea. Dari segala warna-warni masa kecilku, ada sebuah pengalaman amat berkesan yang hingga kini membekas dengan kuat dalam ingatan.
Aku anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahku seorang guru. Walaupun ayahku adalah seorang PNS, namun kehidupan keluarga kami dapat dikatakan jauh dari kata cukup. Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Untuk membantu ayahku memenuhi kebutuhan sehari-hari, ibuku sehari-harinya berjualan kacang goreng. Dia adalah perempuan luar biasa. Tak pernah sekalipun mengeluh karena kondisi yang ada.

Nenekku yang Gigih
Pujiyani


Sengatan matahari terasa panas dan sinarnya menembus etalase kaca dalam sebuah toko kecil. Toko itu bernama toko Azzahra.
Toko Azzahra adalah toko kecil yang letaknya sangat strategis tepatnya di area pintu masuk kampung kuliner yang sangat terkenal dan buka setiap hari. Toko Azzahra menyediakan berbagai macam barang dagangan dari makanan ringan, oleh-oleh khas daerah, alat tulis sekolah serta mainan anak-anak. Toko Azzahra merupakan saksi tempat perjuangan nenekku dalam membantu mencari nafkah untuk keluarga.
“Alhamdulillah ....” suara Nenek mengucap syukur.
“Ada apa, Nek?“ sahutku sambil mendekati nenek.
“Baru saja dagangan nenek laku banyak. Ada yang membeli singkong keju siap saji sejumlah 30 bungkus,” cerita Nenek ceria.
“Tolong tuliskan di buku penjualan nenek,” kata nenek sambil menyodorkan sebuah buku.


Pembeli Misterius
Rahmawati Lestari


   Tet … tet … tet .... Suara bel sekolah berbunyi sebagai tanda jam pelajaran selesai. Dengan tergesa-gesa Banyu merapikan perlengkapan sekolahnya. Selesai berdoa dan mengucapkan salam kepada ibu guru, Banyu berlari ke parkiran sepeda.
Banyu mengayuh sepedanya dengan cepat, tidak dihiraukannya lubang di jalan yang membuat sepedanya oleng. Tiga puluh menit lagi latihan futsal akan dimulai. Banyu tidak ingin terlambat datang dan mendapatkan hukuman lari keliling lapangan. 
Sampai di rumah, Banyu memarkir sepedanya sembarangan dan segera berlari masuk kedalam rumah.
“Assalamualaikum Umma, Banyu pulang,” ucap Banyu sambil masuk ke dalam kamar.



Penjaga Warung yang Hebat
Azhari Ibnu Haris


Siang itu, setelah selesai melaksanakan salat zuhur Ara bergegas pergi ke warung yang berada di depan rumahnya. Terlihat di wajahnya sisa air bekas wudu yang masih menempel. Setiap siang, gadis berkerudung yang berusia 10 ini tahun memang sudah ditugaskan oleh uminya yang bernama Umi Ita untuk menjaga warung. 
Sejak usia 8 tahun ia sudah membantu uminya berjualan. Harapan Umi Ita, supaya Ara memiliki sikap mandiri dan tanggung jawab membantu keluarga.
“Ra, kamu mulai jaga warung ya,” pinta Umi Ita.
“Iya Umi,” jawab Ara dengan hormat.
“Umi mau mulai nyuci bajunya,” tegas Umi Ita sambil pergi ke belakang



Pudot Pelangi Jingga
Suci Yulianty


Jingga begitulah namanya. Karena ia lahir ketika langit sedang berwarna jingga. Tepatnya beberapa saat menjelang magrib. Anak laki-laki berusia 8 tahun ini punya hobi memasak. Hobinya seringkali menjadi ejekan teman-teman lelaki sebayanya. Temannya menertawakan hobinya memasak itu. Menurut mereka anak laki-laki tak pantas punya hobi memasak. Memasak itu hobi anak perempuan. Begitu pendapat teman-temannya.
Bukan Jingga namanya kalau putus asa. Ia tidak peduli seberapa kali pun teman-teman mengejeknya. Bahkan ramadan tahun ini Jingga akan menjual hasil masakannya sebagai menu buka puasa. Beberapa teman Jingga menjauhinya, Jingga tak memikirkan semua itu. Ia terus menekuni hobi memasaknya. Kali ini ia akan menjual hasil masakannya. Uang yang ia dapatkan akan digunakannya untuk menyantuni fakir miskin di akhir ramadan nanti.
***


Sepeda Mijel
Yulia Entin Pratami


Teet … Teet… Bel berbunyi tanda sekolah usai hari ini. Semua siswa di kelas 6 mengemasi buku kemudian bersiap-siap pulang. Siang itu matahari bersinar begitu terik, sehingga cuaca menjadi panas. Arya bersama teman-temannya pulang berjalan kaki.
“Ah ... panas sekali hari ini, kalau minum es pasti segar nih,” kata Arya.
 Ya, dia adalah Arya. Seorang anak laki-laki yang gemar minum es kala cuaca panas. Tidak ada yang berbeda dari sosok Arya sebenarnya. Rambutnya kecokelatan dipotong pendek seperti tentara.
 “Teman-teman, mau main ke rumahku nggak nanti?” tanya Arya.
 “Boleh, sekalian mengerjakan PR ya, tapi aku pulang dulu. Belum pamit bunda nih,” jawab Akira. 
“Oke … aku tunggu ya. Jangan lupa lho, Ki!” kata Arya.
***


Si Manis Penjual Donat
Irma Tazkiyya


Kriing … kringg … kringgg ….
Suara bel sekolah berbunyi. Aku selalu datang ke sekolah lebih awal dari teman-teman. Masuk sekolah jam tujuh pagi, sedangkan aku selalu datang jam enam dan paling telat sampai jam setengah tujuh pagi. 
Sesampainya di sekolah langsung berjalan menuju kantin. Bukan untuk jajan, malah aku termasuk siswa yang jarang jajan. Aku ke kantin menaruh jajanan donat yang dibuat oleh ibuku. Ada sekitar lima puluh donat yang ditaruh di kantin sekolah. Aku membantu ibuku untuk berjualan donat. Aku sangat senang sekali berjualan. Apalagi setelah pulang sekolah melihat donat-donat di kantin terjual habis. Wah, lega hati ini dan pastinya senyum manis langsung merekah di bibir. Pulang membawa tempat donat yang kosong dan uang hasil jualan. Tak sabar ingin bertemu ibu di rumah. 
Saat ini aku duduk di kelas empat SD Negeri. Sekolah ini termasuk sekolah terfavorit di daerah sekitar rumahku. Konon, banyak sekali siswa berprestasi di sekolahku. Kakak kelas enam pun selalu lulus seratus persen siswa-siswinya dalam ujian nasional. 
Aku senang sekali sekolah di sini, teman-temanku sangat baik. Dan yang terpenting juga teman-temanku suka sekali dengan donat buatan ibuku. Banyak teman yang memesan donat langsung kepadaku karena setiap kali ke kantin sekolah, donat-donatnya sudah habis tanpa sisa. 



Siska si Penjual Donat
Tatie Rey


“Bu, apa aku boleh bawa donat lebih banyak?” tanya Siska saat Ibunya sedang menyiapkan bekal di dapur.
“Boleh, hari ini Ibu tambah dua donat, ya!” jawab Ibu.
“Asik! Terima kasih, Bu,” jawab Siska dengan riang.
Keesokan harinya, Siska minta ditambah lagi. Hal ini membuat Ibu agak heran. 
“Jadi hari ini Siska mau bawa berapa donat?” tanya Ibu.
“Enam Bu,” pinta Siska.
Begitupun hari berikutnya, Siska minta di tambahkan dua donat lagi untuk bekalnya ke sekolah.


Telur Asin Aneka Rasa
Agnes Kartika Yudiantari


Teguh, seorang siswa SD kelas V yang sebenarnya termasuk anak cerdas di sekolahnya. Di setiap akhir evaluasi sekolah, dia selalu masuk peringkat lima besar di kelasnya. 
Namun semenjak ada HP android baru di rumahnya, prestasi Teguh semakin menurun. Termasuk pada saat kenaikan kelas ini, Teguh hanya mendapatkan peringkat 12 di kelasnya. Saat liburan, sehari-hari Teguh hanya sibuk bermain HP. Teguh mulai membantah kalau disuruh melakukan kegiatan lain ketika dia sedang bermain HP. Bahkan sering pula dia marah dan uring-uringan ketika dinasihati oleh orang tuanya. Orang tua Teguh mulai khawatir dengan kebiasaan baru tersebut. 
“Pak, lihat si Teguh! Bawaannya main HP terus!” keluh ibu suatu saat kepada bapak. Dari jauh sang bapak melihat Teguh yang sedang sibuk menggerakkan jari jemarinya memainkan keypads. 

Tia Si Kurir Cilik
Ari Sulistiani


“Assalamualaikum ....” terdengar suara seorang gadis kecil memasuki sebuah rumah.
“Walaikumsalam, Eh Tia, mau pinjam sepeda, ya?” jawab seorang wanita dari dalam rumah tersebut.
“Iya Bude Sri, Tia mau pinjam sepedanya mas Teguh,” jawab gadis kecil itu.
“Ambil saja Tia, itu ada di samping rumah. Mau mengantar jahitan kemana Tia?” tanya Bude Sri.
“Ke rumahnya Bu Susi,  Bude. Rumahnya agak jauh dan ini sudah jam 3. Tia harus berangkat mengaji jam 4. Jadi Tia pinjam sepedanya mas Teguh ya, Bude?” jawab Tia sambil tersenyum.
“Iya Tia, dipakai saja hati-hati di jalan ya,” jawab Bude Sri
“Iya Bude, terima kasih banyak. Assalamualaikum,” kata Tia sambil keluar menuntun sepeda mas Teguh.
***

Tentang Buku Kecil-Kecil Jago Jualan 



Judul: Kecil-Kecil Jago Jualan 
Penerbit: Mandiri Jaya
Pengarang: Suci Yulianty, dkk
Penyunting : Nisa Yustisia
Tahun: 2019
Halaman : 218 Halaman


Bagi yang ingin memesan buku ini bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi 

Powered by Blogger.