-->
Menu
/

www.MomsInstitute.com - Denting waktu ibarat pahatan kisah yang beraneka rasa. Bahwa perjalanan hidup seseorang itu berbeda, ada kalanya bahagia menyapa dan duka menghampiri. Namun, ingat selalu ujian itu akan beriringan dengan kekuatan yang semakin bertambah atau sebaliknya menyerah. Baca kisah-kisah inspirasi dari penulis Denting Waktu.


MENGEJAR WAKTU
Oleh: Sofyan Hadi



“Jika waktu berjalan sangat cepat, hal apa saja yang ingin dilakukan, kau kejar, dan kau inginkan?” tanya temanku. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang dalam pikiranku beberapa hari ini. Pertanyaan sederhana tetapi sangat menggelitik hati dan pikiran.
“Cepat kerjakan! Besok pagi laporannya harus sudah ada di meja saya.” Atasanku memberikan instruksi dengan suara agak sedikit keras ketika beliau mampir ke ruangan kerjaku, membereskan laporan keuangan salah satu kegiatan pelatihan SDM karyawan.  

Di Batas Kerinduan
Oleh: Afdheli Hasni


Asih melepas anak bungsunya dengan netra berkabut. Dihapusnya bulir-bulir bening yang mulai mengalir. Batinnya menolak untuk mengucapkan kata-kata perpisahan.  Namun, tekad kuat Rangga untuk mencapai cita membuat Asih tidak kuasa menghalangi langkahnya sang anak.
”Aku pamit, ya, Bu,” ucap Rangga pelan. Dia mencium punggung tangan Asih dengan takzim. 
Asih menatap tak berdaya. ”Hati-hati ….” 
Cuma itu yang terucap dari bibirnya. Dielusnya kepala Rangga penuh kasih. Hatinya tak putus memunajatkan doa, berharap kebaikan untuk anak tercinta.


Sesal
Oleh: Asri Wening

Andai aku telah menjadi seorang yang bijak sejak dahulu, tentunya tidak akan pernah menyesali semua kebodohanku pada masa lalu. Namun, aku bukanlah seseorang yang sempurna, yang dapat bertindak secara bijak di usia muda. 
Kini, hanya sesal berkepanjangan yang ada di depan mataku. Dia telah tiada meninggalkan sejuta kenangan yang tak kan mungkin dapat terulang, sekali pun telah ribuan kali kuminta. Walau ribuan rasa penyesalan telah kutumpahkan dan ratusan kata maaf yang terucap, tak mungkin dapat menghidupkan kembali sesosok tubuh dingin yang terbujur kaku di atas meja itu. 


Menanam Benih Kebaikan
Oleh: Atika


 “Nak, cukuplah bagi kami jika engkau tahu bahwa ayah dan ibu mencintaimu.”
“Aaliiim!!” teriakan Aisyah yang memekakkan teliga membuatku tersentak kaget. Hampir saja aku menjatuhkan panci berisi sayur panas yang baru kuangkat dari atas kompor. Segera kuletakkan pancinya di atas meja dapur dan bergegas ke kamar Aisyah. 

Aku ingin berteriak mengingatkan Aisyah untuk tidak mengulangi kebiasaan buruknya itu.  Teriak-teriak nggak jelas, tetapi aku masih sempat berpikir dan jadi malu sendiri. Aku hampir saja berteriak untuk melarang anakku berteriak. Lha ... jadi lucu. Apa kata tetangga nanti, mereka akan mengira kami ini keluarga turunan Tarzan. Teriak kok hobi, hehehe, berjamaah lagi.


Tak Ternilainya Waktu
Oleh: Endah Murtiningrum


      Waktu adalah segalanya, hingga tak ternilai harganya. Kau tidak bisa memilikinya, kau bisa menggunakannya. Namun kau tak kan pernah bisa menyimpannya, tapi kau bisa memanfaatkannya sesuka hatimu. Jika kau sampai kehilangan dirinya, kau tak akan bisa mendapatkannya kembali.
    Begitulah kondisiku saat itu. Berkutat dengan waktu selain ilmu dan kesabaran. Aku membutuhkan ketiganya untuk menghadapi masalah yang sudah terhidang di hadapanku. Masalah yang kuingkari keberadaannya hampir lebih dari sebulan. Istilah kerennya, tapi yang sungguh tidak keren kenyataannya, adalah denial.

 

Tiga Hari
Oleh: Esterina Nurjanti


Hai, namaku Leita.  Aku bekerja di sebuah majalah terkenal di Kota Yogyakarta. Aku mempunyai seorang teman kantor yang sering menghabiskan waktu senggang di sebuah kafe yang terkenal di pinggir kota. Kafe yang sangat ramai dikunjungi banyak pemuda pemudi tiap malam dan membuatku penasaran. 
Malam itu kulihat seorang gadis mengangkat tangannya kepada sang bintang panggung. Pianis dan penyanyi kafe itu yang ramai dibicarakan oleh teman-teman kantorku. Permainan piano dan suaranya yang memukau membuat teman kantorku jatuh hati dan sering mengunjungi kafe itu sepulang kerja. Gadis berambut pendek dengan kalung hitam di lehernya yang mengangkat tangannya yang duduk di sebelahku itu me-request sebuah lagu untuk seseorang yang dirindukannya. Semua pengunjung bersorak dan bertepuk tangan. Gadis itu tersenyum dan terus memandang pianis itu. Aku bisa merasakan perasaan gadis itu sangat menyukai pianis itu. Aku jadi iri kapan aku bisa merasakannya lagi. 


Menjemput Impian
Oleh: Istarocha Khoirurrokhmani


‘Aun bin Abdullah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kita mencukupkan untuk dunianya hanya dengan sisa kehidupannya untuk akhirat mereka, sedangkan kalian mencukupkan untuk akhirat kalian hanya dengan sisa hidup kalian untuk dunia.”
Apa impian Anda hidup di dunia ini? Apakah hanya sekadar mengejar kebahagiaan dunia yang sejatinya hanya sebuah kesenangan yang semu? Jika waktu berjalan sangat cepat, saya ingin bahagia dunia akhirat. Bukankah kita boleh mengejar dua-duanya? 

Memahami Diri
Oleh: Wulan Asih Madyani


Waktu telah cepat beranjak pergi, sedangkan hati muramku masih saja tertegun di sini. Bukankah rugi tanpa melakukan apa pun dalam sedetikmu yang berlalu? Termasuk untuk memaafkanmu?

Sering sebuah friksi datang dalam kehidupan pernikahan, bahkan tak sedikit kekuatan iman dalam menghadapinya bisa goyah. Apalagi jika cinta tak dipupuk dan disemai di antara keduanya. 

Awal kehidupan menikah mungkin terasa indah, namun menyemainya hingga akhir hayat itu yang tidak mudah. Itu yang kurasakan. Aku di usia pernikahan dengan hitungan belasan, hingga kini masih belajar memahami diri sebagai istri sekaligus ibu. Bagaimana menjadikan aku manusia baik yang terus belajar menjadi lebih baik karena Allah dan berharap untuk akhir kehidupan yang husnul khatimah.


Pertolongan Allah itu Dekat
Oleh: Yunita Dury


Aku merenung, menelusuri isi relung hatiku. Air mata mulai menggenang, rasa cemas dan takut kehilangan menghampiri. Aku bingung, jalan mana yang harus kutempuh. Apakah ini jalan yang Allah kehendaki? Apakah orang tua akan merestui jika aku melanjutkan hubungan ke yang lebih serius meskipun usiaku masih belia? Sungguh aku tak pernah menduga hal ini akan cepat menghampiri. 
Matahari mulai meredup, semburat jingga di ufuk senja. Murid-murid kelas 3D (sebutan untuk saat ini, kelas IX) sedang serius mengerjakan soal latihan Matematika, persiapan ujian mid-semester ganjil.  Empat puluh lima menit waktu berlalu, bel sekolah berdering. Murid-murid bergegas membereskan buku-buku dan alat tulis, bersiap untuk pulang. Pelajaran diakhiri dengan doa bersama dan bergiliran menyalami guru.


Bagi yang ingin memesan buku bisa langsung pesan ke nomor 0812-1400-7545 atau langsung klik di PenerbitMJB

Salam Inspirasi




Powered by Blogger.